Perkembangan Kasus “itu”

Hi blog, hello you 🙂

Well yeah kejadian menyeramkan dalam hidup gue sudah, kira-kira, 2 bulan berlalu. Ketika gue dan beberapa orang menjadi korban penodongan bersenjata di angkot. Entahlah, sepertinya gue hampir beberapa kali mengalami kejadian yang menyeramkan yang mungkin bisa merenggut nyawa gue. Naik pesawat dan tiba-tiba cuaca buruk, di atas kapal pas lagi musim gelombang, naik kereta api yang anjlok dan keluar dari rel, tabrakan di jalan tol dengan keadaan mobil ringsek, diserempet motor. Lengkap sudah terpaan gue dari darat, laut dan udara.

Tapi kejadian dirampok itu……… sejujurnya cuma pernah gue liat di film dan gue baca di novel, sungguh mengena, membuat jera. Dan seperti yang gue bilang sebelumnya, gue pernah ngebayangin naik bus yang dibajak, dibajak, tapi lalu ada spiderman atau superman. Mereka yang nyelamatin gue, layaknya Mary Jane yang digendong gelayutan dari gedung ke gedung. Demi apapun gue sering ngebayangin hal itu, hal yang pasti keren dan bakal gue certain ke anak cucu.

Dan marilah gue himbau kepada semua teman-teman dan siapapun kalian. Jangan pernah mikirin yang aneh-aneh, ngebayangin yang nggak-nggak. Karena kejadian aslinya gak sekeren yang lo bayangin, bisa jadi lebih menyeramkan.

Superheroes are not real!

Oke, kembali dengan kasus perampokan itu ya. Banyak yang berubah dalam hidup gue. Beberapa kali sempat kenalan dengan orang dan menerima ekspresi, “Wah orang yang dirampok itu elo? Itu blog lo? Sumpah sinetron abis”

-____-“

Begitulah.

Tapi banyak juga yang nanya, gimana kelanjutan kasusnya Fay? Diproses gak? Apa cuma ngegantung aja?

Baiklah saya ceritakan. Setelah postingan blog gue dan surat pembaca di harian Pikiran Rakyat, banyak dukungan dan tanggapan. Beberapa media juga memberitakan, tanpa wawancara ke gue. Bahan utamanya dari blog gue aja.

Salah satunya tanggapan dari tim advokat di Bandung. Gue dikenalin sama senior gue. Mereka bilang ke gue bakal bantu penyelesaian kasus ini. Berhubung gak ngerti hukum, jadi gue serahin semua ke mereka. Kang Syamsul, salah satu dari tim advokat tersebut mendatangi gue. Kebetulan alumni Unpad juga beliau, Fakultas Hukum. Gue ceritain semuanya.

Beliau bilang yang akan mengurusi langsung ke Polrestabes Bandung. Sehari setelah ketemu, gue diminta untuk menghubungi korbannya. Korban yang kehilangan handphone, yang mengalami kerugian secara materil.

Karena untuk membuat laporan, menurut kang Syamsul,  setidaknya ada lima alat bukti:

  1. Keterangan saksi/ korban
  2. Keterangan ahli
  3. Sumpah
  4. Pengakuan
  5. Surat

Ya kalau gue mau meneruskan laporan, harus ada dukungan dari korban. Mbak-mbak yang kehilangan handphone. Sayangnya ketika gue minta, beliau enggan meneruskan laporan. Mungkin hopeless juga pas tau cerita dari gue.

Gak bisa dipungkiri image polisi (maaf) di mata masyarakat udah gak oke lagi.

Selain itu, ada juga komen dari Wakasat Reskrim Polrestabes Bandung, di postingan blog gue. Meminta gue menghubungi melalui email. Gue bingung. Ini suudzonnya gue aja ya. Masalahnya itu penjahat belom ketangkep, make sense kan kalo gue mikir itu penjahat yang ngehubungin gue. Trus ngaku-ngaku kalo itu polisi (oke gue parnoan). Apalagi beliau ngasihnya alamat email pribadi.

Lalu gue minta email institusi, dikasih sih. Cuma pake yahoo gitu, gue mikir aja, lembaga kepolisian sebesar itu pake email gratisan kah? I don’t know. (maaf maaf kalo itu beneran email pak polisi, saya kemarin……. belum percaya) Dan sampai sekarang gak menghubungi email itu. Gue masih memikirkan keselamatan gue, yang masih suka ngaclang kemana-mana.

Setelah gue diskusikan dengan orang-orang yang gue anggap bisa memberi masukan baik, mereka bilang gausah ditanggapi. Alasannya sama. Sapa yang bisa jamin itu bukan email buatan penjahatnya? (berlebihan? Entahlah)

Gue sudah menyerahkan kasus ini ke tim advokat itu, karena gue sudah menyerah berhubungan dengan polisi 😀

Bukannya gak ada tindak lanjut ya, tapi memang belum ada kabar kelanjutannya setelah tim advokat yang ingin membantu gue, mengatakan akan bertemu langsung dengan Kasatreskrim Polrestabes Bandung.

Terakhir kang Syamsul sms,

“Polisinya terakhir ketemu kemarin itu lagi sibuk ngawal aksi kenaikan BBM. Bulan ini baru fokus lagi karena marak geng motor.”

Begitulah kira-kira, kita tunggu saja. Semoga gak riweuh lagi pas baru ada korban, naudzubillah.

Ntar gue update kalo ada info terbaru mengenai kelanjutan kasus, siapa tau berguna.

Sekarang? Masih gantung.

Tetap berhati-hati kawan. Kejahatan mengincar kita dimana dan kapan saja.

Sekian. Have a nice day all, bye.

Pasca Kejadian Perampokan di Angkot Bandung

Pasca kejadian perampokan yang gue alami beberapa hari yang lalu, begitu banyak respon positif dan simpati yang gue terima (Terima kasih banyak ya teman-teman). Ini mungkin karena cukup banyak orang yang men-share pengalaman gue, melalui twitter, facebook, BBM, grup, milist, dan sebagainya.

Terima kasih juga buat teman-teman yang komen di postingan gue kemaren dan beberapa orang juga men-share pengalamannya. Makasih 🙂 🙂

Makasih juga buat @Infobdg yang sudah me-RT blog saya, tentunya berkat bantuan dari tweeps yang lain juga. Makasih ya makasih. Ini untuk pelajaran kita bersama 🙂 Semoga bisa diambil hikmahnya.

Bener-bener dahsyat ya kekuatan jejaring sosial…

—-Sebelumnya maaf kalo gaya berbahasa saya dianggap kurang sopan atau gimana, tapi di tulisan-tulisan blog sebelumnya, bahasa saya sudah menggunakan yang seperti itu (gue-lo), jadi saya rasa agak ganjil kalau harus merubahnya. Ini mungkin faktor lingkungan pertemanan saya atau yang lainnya. Jadi maaf ya kalau gak nyaman bacanya—–

Bukan. Bukan maksud gue menggumbar permasalahan yang gue hadapi, bukan berharap perhatian dan simpati. Gue cuma menuliskan pengalaman ini untuk diambil hikmahnya oleh banyak orang. Untuk lebih berhati-hati dalam berkendaraan umum, khususnya perempuan. Karena ketika kejadiannya udah kaya gini, bahkan aparat berwenang pun sulit untuk diharapkan (maaf kalo terlalu berpikiran negatif).

Mohon maaf juga kalau tulisan gue dianggap memancing pemikiran negatif masyarakat mengenai kinerja kepolisian. Gue hanya menuliskan pengalaman yang membuat gue semakin percaya, GUE GAK BISA LAGI PERCAYA SAMA PIHAK KEPOLISIAN (maaf emosi) *sedih*

Sedih loh nulisinnya. Ini tentang aparat negara kita. Mereka yang seharusnya mengayomi dan melindungi masayarakat. Membuat kita merasa aman dari berbagai bentuk kejahatan.

Fyuhh, semoga itu cuma oknum ya teman-teman *berharap masih banyak polisi keren yang jago dan niat membasmi kejahatan*

FYI berita tentang kejadian ini dimuat juga di Detik.com ternyata. Gue baru tau dari temen. Ini beritanya (klik).

Gue gak diwawancarain, tapi mungkin wartawannya baca blog gue. Melihat luasnya cerita gue tersebar dan identitas yang tidak dirahasiakan, adek gue, Sasaki kemudian menyarankan untuk memprotek akun-akun gue. Memprotek twitter, facebook dan jejaring apapun yang bisa ngasih info detil tentang gue. Sapa tau perampoknya jadi sebel sama gue karena kesebar-sebar.

Ngeri juga ngebayangin kalo perampoknya kepo dan lalu tau kampus gue, tau kosan gue dan nangkringin, trus gue diculik, trus mereka minta tebusan, trus makin ribet urusannya (lebay, lebay! Maaf)

Yea, gue gak tau itu perampoknya gaul apa ga? Gue cuma berharap dia gak punya twitter, gak punya facebook, gak gabung di grup dan milist tertentu, gak dapet BM tentang cerita ini, gak baca Detik.com dan blog gue. Jadi dia gak tau apa-apa dan selow-selow aja.

Tapi gue baru inget, perampoknya itu pake jaket kulit, berkacamata dan pake behel *itu ciri-ciri rampok gaul bukan ya?*

Semoga aja dia masang behelnya di tukang gigi yang cuma buat gaya, jadi gaulnya juga abal-abal (maaf kalo ada yang tersinggung, gak maksud).

Oia, berdasarkan saran teman-teman dan beberapa orang yang baca blog gue, gue udah mengirimkan kronologis dan cerita tentang tanggapan polisi itu ke redaksi Pikiran Rakyat. Semoga dimuat ya, untuk informasi ke masyarakat luas biar lebih berhati-hati.

Oia (lagi), gara-gara tersebarnya tulisan ini gue juga jadi ketemu sama mbak-mbak yang Blackberrynya diambil sama perampok itu (dahsyatnya twitter). Sempet berkomunikas beberapa kali via twitter dan komen di blog, tapi sepertinya mbak tersebut juga urung melapor ke polisi, agak percuma kayanya, menurut mbak itu.

Tapi gue bilang, kalo dia mau melapor dan butuh saksi, Insya Allah gue siap. Karena penjahatnya masih berkeliaran, dan gue kesereman paraaaah.

TIGA HARI PASCA KEJADIAN..

Tadi pagi merupakan kali pertama gue keluar kosan untuk beli sarapan, setelah tiga hari berlalu. Sebelumnya gue bahkan ogah buat keluar kamar kecuali buat ke kamar mandi dan wudhu. Mungkin ini yang dinamakan trauma kali ya.

Dan setelah gue sampe kosan lagi (abis beli sarapan) tiba-tiba gue langsung mual-mual dan gemeteran hebat. Ini sugesti gue aja kayanya. Gue langsung menangkap dengan jelas orang-orang yang pake jaket kulit. Diperjalanan pendek gue buat beli nasi kuning itu bahkan ada sekitar 10 orang laki-laki yang gue temui make jaket kulit. Langsung stress.

Astagfirullah, traumatik berlebihan banget ini gue namanya.

Gak boleh gini terus. Gue harus move on. Apa jadinya kalo gue ketakutan gak jelas kaya gini terus. Banyak hal yang harus gue lakukan di luar sana. Yap, penjahatnya masih berkeliaran saudara-saudara 😥

Fighting!

Tetap waspada dan hati-hati ya teman-teman…