Selamat Ulang Tahun Hendra Setiawan!

Selamat ulang tahun kokoh paling jago sedunia.

Selamat ulang tahun Hendra Setiawan.

Semoga semakin banyak podium juara, semakin jago, semakin kompak sama bang Ahsan, bisa menaklukkan Olimpiade Rio 2016 (semoga saya juga bisa liputan ke sana) huhu.

20150816PBSI_BWF WC_HENDRAAHSAN8Well bicara tentang sosok seorang Hendra Setiawan. Hufff, angkat tangan tinggi-tinggi deh. Angkat topi juga semuanya. Level atlet dengan prestasi yang sudah lengkap di nomor individu, Hendra adalah Hendra. Yang baik hati, tidak sombong, murah senyum dan menenangkan (semua deskripsi tersebut dalam arti yang sebenarnya, bukan berlebihan).

Dengan kesempurnaan prestasi, Koh Hendra tetap rendah hati. “Belum kok, saya belum lengkap. Belum pernah juara PON soalnya,”.

Yeaariteee koh. Di tengah prestasi sebagai juara dunia (2007, 2013, 2015), juara Olimpiade 2008 (calon juara Olimpiade lagi nanti 2016 amin), juara SEA Games (2005, 2007, 2009), juara Asian Games (2010, 2014), juara All England 2014, berbagai titel Super Series dan sejuta kejuaraan lainnya. Ada juga koh yang belum, juara Sirkuit Nasional .__.

Bercerita (lagi) tentang sosok Hendra Setiawan. Koh Hendra bisa dibilang panutan yang baik buat atlet-atlet. Super ramah, baik dan rendah hati. Idola banget sepanjang masa, nggak pernah kelihatan marah, nggak pernah ngedumel, dan tetap baik hati walaupun sama butiran debu kaya gue haha (penting).

“Koh Hendra itu paling oke pokoknya di antara semua atlet yang ada, sampai saat ini. Nggak sombong dan nggak jaim di depan juniornya. Hebat lah pokoknya,” kata salah satu atlet ganda putra yang gue rahasiakan namanya (haha penting abis, biar seru rahasia-rahasia).

Karena paling dewasa dan tenang dan keren dan jago dan lain-lain, Koh Hendra juga sering didaulat jadi kapten tim. Waktu itu untuk Thomas Cup di India dan Sudirman Cup di China.

IMG_7316
Tim Sudirman Cup 2014

Pernah di satu kejuaraan, lupa dimana. Kalau nggak salah pas ke Dubai, BWF Super Series Final, turun pesawat, kita harus nunggu bus yang jemput. Belum dateng. Agak lama luntang-lantung, kelaperan, haus, pegel, semua-mua deh rasanya. Mau jajan, gue belum nuker duit. Mau nuker duit tapi takut lama dan tiba-tiba penjemput dateng, agak-agak serba salah. Jadi yaudah pasrah aja nunggu. Semua pada nunggu, berdiri jagain koper.

Terus Koh Hendra sepertinya pergi ke minimarket di bandara, sendiri, eh apa berdua ya sama siapa gitu. Terus balik balik bawa dua kantong kresek, isinya minuman sama roti. Dibagi-bagi ke semuanya, dan gue juga dibagi. Huaaaa. Sebagai fans (berkedok apalah apalah) gue langsung meleleh. Beberapa atlet yang masih lebih muda dari Koh Hendra juga jadi nggak enakan, “Eh koh, makasih koh, maaf ngerepotin,” “Koh kok nggak bilang-bilang, saya jadi nggak enak,” dan lain-lain.

Sementara gue, “Eh beneran buat saya koh? Yaampun, makasih banyak koh. Eh tapi bener nggak papa nih koh. Huaah, ini bakalan saya tulis di diary, saya dibeliin minum sama juara Olimpiade dan juara dunia,” terdengar berlebihan? Enggak lah ya. Emang beneran super nggak enak sih, dan bahagia (apalagi pas banget lagi super kehausan melanda jiwa) haha.

Abis itu, pas kebetulan Ahsan lagi nggak fit, ditambah harus berdiri lama jadi kayanya makin kelelahan. Terus Koh Hendra, “San itu bangku kosong di sana, duduk aja dari pada capek,” huaaaaa. Bener-bener kapten tim sejati. Perhatian sama partner, kece, oke dan banyak lagi pokoknya keren lah. Hahaha. Posisi gue makin aneh, setelah tadi meleleh, kemudian gue berguling-guling kaya cacing kepanasan ❤

IMG_1298
Ini pas baru berangkat ke Dubai, masih di Changi Singapore

Hendra Setiawan itu cocok banget jadi role model buat atlet-atlet muda. Dengan segudang prestasi tetep baik hati, mau nyapa duluan, nggak sombong, penampilannya juga sederhana.

Padahal menurut gue wajar banget loh, kalau misalnya Koh Hendra pake barang-barang mewah, bermerk, super mahal. Tapi dia nggak menunjukkan itu (Well, fans Hendra Setiawan silahkan semakin klepek-klepek). Hendra tetap apa adanya (beneran seapa adanya).

Udah gitu sayang anak super-super. Yah semua orangtua udah pasti banget sih sayang sama anaknya. Cuma karena ditambah dari sosok Koh Hendra, rasanya semakin istimewa deh, haha. Gue follow instagram Koh Hendra dan pastinya istrinya, Ci Sansan. Akkkk, pusing pusing.

Di dalem lapangan dengan kharisma sebagai juara dan pemain kelas atas, di rumah Koh Hendra bisa “takluk” sama anaknya. Si kembar Richard dan Richelle. Super cute. Apalagi Richard kelakuaannya mirip-mirip Minguk (triplet Korea, pada tau nggak? Kalau enggak googling aja, intinya lucu) haha.

Istri Koh Hendra juga ramah, super heboh (ini keliatan berkebalikan sih sama koh Hendra haha), baik hati dan nggak sombong. Walaupun gue ribet-ribet requestnya. Pas habis podium juara dunia 2015 kemarin, “Ci foto ya sekeluarga sama Koh Hendra sama Richard Richelle juga, buat di website Ci, sama bang Ahsan dan istrinya juga,” kata gue menodong.

“Oh iya oke-oke,” sambil ribet gendongin Richard dan manggil-manggil Richelle. Duo R waktu itu lagi super rewel karena ngantuk haha.

Taraaaa…

20150816PBSI_BWF WC_HENDRAAHSAN sekeluargaApalagi ya tentang Hendra Setiawan? Hem yang pasti Koh Hendra nggak pernah nolak kalau gue todong minta foto kalau habis podium juara. “Koh foto dong saya, boleh ya koh haha,” gue mesam mesem.

“Iya boleh dong, masa nggak boleh,” tetap ramah dan senyum. Bang Ahsan juga baik hati, mau haha.

“Koh saya pinjem medalinya dong, dikalungin ke saya boleh? Haha,”

“Ini nggak papa pake aja,”

“Koh sekali lagi ya, ganti pose, yang ini lebih bahagia koh haha,” atau “Koh yang sekarang freestlye ya. Bang Ahsan gaya bebas ya,” sungkem.

“Hahaha, ini foto berbagai pose banget, kaya nggak pernah ketemu aja di sehari-hari,”

Sungkem. Ya kan beda koh, bang, momennya 😀

Biarin lah ya. Mumpung bisa deket-deket, hajar bleh haha. Dimana kan gue juga harus bersaing dengan ribuan fansnya Koh Hendra haha, sorry guys. Hendra fansnya lintas benua lintas negara. Dimana-mana banyak yang ngefans. Dimana-mana banyak yang minta foto, minta tandatangan. Uwow uwow, super.

IMG_7598
Di bandara di China, Hendra didatengin fansnya

Aaah, banyak banget yang mau diceritain lagi tentang Koh Hendra dan mungkin nanti atlet-atlet lainnya. Kapan-kapan deh ya.

Pamer dulu deh foto sama pasangan daddy-daddy kece itu.

IMG_0925
All England 2014
IMG_8526
Asian Games 2014 di Korea
IMG_1278
Kejuaraan Dunia 2015

Selamat ulang tahun kokoh kece sepanjang masa! Happy birthday captain!

Advertisements

Menata Ulang Abis Liburan

Ohaiyoo. Sekarang tanggal 5 Syawal 1436 H. Hari pertama masuk kerja lagi setelah libur-libur deg deg ser, alias walaupun libur tetep mikirin kerjaan.

Mohon maaf lahir dan batin buat kamu semua. Dan sebaliknya dosa-dosa dan kesalahan kalian udah gue ampunin. Baik kan gue.

Hari ini baru cek-cek email lagi dan langsung sakit perut. Selama liburan gue bertekad nggak mau ribet sama kerjaan, nggak mau buka-buka email, pokoknya bye buat semua, kecuali wassap “cinta” yang tak bisa kutolak.

Jadilah hari ini parno menggila. Website abal-abal gue udah masuk masa expired, nggak bisa dibuka. Padahal ada cita-cita luhur dan tulus dalam website cantik gue itu. Harus diurus rempong lagi, ah menyebalkan. Gue nggak ngeh notifikasinya, karena nggak buka email. Jadi aja bubar.

Yang kedua email bikin sakit perut adalah, email-email tagihan yang sudah bergentayangan. Mulai cek-cek atm, pembagian peruangan untuk disebar-sebar (Blah, macam banyak duit aja lo cong). Sama itung itung, ini duit apa ya, ini udah beres belum ya. Yah gitu deh bok, seandainya gue keluarga Bakrie mungkin urusan gue ini hanyalah butiran debu. Ribet-ribet cingcai.

Hari pertama kerja langsung meeting “cinta” berhubung super banyak event di bulan Juli-Agustus-September. Kreeeeettt (kencengin ikat kepala).

“Naf yang ini gimana?”

“Naf yang ini udah?”

“Menurut kamu gimana?”

“Yang belum apalagi ya?”

Begitulah kira-kira menyambut hari bahagia di minggu kedua Agustus. Semoga lancar ya bok semuanya.

Pada intinya hari ini gue agak kelabakan sebenernya. Dengan beberapa urusan lain dan janji janji tak tentu arah. Untungnya gue anaknya cekatan, sigap, ulet, membanggakan dan bisa diandalkan, jadinya set set seeeettt, kerjaan beres.

(ngarep)

Ahhh, by the way. Agustus ini semoga momennya membahagiakan. Semoga September menjadi ceria, Oktober, November, Desember dan tahun tahun berikutnya juga lancar jaya. Mari berdoa. Doakan aku, nanti aku doakan kamu juga. Kalo kamu nggak doain, aku tetep doain kamu. Karena aku mah baik orangnya.

Ya kan?

Bye.

IMG_8408
Gambaran hati saat ini, gelap tapi bercahaya (Karena terdengar alay, jadi langsung sungkem deh) Misi om..

Selamat Pagi Singapura

Suatu hari di restoran cepat saji.

Si Ayah asik dengan laptop dan tumpukan kerjaannya. Ibu sibuk dengan smartphone menonton drama. Kakak terus heboh di sosial media juga dengan smartphonenya. Adik bolak-balik lari kesana-sini.

Selamat pagi Singapura,

dari yang rindu Jakarta dalam waktu lama.

IMG_5529

Gue lagi nunggu jam 9 pagi, nunggu jam kantor buka, janjian sama orang. Ngeliat pemandangan kaya gitu, bikin gue berdoa lamat-lamat dalam hati. Semoga nanti tidak seperti itu.

Selain rindu Jakarta, juga rindu lontong sayur, sambel terasi, semur jengkol muda, cimol, es campur arundina, ikan bumbu bali buatan nyokap, selimut di kamar atas, rindu berantem sama adik nomor satu nomor dua nomor tiga nomor empat nomor lima nomor enam, rindu disetirin bokap, juga rindu dia. Salah. Maksudnya rindu kamu.

Kalau gitu sekarang makan es krim aja dulu. Yang paling tenar kalo ke sini.

IMG_5508Mari.

Mencari Inspirasi

Nyari inspirasi jam segini itu itu menurut gue terlalu mengada-ngada untuk jam segini, jam segini coy, jamnya tidur. Sekarang udah jam 12.02 AM sejak gue menuliskan huruf pertama. Ngantuk sih udah, nggak konsen apa lagi. Tapi tumpukan cinta (baca: kerjaan) gue belum mau habis-habis juga.

Ini lagi jeda bentar, biar lebih seger. Nyetel musik keras-keras sambil nyanyi itu efektif banget deh ya (maap maap deh sama yang sebelahan sama gue kamarnya, ini demi hidup dan persatuan bangsa). Itung-itung latihan, kali aja gue diajak duet sama om Bruno buat nyanyi.

Eh tapi sebenernya, bener juga sih. Gue ralat pernyataan gue di atas barusan. Nyari inspirasi malem-malem itu paling pas lagi. Ide-ide cemerlang untuk mempersatukan negri matahari dan negri awan kinton itu muncul nggak habis-habis, sampe tumpah-tumpah nih idenya. Bantuin tampung dong. Yang baik ntar gue doain murah rezeki sama panjang umur, beneran nih. Amin ya gue aminin nih.

photo
ini nih pemandangan yang lagi gue hadapin depan mata gue sekarang

Katanya sih sebanyak-banyaknya kerjaan nggak akan selesai kalo cuma diomongin, bukan dikerjain. Ini gue dalam rangka membuktikan teori itu. Ternyata bener, nggak beres-beres kerjaan gue karena gue malah nulis diary nih, haha.

Itu siapa sih penemu teori itu? Keren banget ih, gue pas ngebuktiin aja sampe terheran-heran. Waw, beneran ternyata. Maulah ketemu terus foto bareng terus minta tanda tangan.

Bentar gue kerja lagi.

(10 menit kemudian)

Lumayan nih udah berkurang dikit. Di lorong persediaan makan gue ada roti coklat sebiji, energen berbungkus-bungkus, coklat sebatang, tolak angin sekotak, biskuit 2 bungkus kecil, plus menu makan hotel yang bisa gue pesen sewaktu-waktu.

Perjuangan gue malem ini berat banget nih. Nahan ngantuk sama nahan biar nggak ngemil. Jangan makan fay jangan. Demi langsing 2015 kaya Hyuna. Yoshhh!!!

Bentar gue kerja lagi.

(Kerja 15 menit, ke kamar mandi 3 menit, nyalain tv tuker-tuker channel 2 menit)

Besok ngomong-ngomong gue harus bangun pagi nih sebenernya. Gue ngebut dulu deh kerja. Bentar ya bentar.

Eh gue stop lagi kerjanya, playlist gue lagi muter lagunya Bruno Mars yang When I Was Your Man. Terus sedih, terus jadi ikutan nyanyi-nyanyi dulu, jadi pause bentar kerjanya. Sedih banget sih bang. Sabar ya, makanya jangan begitu-begitu deh.

(15 menit kemudian)

Yeah. Udah beres banget nih kerjaan gue. Terus lagi beres-beres persiapan besok, masuk masukin kamera, cek lensa dan temen-temennya. Laptop baru dimasukin terakhir. Karena ini masih dipake nulis. Kalau langsung dimasukin kepotong dong ini tulisan gue. Udahin aja apa ya? Besok kan harus jalan lagi. Yaudah deh. Bye. See you soon ❤

photo(1)
penampakan haha. alhamdulillah beres yeay

Niat abis gue, pake jilbab ngasal dulu buat foto. Haha. Good night babe.

Umur Sudah Ada Yang Atur

Huah, itu aja deh yang gue inget-inget selalu, kalau dalam keadaan menegangkan, kalau lagi tengah-tengah berbuat dosa, kalau lagi bahagia juga sama. Enak kali ya, kalau mengakhirinya pas lagi bahagia-bahagia aja.

Kalau lagi menegangkan, di perjalanan jauh, lagi di mobil, kereta, kapal atau pesawat, gue kaya hufff, yaudahlah ya, menyerahkan diri sepenuhnya sama pemilik-gue-yang-sebenar-benarnya. Setiap mau perjalanan jauh aja misalnya, gue selalu berdoa bener-bener, kurang-kurangin bikin dosa (lah ini mah harus setiap saat ya haha), mikir positif, ikhlasin semuanya. Begitu dan selalu begitu.

Setelah adegan packing ribet ((yang selalu kena omel nyokap (kadang bokap) karena males banget buat beres-beres persiapan)) perjalanan ke bandara, check in, gue selalu kontak nyokap, bokap dan ngabarin grup keluarga gue di wassap. Itu semacam wajib hukumnya bagi gue. Selain karena gue anak nyokap-bokap, gue pengen kalau nanti umur gue berhenti di perjalanan (ini serius) dan gue nggak sempet ketemu mereka lagi, gue pengen mereka lah yang paling tahu posisi gue, dan merekalah orang yang terakhir gue kabarin.

Di samping ntar gue juga ngabarin sahabat-sahabat gue, buat minta doain (hehe) keliatannya simpel tapi menurut gue itu wajib. Orang-orang yang terakhir gue kabarin haruslah orang-orang penting dalam hidup gue. Melow banget gue haha.

Gue ngabarin sedetail udah sampe bandara (kalau nggak dianter), udah check in, udah lewat imigrasi (kalau ke luar negri), suasana hati dan pikiran (lagi makan dulu+sakit perut+ngantuk+ada barang yang ketinggalan+dll), mau boarding, dikit lagi boarding (naik pesawat terus matiin hape), transit dimana, sampe kapan, abis ini kemana lagi, foto boarding pass, nyampe, nunggu taksi atau jemputan, nyampe hotel, sampe bener-bener (oke aku tidur dulu). Sesering mungkin kalau nggak mau abis itu nyokap gue teriak-teriakan di wassap (canggih banget nyokap gue teriak via chat loh, bukan voice note). Awalnya cuma buat nenangin nyokap aja, lama-lama kaya mewajibkan diri sendiri.

Masa-masa take off dan landing juga jadi hal yang paling menegangkan buat gue, dan katanya masa kritis di dalam pesawat ya. Meskipun bolak-balik naik pesawat dan terlalu sering di atasnya, tetep aja bok gue parno (walaupun kadang juga nggak nyadar sih, naik pesawat naro barang, pasang sabuk pengaman, terus ketiduran, bangun-bangun udah nyampe, ini juga sering) 😀

Kabar pesawat Germanwings beberapa waktu lalu gue liat di tv bikin gue semakin, iya iya, gue harus siap dengan segala situasi. Gue naik pesawat yang sama saat gue dari Dusseldorf ke Birmingham kemarin. Terus mulai lah gue mikir yang aneh-aneh. Bok kalau gue ada di situ gimana ya?

Atau kasus pesawat MH 370, atau kasus QZ 8501, atau kasus-kasus seputar per-pesawatan lain.

(semoga para korban diterima di sisi Allah SWT, untuk keluarga, kerabat dan sahabat yang ditinggalkan bisa ikhlas dan dikuatkan, amin)

Gue harus siap kalau mesin pesawat rusak, ada yang skip, pilotnya ngantuk, co pilot nya abis putus cinta, penumpang ngamuk rusak pesawat, dibajak, ditembak pesawat lain karena dikirain musuh, diculik alien, diculik agen khusus buat dicuci otak, kesedot black hole, nabrak burung, nabrak tebing, bahan bakar abis, percobaan pembunuhan massal, atau apapun itu di pesawat yang bikin gue udahan. Huh hah.

Tapi ya itu tadi, gue selalu inget, umur sudah ada yang atur. Ikhlasin aja. Nggak cuma pas di pesawat atau perjalanan sih. Siap harus kapan aja, karena siapa yang tau coba?Processed with VSCOcam with f2 preset

Sebelum naik pesawat selain urusan kerjaan dan perintilan-perintilan nggak penting, pasti udah gue mandatin ke adek gue. Ini ada di situ, itu ada di sini, kalau begini tolong begitu, kalau begitu tolong begini (belum semua sih, tapi dikit-dikit).

Gue pernah naik Lion Air kalau nggak salah (lupa) dari Jakarta ke Riau buat liputan PON dulu. Pilot udah ngumumin buat landing, pesawat udah agak menukik juga siap-siap buat turun, tiba-tiba, wiuuz, muter parah dan naik lagi. Itu berasa banget bok, mau pingsan gue. Orang-orang sepesawat udah pada baca-baca. Kita terbang lagi, transit di Polonia, Medan sebelum akhirnya balik ke Riau. Itu snack jualan Lion Air yang mahalnya ampun-ampunan sampe abis tak bersisa, rebutan dibeli penumpang. Karena perjalanan lebih lama dan nggak sesuai perkiraan. Gue sampe kelaperan pengen ngamuk. Cuma karena suasananya tegang, gue cuma bisa duduk lemes. Lemes takut sama lemes kelaperan.

Jadi itu pas cuaca buruk, hujan deres, lintasannya licin, dan gue nggak ngerti itu pilotnya baru dikasih tau apa gimana. Masa udah siap-siap turun, tiba-tiba muter nanjak yang bikin perut mules.

Naik pesawat kalau ke arah Sumatera atau Indonesia Timur itu yah siap siap aja deh. Turbulens dan kawan-kawan. Banyakin zikir aja.

Pas ke Manado sama temen-temen gue, turbulensnya ampun-ampunan. Ada kali sepanjang perjalanan nggak berhenti. Kita ada sekitar 10 orangan kali ya, duduk deket-deketan, ada yang sebelahan, sampe nggak ngomong satu patah kata pun. Diem sepanjang perjalanan sambil pegangan di kursi masing-masing.

Sesekali saling lirik, tatapan pias tapi juga nggak ngomong, sibuk doa masing-masing saking kencangnya.

Pas udah sampe baru pada bisa napas, teriak-teriak Allahuakbar, alhamdulillah, astaghfirullah dan macem-macem. Sampe peluk-peluk segala. Update-an path langsung aneh-aneh dan gila. Bersyukur bisa selamat. Mungkin kita masing-masing udah mikir bakal lewat, Ya Allah.

Huff.

Gue juga pernah dulu pas SMP apa SMA gitu lupa. Sama nyokap sama adek gue yang pertama, kita naik kereta ke Semarang atau Kudus atau kota mana gue lupa. Lari-larian di Gambir karena telat, masuk ngejar-ngejar kereta yang udah mulai jalan pelan. Happ. Sampe di kereta. Dududu~ Karena bahagia-bahagia aja mau jalan ikutan nyokap, abis suasana rempong kita langsung pesen makanan. Milih ini itu, ambil ini itu.

Tiba-tiba grabak-brubuk, jegar-jeger, keretanya bergoncang kuat banget, batu-batu di luar kereta loncat-loncatan kena jendela. Barang-barang di bagasi atas juga mulai jatuh-jatuhan. Dorongan makanan dan minuman yang dibawa mba-mba petugasnya langsung oleng. Air-air minum tumpah ke adek gue yang duduk di pinggir. Satu gerbong langsung panik.

Ada apaan ini?

Saat itu gue ngerasa. Oh oke. Selesai ini gue. Bokap gue sendiri sama adek-adek gue yang lain. Secepat itu gue mikir kesana karena kereta itu oleng udah ampun-ampunan. Gerbong gue jalannya udah nggak di atas rel lagi.

Bla bla bla. Akhirnya kereta berhenti. Ternyata gerbong yang gue naikin keluar dari rel. Gerbong kita diputus, kita pindah ke gerbong depan. Yang di gerbong depan selow-selow aja nggak tau apa-apa. Ternyata mereka nggak ngerasain dan malah bingung kenapa berhenti. My god. Gitu deh pokoknya.

Naik mobil dan kecelakaan juga pernah. Huf. Ini pas kuliah, gue perjalanan dari Bandung mau pulang ke Depok dengan salah satu travel. Mobil emang lagi melaju kenceng di sebelah kanan. Terus di depan kita ada yang tabrakan kalau nggak salah, supir travelnya langsung banting setir ke kiri. Blassssss. Kita malah ditabrak juga sama mobil lain yang juga ngebut. Bagian depan dan bangku supirnya hancur blas. Tapi supirnya alhamdulillah nggak kenapa-kenapa. Hanya luka-luka ringan, tapi tetep bikin ngilu.

Gue duduk di tengah sebelah pintu bagian kiri. Gue langsung gemeteran karena awalnya gue pesen kursi ke travelnya buat duduk di depan, tapi pas naik mobilnya tiba-tiba pengen pindah ke tengah karena ngantuk. Biar bisa tidur enak. Kalau duduk sebelah supir terus tidur rasanya nggak enak aja. Gue enak tidur, bapak supir kerja. Pindah lah gue ke tengah.

Ah gue sampe ngeri buat berandai-andai kalau gue tetep duduk di depan. Astaghfirullaaaah. Ya Allah nggak tau lagi deh.

Yang bikin sebel adalah petugas xxxx-nya yang dateng terus bilang, “ini mau diperkarakan ke polisi apa ga? Kalau diperkarakan bisa ribet loh, bla bla bla….” intinya kita nggak dibantu. Emang dasar k**pret.

Mobil travel tetep jalan pelan-pelan-super-banget dengan kondisi ancur di depan. Dan di depan salah satu gerbang tol kita dijemput sama mobil lain dari travel yang sama.

Gue langsung bbm bokap gue dan bla bla bla, nangis.

Pernah juga dulu pas kuliah gue naik bus sama anak-anak BEM Unpad, gue lupa sama anak kampus lain juga apa nggak. Kita mau demo ke Jakarta (gue anaknya demo banget lah dulu, sampe bolos-bolos kuliah, begitu). Gue nggak tau siapa yang salah karena kriyep-kriyep tidur di bus, tiba-tiba, dasssss, bagian belakang bus dihantam sama truk. Kaca bus belakang pecah dan kena beberapa temen gue yang di belakang, luka berdarah-darah. Dan truknya kabur seinget gue.

Untungnya ada anak keperawatan yang ikutan, temen gue yang luka itu langsung dibersiin lukanya, dapet pertolongan pertama. Setelah panik-panik akhirnya tetep lanjut ke Jakarta, dan temen gue yang terluka (luka dalam hati yang tersayat) juga tetep ikutan aksi. Gile kan totalitasnya. Hehe. Begitu.

Kalau naik kapal dulu pernah pas masih kecil kecil, alhamdulillah nggak kenapa-kenapa sih, semoga jangan pernah. Paling karena musim ombak aja, jadinya agak terombang-ambing di tengah laut.

(ceritanya darat, laut dan udara banget gue)

Intinya setiap mau melakukan perjalanan, ada banyak yang bergejolak dari hati sama pikiran gue. Seneng karena akan melakukan perjalanan, bisa ke tempat baru, ketemu orang baru, banyak yang baru-baru (baju baru, buku baru, mainan baru, haha), tapi ketir juga di proses perjalanannya. Lalalala~ Gue kayanya banyak inget umur kalo lagi di perjalanan deh. Insaf-insaf dan baik-baik haha. Tapi ya mau gimana lagi, toh semua udah ada yang menggariskan kan?

Umur sudah ada yang atur itu juga yang bikin gue selalu mikir kalo mulai-mulai melenceng, curang, jahat, atau bikin dosa secara sadar haha. Iya mungkin gue mikirnya gue banyakan berbuat baik, banyakan ibadahnya (yeee, situ oke? haha), dosa dikit-dikit doang dan jarang kok (yeee, situ oke? :p). Tapi kalau gue meninggalnya pas lagi bikin dosa apa kabar? Langsung deh bhhaaayyyyy….

Semoga kita semua bisa mengakhiri “perjalanan” yang sebenarnya dengan baik.

Tobat.

Processed with VSCOcam with c1 preset
duduk di pesawat

Menari di Atas Awan

Rasanya seperti itu. Senang. Menari di atas awan. Walaupun belum pernah, nari-nari di atas awan itu gimana ya? Ya direka-reka aja coba, mungkin kira-kira seperti itu.

Ceritanya baru pulang dari tur Eropa. Haha. Tur Eropa ajalah ya bilangnya biar disangka liburan kece penuh bunga-bunga. Padahal lembur-lembur cantik dan ngecengin atlet ganteng dari jarak yang super deket haha. Tetep aja enak ya? :p Alhamdulillah, seneeeeeng super banget bisa dapet liputan Eropa lagi. E RO PA! Akkkk, sebagai pemuja dan pengharap untuk menghabiskan masa tua di sana, super super seneng. Gimana dong cara ceritanya biar semua orang menghayati?

Liputan kali ini gue ke dua negara, German sama Inggris. German dalam bayangan gue yang sangat misterius, keren, orangnya pinter-pinter, jago bikin pesawat kaya Pak Habibie, romantis (ini sih karna nonton Habibie-Ainun haha), dingin, kaku, dan pokoknya gue penasaran karena belom pernah kesana.

Inggris? Oh haruskah gue menjabarkannya dalam satu postingan ini? Kayanya setiap postingan yang bisa gue singgung, gue nggak akan capek untuk mendeskripsikannya. Selain keren dan keren, Inggris dalam singkatnya adalah negara impian yang begitu gue cintai, gue cintai sepenuhnya beserta salah satu warga negaranya. Thomas Andrew Felton ❤

Pertama German. Iya bener dingin. Dingin sedingin hatinya, hatinya yang tak hangat dan mengombang-ambingkan hidup gue haha. Suhunya nggak jauh-jauh, 1 atau 2 derajat celcius, pernah 5, paling hangat 10 kayanya. Apa nggak pernah sampe segitu ya? Agak lupa gue.

Karena gue di Mulheim, kota kecil yang tidak besar, jadi ya lumayan sepi-sepi aja. Udah dingin, sepi, kurang apa coba? Kurang mojok aja di penghangat kamar, terus ngegadoin nutella. Dingin tapi nggak ada salju. Iseng banget dinginnya nusuk-nusuk dan kiwir-kiwir.

Sehari-hari, kalau pas jalan sendiri nggak bareng kakak kakak dan adik adik lucu, gue sok-sok mereka-ulang kejadian. Film-film Nazi, jaman-jaman Hitler, pembantaian itu-itu, hufff. Dingin dan angkuh. Gue menarik napas dalam-dalam, menyesapi, ah beruntungnya gue jadi manusia jaman ini. Bukan jaman-jaman itu.

Sayang gue nggak sempet menyusuri jejak sejarah di sana. Kalau banyak waktu mungkin seru kali ya. Perjalanan sejarah di negara ini dari dulu bikin gue penasaran. Ke Berlin, ke Munchen, ke Dachau, ke camp konsentrasi Nazi. Mungkin efek doyan nonton film-film begitu. Dulu sering banget beli dvd film tentang Nazi, Yahudi, perang-perang dunia, mencuci otak sendiri haha. Iseng. Tapi penasaran. Kapan lagi dong ke German?

Di German paaaas banget punya temen, terus ketemuan bentar. Namanya Geni, dia dateng sama dua temennya, Aulia dan Susan, terus kita kenalan. Geni pengen banget gue tulisin di blog gue katanya. Jadinya terpaksa gue tulis deh. Ini Gen gue tulis ya nama lo. Geni Geni Geni Geni haha.  Mereka bertiga lagi lanjutin sekolah, woaa terus gue kepengen, kapan ya tapi lanjutinnya?

DS__6213x
Hobi loncat kalau lagi di foto, walaupun gaya kaya gitu udah nggak musim :p haha
DS__6210
Aulia, gue sama Susan, sok sok foto biar kaya di luar negri 😀
44
Aulia, gue, Geni, Susan

Geni dengan baik hati mengantarkan gue ke beberapa tempat buat bahan tulisan gue. Walaupun ternyata dia susah untuk diandalkan. Gue pikir beberapa lama di German dia bakal hapal mati segala tempat, ternyata nggak. Nyasar mah tetep aja nyasar. Tapi dia selalu pembelaan, “nyasar kan juga jalan-jalan, jadi nggak papa nyasar-nyasar juga,” lalalala~

Berbekal bahasa German Geni yang super, akhirnya nyampe juga ke tempatnya, setelah naik-turun kereta, yang ennggggg, “Fay ini bener yang ini bukan ya keretanya? Kayanya iya sih, soalnya ini arahnya ke sana, kalo yang itu ke sono. Coba aja lah ya, kalau nyasar tinggal balik lagi haha,”

Engggggg…. “Gen jangan aneh-aneh, gue menggantungkan diri sama lo nih di sini,” dan berlanjut dengan terka-menerka jalan, maju mundur cantik. Pake bekal GPS sih, cuma karena orientasi arah gue yang taradungces, jadi ya begitu adanya.

IMG_4071Kapan-kapan main lagi ya kak 🙂 Baik-baik di sana. Sering-sering liat peta German, jadi kalo gue kesana lagi lo udah seperti peta berjalan yang bisa ditanyain arah manapun itu.

Entah kenapa gue sering merasa, dia selalu sukses bikin gue iri. Rumput tetangga emang selalu lebih ijo sih ya. Ntar-ntar kalo gitu gue minta tetangga gue urusin rumput halaman gue deh, biar sama ijonya haha.

Terus lanjut terbang ke Birmingham. Kyay. Super happy!

Liputan menyenangkan dengan perjalanan yang menyedihkan. Kecengan jagoan gue pada kalah di babak awal, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Lee Yong Dae, Chou Tien Chen, ah sudahlah. Dan ditutup dengan kekalahan ci Butet sama bang Owi, sedih tapi terus berharap. Mereka yang selalu berjuang susah payah, huhu. Semangat ya abang-abang, kokoh-kokoh, cici-cici, kakak-kakak, oppa-oppa, gue selalu mendukung (haha, ceritanya dukungan gue ngaruh gilaaa).

image(32)

Di Inggris pas banget ada beberapa sister yang pernah stay di rumah. Melody dari China, sekarang lagi kuliah di Manchester sama Gabbie dan Olivia, mereka di London. Ada dosen gue, pak RT gue yang lagi ambil S3, temen-temen pas kuliah, banyak bener yang lagi di Inggris, dan penting banget gue jabarin satu-satu 😀 ngisngissss. Pengen ketemuan semua tapi nggak keburu. Cuma sempet ke Melody di Manchester. Dan…………………………

Yes, gue ke Manchester. Arrrrggghhhh. Mampir ke Old Trafford, keliling Manchester dalam hitungan detik, yang paling penting sih bisa ketemu Melody. Nggak deng, yang paling penting ke Old Trafford. Yang penting bisa ke Manchester. Eh tiga-tiganya penting deng.

Tadinya pengen ke Edinburgh (banyak pengennya) ketemu Putu, temen kuliah di Fikom dulu, tapi dari Birmingham jauh banget, sekitar 4 jam naik kereta, nggak cukup waktunya. Udah kontakan, nyari waktu kosong, tapi belom sempet, yah sedih, semoga lain waktu ada umur ada rezeki bisa ke sana ya Puuu.

Kalau Manchester naik kereta sekitar 1,5-2 jam, jadi ya hajaaar aja. Gue pilih hari turnamen yang mulainya jam 5 sore, pagi gue jalan, sore udah di Birmingham lagi. Wuuuzzzz.

Ketemuan setelah tiga tahun lamanya, ketemuan lagiiii, super kangen. Bukan di Jakarta tempat kita pertama ketemu, bukan di Beijing tempat yang rencananya jadi lokasi pertemuan kedua. Tapi di Manchester. Dimanaaaa? DI MAN CHES TEEEEEERRRRRRRR. Rawr!

Sama Melody di Piccadilly Garden, Manchester
DS__0378
Oh my super dream, OLD TRAFFORD

DS__0372 “Fielah, jangan pulang cepat-cepat. Nginep di gue dan nanti gue bawa keliling Manchester lebih lama, keliling Inggris kalau perlu. Kata belum beres kangen-kangenannya,” kata Melody.

Yaammpuun Melody, mau bangeettttt pake z. Mau bangeeettttzzzzz.

Bener-bener nyolong waktu, pas kosong, ngebut bekerja, hajar cari kereta, taraaaaa, sampai lah, keliling sebentar, chit-chat super ngebut padahal masih kangen banget banyak yang belom beres pembicaraan, masalah kehidupan dan kebahagiaan, terus balik lagi ke Birmingham, menyelesaikan yang belum selesai.

Terus bla bla bla, pulang deh ke Jakarta.

Jangan bilang berhenti begitu saja. Masih ada yang lebih penting. Jetlag. Disorientasi waktu karena bedanya kejauhan, 6 jam dengan German dan 7 jam dengan Inggris. Pastinya siap-siap tempur di tengah malem bolong. Untung nggak jetlag sendirian.

Ada serombongan kakak-kakak yang jetlag juga. Jadi saban hari absen genk jetlag di path. Udah tidur belom? Udah bangun belom? Laper nggak? Makan apa? Nyampah yuk? Gue bersama kakak-kakak idola sejuta umat (iya emang ini ceritanya pamer) kak Ge, kak Titin (Greysia Polii, Nitya Krishinda Maheswari), kak Vani Dea, Inemo, Gloria, dan lain-lain, kerjaannya begitu doang.

Kemudian harus maksa masuk kantor, meeting, kalo mereka latihan. My god! Gimana coba rasanya ngantuk-ngantukan terus latihan. Yatapi gimana dong. Kan harus. Ntar buat tanding. Begitu. Gila juga ya itu atlet-atlet rutinitasnya gitu aja muter. Latihan, persiapan, pertandingan jauh-jauh, terus jetlag nggak boleh lama-lama, karena harus latihan lagi, persiapan lagi, pertandingan lagi, jetlag lagi, iya begitu aja terus.

Atas nama bangsa Indonesia, mari berjuang sepenuh hati dengan bahagia dan hura-hura hati senang, dan semoga hasilnya maksimal.

Ini masih mending sih, seminggu aja cukup jetlag nya. Waktu pertama kali astaghfirullah, sebulan kali jam tidur gue nggak karu-karuan. Tapi ya karena bahagia-bahagia aja ngejalaninnya, jetlag 5 bulan juga gue hajar deh. Haha.

Ah, kangen. Inggris. German juga, tapi banyakan kangen Inggrisnya ❤ Semoga dan semoga. Amin.

Sekarang Kembali Mandiri, Dan Oh Sungguh

Heboh.

Sekarang kembali mandiri dan oh sungguh heboh.

Liputan lagi, jalan lagi. Sekarang kembali mandiri. Ngerjain apa-apa sendiri. Setelah perjalanan sepanjang tahun ke belakang gue ngurusin bareng partner liputan gue (sekarang lagi cuti melahirkan). Huah, sebenernya super heboh dan nggak sabar, karena gue akan pergi ke negara yang belum pernah gue kunjungi sebelumnya. German. Hola!

Em, gue mulai dari mana ya. Banyak hal yang pengen gue tulisin, tapi kenapa gue selalu stak dan terhambat (baca: males). Postingan gue sebelumnya tentang liputan di Hong Kong. Nggak gue terusin, padahal di Hong Kong super acak kablak banget hidup gue, harus berurusan sama polisi setempat (again!) karena kemalingan, bolak balik kantor polisi dan sejuta drama. Begitu. Mungkin nanti gue tulisin lagi. Pengalaman yang astaghfirullah, beneran bikin banyak istighfar sih.

Voalaaaa, sekarang tiba-tiba sampai di German. Tepatnya di Mulheim. Setelah perjalanan panjang Jakarta-Kuala Lumpur-Frankfurt-Dusseldorf. Kotanya sepi. Udaranya lumayan dingin, 2 derajat celcius saat ini. Kalau kata temen gue sih, German terkenal dengan Schlafenberg, artinya benteng yang tidur. Diem diem aja. Jadi sepi-sepi aja, apalagi di Mulheim ini. Lalala~

image(31)
Pemandangan dari jendela kamar
image(30)
Area kerja yang super flat menghadap tembok

I am so crazy stupid happy now. Sudah di Germaaaaaannn. Selesai sudah urusan pertama. Urusan mengatur jadwal keberangkatan, pesan hotel, tiket, akreditasi media, visa. Visa ommo visa adalah urusan yang bikin gue jantungan 2 minggu kemarin. Gue harus pergi ke German dan Inggris. Visa Schengen gue alhamdulillah masih aman sampai setahunan. Tapi Visa Inggris? Heboh banget nungguin akreditasi diterima, minta undangan liputan yang email-emailannya udah dari tahun 1700 sebelum masehi, tapi baru dikirim entah kapan. Gue ngurus dari awal tahun mungkin, tapi responnya belum belum aja.

Singkatnya kemaren gue akan berangkat tanggal 22 Februari, tapi gue masukin aplikasi baru tanggal 13 Februari, hari Jumat. Dimana kepotong Sabtu-Minggu dan Kamis yang libur Imlek. Total waktu gue hanya punya 4 hari kerja. Tarakdungces. Data udah lengkap dan beres, tinggal nunggu undangan dan akreditase sebenernya kemaren mah. Waktu normal urus visa itu sekitar 15 hari. Gue apply visa priority jadinya, dengan kemungkinan beresnya 4-7 hari. Gambling banget. Sementara tiket sudah pasti (Ini juga mesen buru-buru supaya dapet). Kemudian dengan bimbingan suhu dan tetua kantor yang biasa ngurusin visa, “Udah nanti Jumat samperin aja, semoga sudah jadi, kalau enggak terpaksa undur penerbangan,”.

Dan dengan dukungan emak, babeh dan adek-adek gue (mencari dukungan ke banyak orang).

Sudah pasti mau nggak mau gambling, datang di hari Jumat, tanpa bekal konfirmasi dari kedutaan yang bilang kalo “visa beres”. Dang dang dang. Muka-muka abang penjaganya mencurigakan, mengerenyitkan dahi, bolak-balik cek komputer, bikin degdegan. “Ke Inggris ya?” Bukan bang, ke Guatemala.

“Iya mas”

“Liputan All England”

“E’ iya mas”

“Hemm.. Sebentar,” balik badan, bongkar-bongkar kardus. “Nafielah bla bla bla?”

“Iya mas”

“Oh ada nih”

“Woak? Seriusan ada mas? (Ngambil bungkusan dari abangnya) Saya buka di sini ya mas?” (parno)

“Buka aja, dapet kok dapet, tenang aja” abangnya cengengesan, mungkin maksudnya menenangkan atau ngucapin selamat.

“Woaaaa, makasih ya mas”

Beres! Wah beres visanya. Jantungan itu rasanya selama berbulan-bulan kegantung, dan 3 hari terakhir yang bikin nggak napsu makan (tapi naik 4 kg, itu gimana ceritanyaaaa?)

Berkat kekuatan doa dan dukungan emak gue, alhamdulillah. Set!

(Btw ini ceritanya kok kaya simple banget sih, padahal lebih ribet, tapi gue nggak mau cerita ribet-ribet, nanti kamu sedih lagi mikirin aku :p  hahaha aposeh)

Kayanya emang gue yang berlebihan (dan selalu begitu). Sebelumnya semua udah mencoba menenangkan, karena gue kan tugas negara (ngaku-ngaku) dan ada surat-surat yang jelas. Tapi tetep aja, waktu mepet itu bikin super parno. Allahuakbar!

Udah bikin strategi terburuk sih, plan A, plan B sampe plan X bareng partner gue yang lagi cuti, yang gue kontak secara sembrawut dan penuh kecemasan menggelinjang, dimana dia mungkin lagi asik sama anaknya, terus gue rusak harinya dengan keluh kesah manis manja grup. Aaak, makasih mba Wid.

Rasanya tarakdungces lega alhamdulillah. Beres dari urus-urus visa balik lah gue ke kantor. Ceritanya mau menyelesaikan kerjaan di Jakarta yang akan gue tinggal beberapa saat itu.

“Naf, lo jalan hari Minggu gitu? Nggak bareng atlet dan lain-lain?” Ketemu temen.

“Iya tiket gue hari Minggu kok, tanggal 22, kenapa gitu?,” sambil buka email konfirmasi tiket.

“Yakin? Yang lain pada jalan tanggal 21 loh,” BLAH!

Salah tanggal gue. Dari kemaren-kemaren gue liatnya tanggal 22 Februari jalan. Jadinya santai santai dikit (enggak deng, tetep aja empot-empotan kepikiran visa). Zzzzz, ternyata tanggal 22 itu perjalanan Frankfurt-Dussedorf. Jakarta-Frankfurt itu tanggal 21 meeeen. Sehari sebelumnya. Rrrrhhhhh. Kelabakan. Belom siap-siap apa-apaan.

Apa kabar gue kalo salah jadwal? Gilek. Alhamdulillah nggak kepeleset harinya. Uuuuuuu~

Padahal Sabtu adalah rencana layah-leyeh gue, beli bekal, tidur seharian buat nyiapin energi (haha), ke dokter, pijet, semedi, bla bla bla. Ternyata gue dongdong super. Ini kembali liputan sendiri, dongdongnya mulai keluar lagi. Linglung.

Pas curhat di grup wassap keluarga gue (jadi gue punya grup wassap yang isinya nyokap, bokap, dan adek-adek, di bbm ada grup kita sekeluarga plus om tante dan sepupu, sepupu, di mana-mana banyak grup lah), bokap gue jawab, “hemm, mungkin karena kurang banyak baca Qur’annya jadi mudah lupa,” Jedang! Begitu lah.

Komen bokap itu suka dikit tapi menusuk hingga ke titik terdalam kehidupan gue. Gue jawab, “Iya..” Mati kutu. Hahaha.

Begitulah seputar perdramaan liputan gue kali ini, urusan visa belibet dan penuh liku (ini sumpah ya, dua kali liputan Inggris selalu berdrama dan visa jadinya H-2 sampe H-1 keberangkatan) Selalu bikin degdegan lah.

Oh my dream country, I love you, baik baik lah sama akuuuu please. Aku sungguh cinta kamu beserta salah satu warga negaramu itu, Thomas Andrew Felton.

Jadilah Jumat sore pulang kantor nyokap gue berkoar-koar, “Packing packing peking pekiiiing,” kemudian gue guling-gulingan di kasur dan ketiduran.

Begituuu. Alhamdulillah seneng akhirnya setelah perjalanan panjang dan berliku, sampai juga di Mulheim, minggu depan ke Birmingham. Semangat dong ya. Liputan yang rajin, semoga pada menangan. Oh aku sungguh bersemangat. Mari mari bekerja dan jangan ulangi kesalahan yang sama.

Hei Mulheim kamu dingin banget lah sumpeh!