Menari di Atas Awan

Rasanya seperti itu. Senang. Menari di atas awan. Walaupun belum pernah, nari-nari di atas awan itu gimana ya? Ya direka-reka aja coba, mungkin kira-kira seperti itu.

Ceritanya baru pulang dari tur Eropa. Haha. Tur Eropa ajalah ya bilangnya biar disangka liburan kece penuh bunga-bunga. Padahal lembur-lembur cantik dan ngecengin atlet ganteng dari jarak yang super deket haha. Tetep aja enak ya? :p Alhamdulillah, seneeeeeng super banget bisa dapet liputan Eropa lagi. E RO PA! Akkkk, sebagai pemuja dan pengharap untuk menghabiskan masa tua di sana, super super seneng. Gimana dong cara ceritanya biar semua orang menghayati?

Liputan kali ini gue ke dua negara, German sama Inggris. German dalam bayangan gue yang sangat misterius, keren, orangnya pinter-pinter, jago bikin pesawat kaya Pak Habibie, romantis (ini sih karna nonton Habibie-Ainun haha), dingin, kaku, dan pokoknya gue penasaran karena belom pernah kesana.

Inggris? Oh haruskah gue menjabarkannya dalam satu postingan ini? Kayanya setiap postingan yang bisa gue singgung, gue nggak akan capek untuk mendeskripsikannya. Selain keren dan keren, Inggris dalam singkatnya adalah negara impian yang begitu gue cintai, gue cintai sepenuhnya beserta salah satu warga negaranya. Thomas Andrew Felton❤

Pertama German. Iya bener dingin. Dingin sedingin hatinya, hatinya yang tak hangat dan mengombang-ambingkan hidup gue haha. Suhunya nggak jauh-jauh, 1 atau 2 derajat celcius, pernah 5, paling hangat 10 kayanya. Apa nggak pernah sampe segitu ya? Agak lupa gue.

Karena gue di Mulheim, kota kecil yang tidak besar, jadi ya lumayan sepi-sepi aja. Udah dingin, sepi, kurang apa coba? Kurang mojok aja di penghangat kamar, terus ngegadoin nutella. Dingin tapi nggak ada salju. Iseng banget dinginnya nusuk-nusuk dan kiwir-kiwir.

Sehari-hari, kalau pas jalan sendiri nggak bareng kakak kakak dan adik adik lucu, gue sok-sok mereka-ulang kejadian. Film-film Nazi, jaman-jaman Hitler, pembantaian itu-itu, hufff. Dingin dan angkuh. Gue menarik napas dalam-dalam, menyesapi, ah beruntungnya gue jadi manusia jaman ini. Bukan jaman-jaman itu.

Sayang gue nggak sempet menyusuri jejak sejarah di sana. Kalau banyak waktu mungkin seru kali ya. Perjalanan sejarah di negara ini dari dulu bikin gue penasaran. Ke Berlin, ke Munchen, ke Dachau, ke camp konsentrasi Nazi. Mungkin efek doyan nonton film-film begitu. Dulu sering banget beli dvd film tentang Nazi, Yahudi, perang-perang dunia, mencuci otak sendiri haha. Iseng. Tapi penasaran. Kapan lagi dong ke German?

Di German paaaas banget punya temen, terus ketemuan bentar. Namanya Geni, dia dateng sama dua temennya, Aulia dan Susan, terus kita kenalan. Geni pengen banget gue tulisin di blog gue katanya. Jadinya terpaksa gue tulis deh. Ini Gen gue tulis ya nama lo. Geni Geni Geni Geni haha.  Mereka bertiga lagi lanjutin sekolah, woaa terus gue kepengen, kapan ya tapi lanjutinnya?

DS__6213x
Hobi loncat kalau lagi di foto, walaupun gaya kaya gitu udah nggak musim :p haha
DS__6210
Aulia, gue sama Susan, sok sok foto biar kaya di luar negri😀
44
Aulia, gue, Geni, Susan

Geni dengan baik hati mengantarkan gue ke beberapa tempat buat bahan tulisan gue. Walaupun ternyata dia susah untuk diandalkan. Gue pikir beberapa lama di German dia bakal hapal mati segala tempat, ternyata nggak. Nyasar mah tetep aja nyasar. Tapi dia selalu pembelaan, “nyasar kan juga jalan-jalan, jadi nggak papa nyasar-nyasar juga,” lalalala~

Berbekal bahasa German Geni yang super, akhirnya nyampe juga ke tempatnya, setelah naik-turun kereta, yang ennggggg, “Fay ini bener yang ini bukan ya keretanya? Kayanya iya sih, soalnya ini arahnya ke sana, kalo yang itu ke sono. Coba aja lah ya, kalau nyasar tinggal balik lagi haha,”

Engggggg…. “Gen jangan aneh-aneh, gue menggantungkan diri sama lo nih di sini,” dan berlanjut dengan terka-menerka jalan, maju mundur cantik. Pake bekal GPS sih, cuma karena orientasi arah gue yang taradungces, jadi ya begitu adanya.

IMG_4071Kapan-kapan main lagi ya kak🙂 Baik-baik di sana. Sering-sering liat peta German, jadi kalo gue kesana lagi lo udah seperti peta berjalan yang bisa ditanyain arah manapun itu.

Entah kenapa gue sering merasa, dia selalu sukses bikin gue iri. Rumput tetangga emang selalu lebih ijo sih ya. Ntar-ntar kalo gitu gue minta tetangga gue urusin rumput halaman gue deh, biar sama ijonya haha.

Terus lanjut terbang ke Birmingham. Kyay. Super happy!

Liputan menyenangkan dengan perjalanan yang menyedihkan. Kecengan jagoan gue pada kalah di babak awal, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, Lee Yong Dae, Chou Tien Chen, ah sudahlah. Dan ditutup dengan kekalahan ci Butet sama bang Owi, sedih tapi terus berharap. Mereka yang selalu berjuang susah payah, huhu. Semangat ya abang-abang, kokoh-kokoh, cici-cici, kakak-kakak, oppa-oppa, gue selalu mendukung (haha, ceritanya dukungan gue ngaruh gilaaa).

image(32)

Di Inggris pas banget ada beberapa sister yang pernah stay di rumah. Melody dari China, sekarang lagi kuliah di Manchester sama Gabbie dan Olivia, mereka di London. Ada dosen gue, pak RT gue yang lagi ambil S3, temen-temen pas kuliah, banyak bener yang lagi di Inggris, dan penting banget gue jabarin satu-satu😀 ngisngissss. Pengen ketemuan semua tapi nggak keburu. Cuma sempet ke Melody di Manchester. Dan…………………………

Yes, gue ke Manchester. Arrrrggghhhh. Mampir ke Old Trafford, keliling Manchester dalam hitungan detik, yang paling penting sih bisa ketemu Melody. Nggak deng, yang paling penting ke Old Trafford. Yang penting bisa ke Manchester. Eh tiga-tiganya penting deng.

Tadinya pengen ke Edinburgh (banyak pengennya) ketemu Putu, temen kuliah di Fikom dulu, tapi dari Birmingham jauh banget, sekitar 4 jam naik kereta, nggak cukup waktunya. Udah kontakan, nyari waktu kosong, tapi belom sempet, yah sedih, semoga lain waktu ada umur ada rezeki bisa ke sana ya Puuu.

Kalau Manchester naik kereta sekitar 1,5-2 jam, jadi ya hajaaar aja. Gue pilih hari turnamen yang mulainya jam 5 sore, pagi gue jalan, sore udah di Birmingham lagi. Wuuuzzzz.

Ketemuan setelah tiga tahun lamanya, ketemuan lagiiii, super kangen. Bukan di Jakarta tempat kita pertama ketemu, bukan di Beijing tempat yang rencananya jadi lokasi pertemuan kedua. Tapi di Manchester. Dimanaaaa? DI MAN CHES TEEEEEERRRRRRRR. Rawr!

Sama Melody di Piccadilly Garden, Manchester
DS__0378
Oh my super dream, OLD TRAFFORD

DS__0372 “Fielah, jangan pulang cepat-cepat. Nginep di gue dan nanti gue bawa keliling Manchester lebih lama, keliling Inggris kalau perlu. Kata belum beres kangen-kangenannya,” kata Melody.

Yaammpuun Melody, mau bangeettttt pake z. Mau bangeeettttzzzzz.

Bener-bener nyolong waktu, pas kosong, ngebut bekerja, hajar cari kereta, taraaaaa, sampai lah, keliling sebentar, chit-chat super ngebut padahal masih kangen banget banyak yang belom beres pembicaraan, masalah kehidupan dan kebahagiaan, terus balik lagi ke Birmingham, menyelesaikan yang belum selesai.

Terus bla bla bla, pulang deh ke Jakarta.

Jangan bilang berhenti begitu saja. Masih ada yang lebih penting. Jetlag. Disorientasi waktu karena bedanya kejauhan, 6 jam dengan German dan 7 jam dengan Inggris. Pastinya siap-siap tempur di tengah malem bolong. Untung nggak jetlag sendirian.

Ada serombongan kakak-kakak yang jetlag juga. Jadi saban hari absen genk jetlag di path. Udah tidur belom? Udah bangun belom? Laper nggak? Makan apa? Nyampah yuk? Gue bersama kakak-kakak idola sejuta umat (iya emang ini ceritanya pamer) kak Ge, kak Titin (Greysia Polii, Nitya Krishinda Maheswari), kak Vani Dea, Inemo, Gloria, dan lain-lain, kerjaannya begitu doang.

Kemudian harus maksa masuk kantor, meeting, kalo mereka latihan. My god! Gimana coba rasanya ngantuk-ngantukan terus latihan. Yatapi gimana dong. Kan harus. Ntar buat tanding. Begitu. Gila juga ya itu atlet-atlet rutinitasnya gitu aja muter. Latihan, persiapan, pertandingan jauh-jauh, terus jetlag nggak boleh lama-lama, karena harus latihan lagi, persiapan lagi, pertandingan lagi, jetlag lagi, iya begitu aja terus.

Atas nama bangsa Indonesia, mari berjuang sepenuh hati dengan bahagia dan hura-hura hati senang, dan semoga hasilnya maksimal.

Ini masih mending sih, seminggu aja cukup jetlag nya. Waktu pertama kali astaghfirullah, sebulan kali jam tidur gue nggak karu-karuan. Tapi ya karena bahagia-bahagia aja ngejalaninnya, jetlag 5 bulan juga gue hajar deh. Haha.

Ah, kangen. Inggris. German juga, tapi banyakan kangen Inggrisnya❤ Semoga dan semoga. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s