Apa Rahasia Kurus Seketika Lee Yong Dae?

Sihir. Mungkin sihir atau sulap. Atau sebelumnya dia hanya menyamar. Menyamar karena tidak mau mengganggu konsentrasi gue? Menyamar sampai waktu yang tepat untuk kita kembali bersama? X_X

Banyak spekulasi yang muncul di kepala pas gue kembali ketemu Lee Yong Dae, pemain bulutangkis dari Korea Selatan yang semakin hari semakin ganteng itu.

Ceritanya bulan Januari 2014 kemaren, gue liputan dua turnamen berturut-turut, di Korea Open Superseries dan Malaysia Open Superseries Premier. Jedanya cuma 2 hari, beres dari Korea langsung cus ke Malaysia.

Alkisah abis salah satu babak di Korea Open, Yong Dae diwawancarai usai kemenangannya. Masuklah dia bersama partner si muka datar, Yoo Yeon Seong, buat dijamah (diwawancara) sama wartawan lokal dan dari luar.

Walaupun media kita nggak ngeberitain, tapi tetep ya bok, siapa yang bisa menolak pesona si abang ganteng, Lee Yong Dae (abaikan partnernya). Nangkringlah gue ceritanya mau ngeliat preskonnya.

Dan Oh My GOD! Ternyata preskon berlangsung di media center yang besarnya secuprit, kecil banget, kalo jalan bisa senggol-senggolan. Kiri-kanan mentok sama meja.

Saat itu posisi duduk gue dan mba Widya (partner senior liputan) duduk di kursi paling depan, sambil kerja ngedit foto dan bikin berita (alibi). Ternyata oh ternyata, Yong Dae dan partner (haha, Yoo Yeon Seong), duduk tepat di depan meja gue. Di depan mata, berjarak kurang dari satu meter, huah, mungkin pun hanya 80 centimeter (wae). Itu di foto itu, abis dengkulnya Yong Dae langsung ada gue, kehalang meja sih dikit (dikit doang, jadi kita beneran deket bingit). Huoh.

image (1)

Huak. Langsung nggak konsen. Tangan gemeteran, buru-buru ngiket kaki ke meja, khawatir tiba-tiba nggak kuat pengen nemplok, wkwk. Nggak usah ngomongin apa yang jadi bahan wawancara dan apa jawaban mereka ya, nggak penting juga. Gue hanya bengong menopang dagu, senyum-senyum sendiri, ini beneran dan sampe-sampe mba Widya nendang-nendang kaki gue untuk menyadarkan.

Karena lebih senior, mba Widya lebih jago main cantik. Dia tetep cool dan pura-pura ngetik, padahal ngintip dari balik layar laptop, sambil candid-candid pake hape. Yakin banget gue :p

(Tapi pas abis beres preskon langsung teriak-teriak nggak karuan, kesenengan ketemu Yong Dae. Mureh dan gampang banget ye kita, ketahuan. Gitu doang girangnya kaya dapet undian 50 Milyar, yayahahaha!)

FYI, ini wartawan lokal Korea juga pada norce kalo ketemu Yong Dae. LO LO turnamen segala pada doyan minta foto. Gue? Jaim dong nggak mau minta foto. Iye nggak minta foto, tapi ngeliatin depan mata nggak kontrol banget :p

(Eh iya, ngomong-ngomong ada deng yang penting dari omongan Yong Dae ini. Dia bilang saat ini walaupun persaingan ganda putra terus merata, tapi ada satu pasangan yang terus dia waspadai, katanya pasangan Indonesia. Pas dia ngomong itu gue langsung nyengir, dan wartawan Korea sebelah gue bilang ke Yong Dae, “Ini cewek cewek kece sebelah gue dari Indonesia loh,” (dengan transkirp percakapan yang sudah di daur ulang). Dan gue dengan bodohnya, “Hem yea, hai”. Apaaaaan itu apaan maksud respon gue? HAHA. Abaikan. “You mean, Mohammad Ahsan and Hendra Setiawan?” kata gue sok cool. “Ya, Setiawan and Ahsan,” kata Yong Dae ganteng.)

Lanjut.

Dan ya booooo, Yong Dae pas itu gendut bangeeet. Liat aja tuh di foto, gembul gitu mukanya. Itu di foto kurang keliatan deh, aslinya saat itu ya ampun. Gendut banget (yea, kaya kurus aja nih gue ceritanya). I mean, itu adalah penampakan Yong Dae paling gendut yang pernah gue liat, meski teteeup, ganteng. (Abaikan partnernya Yong Dae, haha). Ibarat kata, kalo lo sendul pipinya Yong Dae, mungkin bisa jadi akan bergetar selama hampir 5 menitan, saking gembilnya. Nggak boong gue, lebay dikit aja.

Bla bla bla.. Singkat cerita,

Kami kembali dipertemukan di Malaysia. Memang seperti kata pepatah, jodoh tak akan kemana. Seperti kata Afgan, jodoh pasti bertemu. Maka bertemu lah kami.

Di suatu jembatan, dihiasi bunga-bunga, diiringi alunan lagu yang rupawan, saling menatap, bersenda gurau, ceria bersama, jalan-jalan di taman sambil gandengan (Ngomong sono sama tembok!!)

KEMUDIAN!!!

Yong Dae tiba-tiba kurus, langsing singset tiada tara, dan kadar kegantengan semakin meningkat (abaikan pasangannya). Tanpa kata-kata. GIMANA BISAAAAA??? Itu berat yang ilang ada kali 5 kg (Eh iya nggak ya? Nggak yakin gue. Yang pasti beda banget sofi martin. Jadi kuruuus..)

Dalam waktu dua hari saja. DUA HARI SAJA SODARA-SODARA. Kurus seketika. Gue juga mauuuuuu.

Apa karena faktor winter di Korea dia jadi gembil, terus pas ke KL panas, jadi lemaknya langsung meleleh? Asik bangeeeet. Gue juga mau, plis atulah. Keren banget.

Jadi apa dong rahasia Yong Dae bisa tiba-tiba kurus gitu? Sampai saat ini sebenarnya masih menjadi misteri. Belum terungkap kebenarannya. Tinggallah di sini, gue dan mba Widya, yang galau 7 turunan melihat kelangsingan Yong Dae.

Sebagai wanita, hati kami tersayat-sayat. Bagaimana bisa?

Kesimpulan saat ini mungkin benar. Yong Dae bisa kaya gitu karena sihir pasti. Pasti karena sihir. Sihir cintaku.

Dudududududuuuu~

Advertisements

Catatan Dodol: Salah Sasaran

Ini cerita pas gue liputan Jakarta Open 2012, bulan Mei. Baru sekitar satu bulanan terjun secara profesional di dunia bulutangkis (azegah. sok iye). Walaupun dari jaman SD suka nonton bulutangkis, tapi ya pengetahuan gue tentang atlet ya sebatas yang gue tonton di tv, atau Indonesia Open nonton di Senayan, belum tau seluk beluk sampe ke atlet-atlet klub.

Baru lah kemudian gue ngerti dan ngeh kalau atlet bulutangkis itu jumlahnya sebenernya seabreg-abreg. Walaupun mungkin yang muncul dipermukaan itu-itu aja, generasi muda bulutangkis Indonesia itu rupanya ada sampe daerah-daerah dalam jumlah banyak. Begitulah.  Dan di Jakarta Open 2012 itu pesertanya super duper banyak abis parah-parah. Saking banyaknya peserta, pertandingan bahkan berlangsung dari pagi sampe pagi. Gue pun dapet cerita dari beberapa atlet yang tanding jam 4 subuh. Salah satunya Kho Henrikho. Pagi buta Kho nangkring di GOR Asia Afrika, Senayan, ditanyain petugas kebersihan, “Ngapain mas pagi-pagi udah nongkrong di GOR,”

“Mau tanding lah pak,”

“Bukannya mulai jam 8?”

“Ini masih jadwal yang kemaren pak,” Jengjeng.

Dan lalu itu bapak-bapak petugas kebersihannya pingsan. Kagum dan terhenyak, ada yang lebih totalitas daripada dia.. (apasih)

Nahh, saking banyaknya peserta, gue juga menjadi salah satu pihak yang direpotkan menghapal sebanyak atlet itu buat gue pilih dan dinaikin jadi berita. Maklum, pendatang baru kita.

Alkisah, gue mau ngangkat pertandingan ganda putra, pasangan Praveen Jordan/Didit Juang Indrianto. Gue yang nggak hapal mukanya, gagal total mengawasi pergerakan mereka yang habis tanding pada ngacir kemana. Sampailah akhirnya mata gue menangkap sesosok lelaki yang gue tengarai sebagai Didit atau Jordan. Gue cek kamera untuk mastiin mukanya. Sip. Beneran itu mukanya ada di salah satu foto gue.

Dengan pede gue samperin tersangkanya. Gue liat nama punggungnya, PRAVEEN. Okelah, pas kalau begitu. Semua berjalan lancar.

“Praveen Jordan sorry ganggu, mau wawancara bentar boleh?”

Dia yang lagi ngobrol sama temen-temennya tampak bengong ngeliat gue. Mungkin masih asing sama muka gue. Ya maklum, wartawan bulutangkis itu orangnya itu-itu doang. Jadi ya kalau orang baru ya pasti ketahuan banget. Gue berusaha selow dan sepede mungkin.

“Iya saya baru buat liputan bulutangkis,” berusaha menjelaskan karena ngeliat mukanya yang masih planga-plongo. Kembali berusaha sopan, gue pun menyapa teman-temannya, “Jordannya saya wawancara dulu sebentar ya, sorry ganggu,” gue mengulas senyum semanis mungkin. Wartawan baru nyari muka yes.

“Oh iya iya mbak silahkan,” mereka senyam-senyum. Yes, berarti mereka menyambut baik kehadiran gue.

“Jordan gimana tadi komentarnya tentang pertandingan barusan?” tanya gue membuka pembicaraan, setelah memperkenalkan diri secara singkat.

Lalalalalalaa…. Semua berjalan lancar, gue mengajukan beberapa pertanyaan terkait pertandingan. Daaan gue baru aja mau mengakhiri wawancara terus tiba-tiba….

“Mas Didit, ditungguin tuh mobilnya udah siap. Ke asrama sekarang kan?”

What? Didit? Gue langsung penggaraman. Salting.

“Iya bentar ya,” kata orang yang gue duga sebagai Jordan itu. “Mbak, wawancaranya udah atau ada yang mau ditanyaain lagi? Saya mau balik..”

Jengjengjeng, gue mati gaya.

“Loh kok? Ohh, Didit ya? Kirain Jordan, soalnya bajunyaaaa…..,” kalimat gue menggantung disusul ketawa-ketawa puas temen-temen terduga Jordan ngeliat ekspresi gue.

“Udah kok udah. Sorry ya Didit, saya belum hapal mukanya dan cuma liat bajunya,”

“Gak papa mbak, saya gak bawa baju ganti jadi minjem Jordan,” sambil cengar-cengir.

“Emm, oke. Thanks ya…….Didit,” gue langsung beranjak pergi dan gak mau ngeliat kumpulan lelaki itu lagi.

Muke muke gueee, mau ditaro mane???

Didit Juang dan Praveen Jordan
Didit Juang dan Praveen Jordan

Beda iya beda emang mukanya. Yatapi waktu itu mana gue tau. Lalalayeyeyelalalalayeyeye..

Hikmahnya: Coba tolong terapkan dasar-dasar wawancara dalam mata kuliah lo Fay. Kenali narasumber. Sebagai lulusan Jurnalistik mungkin dosen gue bisa milih pensiun muda nih, malu sama mahasiswa didikannya jadi begini. Wassalam.

Pasca Kejadian Perampokan di Angkot Bandung

Pasca kejadian perampokan yang gue alami beberapa hari yang lalu, begitu banyak respon positif dan simpati yang gue terima (Terima kasih banyak ya teman-teman). Ini mungkin karena cukup banyak orang yang men-share pengalaman gue, melalui twitter, facebook, BBM, grup, milist, dan sebagainya.

Terima kasih juga buat teman-teman yang komen di postingan gue kemaren dan beberapa orang juga men-share pengalamannya. Makasih 🙂 🙂

Makasih juga buat @Infobdg yang sudah me-RT blog saya, tentunya berkat bantuan dari tweeps yang lain juga. Makasih ya makasih. Ini untuk pelajaran kita bersama 🙂 Semoga bisa diambil hikmahnya.

Bener-bener dahsyat ya kekuatan jejaring sosial…

—-Sebelumnya maaf kalo gaya berbahasa saya dianggap kurang sopan atau gimana, tapi di tulisan-tulisan blog sebelumnya, bahasa saya sudah menggunakan yang seperti itu (gue-lo), jadi saya rasa agak ganjil kalau harus merubahnya. Ini mungkin faktor lingkungan pertemanan saya atau yang lainnya. Jadi maaf ya kalau gak nyaman bacanya—–

Bukan. Bukan maksud gue menggumbar permasalahan yang gue hadapi, bukan berharap perhatian dan simpati. Gue cuma menuliskan pengalaman ini untuk diambil hikmahnya oleh banyak orang. Untuk lebih berhati-hati dalam berkendaraan umum, khususnya perempuan. Karena ketika kejadiannya udah kaya gini, bahkan aparat berwenang pun sulit untuk diharapkan (maaf kalo terlalu berpikiran negatif).

Mohon maaf juga kalau tulisan gue dianggap memancing pemikiran negatif masyarakat mengenai kinerja kepolisian. Gue hanya menuliskan pengalaman yang membuat gue semakin percaya, GUE GAK BISA LAGI PERCAYA SAMA PIHAK KEPOLISIAN (maaf emosi) *sedih*

Sedih loh nulisinnya. Ini tentang aparat negara kita. Mereka yang seharusnya mengayomi dan melindungi masayarakat. Membuat kita merasa aman dari berbagai bentuk kejahatan.

Fyuhh, semoga itu cuma oknum ya teman-teman *berharap masih banyak polisi keren yang jago dan niat membasmi kejahatan*

FYI berita tentang kejadian ini dimuat juga di Detik.com ternyata. Gue baru tau dari temen. Ini beritanya (klik).

Gue gak diwawancarain, tapi mungkin wartawannya baca blog gue. Melihat luasnya cerita gue tersebar dan identitas yang tidak dirahasiakan, adek gue, Sasaki kemudian menyarankan untuk memprotek akun-akun gue. Memprotek twitter, facebook dan jejaring apapun yang bisa ngasih info detil tentang gue. Sapa tau perampoknya jadi sebel sama gue karena kesebar-sebar.

Ngeri juga ngebayangin kalo perampoknya kepo dan lalu tau kampus gue, tau kosan gue dan nangkringin, trus gue diculik, trus mereka minta tebusan, trus makin ribet urusannya (lebay, lebay! Maaf)

Yea, gue gak tau itu perampoknya gaul apa ga? Gue cuma berharap dia gak punya twitter, gak punya facebook, gak gabung di grup dan milist tertentu, gak dapet BM tentang cerita ini, gak baca Detik.com dan blog gue. Jadi dia gak tau apa-apa dan selow-selow aja.

Tapi gue baru inget, perampoknya itu pake jaket kulit, berkacamata dan pake behel *itu ciri-ciri rampok gaul bukan ya?*

Semoga aja dia masang behelnya di tukang gigi yang cuma buat gaya, jadi gaulnya juga abal-abal (maaf kalo ada yang tersinggung, gak maksud).

Oia, berdasarkan saran teman-teman dan beberapa orang yang baca blog gue, gue udah mengirimkan kronologis dan cerita tentang tanggapan polisi itu ke redaksi Pikiran Rakyat. Semoga dimuat ya, untuk informasi ke masyarakat luas biar lebih berhati-hati.

Oia (lagi), gara-gara tersebarnya tulisan ini gue juga jadi ketemu sama mbak-mbak yang Blackberrynya diambil sama perampok itu (dahsyatnya twitter). Sempet berkomunikas beberapa kali via twitter dan komen di blog, tapi sepertinya mbak tersebut juga urung melapor ke polisi, agak percuma kayanya, menurut mbak itu.

Tapi gue bilang, kalo dia mau melapor dan butuh saksi, Insya Allah gue siap. Karena penjahatnya masih berkeliaran, dan gue kesereman paraaaah.

TIGA HARI PASCA KEJADIAN..

Tadi pagi merupakan kali pertama gue keluar kosan untuk beli sarapan, setelah tiga hari berlalu. Sebelumnya gue bahkan ogah buat keluar kamar kecuali buat ke kamar mandi dan wudhu. Mungkin ini yang dinamakan trauma kali ya.

Dan setelah gue sampe kosan lagi (abis beli sarapan) tiba-tiba gue langsung mual-mual dan gemeteran hebat. Ini sugesti gue aja kayanya. Gue langsung menangkap dengan jelas orang-orang yang pake jaket kulit. Diperjalanan pendek gue buat beli nasi kuning itu bahkan ada sekitar 10 orang laki-laki yang gue temui make jaket kulit. Langsung stress.

Astagfirullah, traumatik berlebihan banget ini gue namanya.

Gak boleh gini terus. Gue harus move on. Apa jadinya kalo gue ketakutan gak jelas kaya gini terus. Banyak hal yang harus gue lakukan di luar sana. Yap, penjahatnya masih berkeliaran saudara-saudara 😥

Fighting!

Tetap waspada dan hati-hati ya teman-teman…

Saya Ditodong Pistol dan Petugas Pelayan Masyarakat Itu Dingin

Sori banget sebelumnya kalau judul ini dirasa provokatif menanggapi kinerja kepolisian. Ya tapi emang itu nyatanya. Entah karena gue kekurangan data untuk membuat sebuah laporan, entah karena ini hal lumrah yang sudah banyak terjadi, jadinya biasa aja (What the, gue mau mati tadi malam, dan mereka menganggap ini sudah biasa? Gilak).

Agak membingungkan mungkin kenapa tiba-tiba gue menuliskan hal yang begitu meluap-luap. Tadi malam gue jadi korban perampokan, pembajakan angkot, atau entah apa itu namanya. Di Bandung.

Yah, semakin terasa tidak amannya menggunakan transportasi umum setelah kejadian maha dahsyat yang gue alami tadi malem. Bahkan sampe sekarang pun gue deg-degan sendiri kebayang-bayang kejadian tadi malem. Trauma. Ini ya yang namanya trauma? Bener-bener bikin stress.

—-Hem yeah, kronologis ini pun gue bikin sesantai mungkin, walaupun gue ngetiknya masih terasa gemetaran. Semata-mata untuk menutupi ketakutan gue yang masih terasa sampe sekarang. Dan biar yang baca gak tegang-tegang banget——-

Semoga bisa diambil hikmahnya ya teman-teman..

KRONOLOGIS

Gue naik angkot Cicadas-Cibiru. Sekitar jam 6 lewat. Biasa aja, gak ada firasat apa-apa, selain was-was, haduh gue belom sempet sholat maghrib (well yeah ini peringatan buat gue kayanya). Ada tujuh penumpang (termasuk gue) plus supir. Posisinya begini..

Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dua anak SMA yang ada ngobrol tentang kegiatan di sekolah tadi siang, dan tiba-tiba anak SMA yang cewek nyeletuk,

“Haduh udah mau isya, kita belum sholat magrib, mana tadi ashar juga kelewat lagi. Ya Allah maafin saya, semoga masih dapet magrib ya” katanya. Gue langsung liat jam, wah iya, udah mau isya. Isya setengah 8 kan tuh ya. Masih ada waktu. Insya Allah keburu. Jeng jeng jeng..

Dua mbak-mbak karyawati di depan gue ngobrol seru tentang kantornya. Tentang bosnya yang galak tapi kocak, kalo gak salah denger, tentang kejadian tadi siang. Dan lain-lain.

Hey, gue gak mau kepo. Cuma mereka ngobrolnya gak kontrol, jadi kedengeran sama gue. Mas-mas di samping gue diem aja, sambil sesekali buka handphone. Ibu-ibu di pojok depan gue juga diem aja gak ngapa-ngapain. Kayanya kecapean habis kerja. Gue pun ngubek-ngubek tas mengeluarkan uang 1000 rupiah, karena sebentar lagi turun. Jarak tujuan gue gak jauh.

Gak lama kemudian naik bapak-bapak berjaket kulit hitam, duduk di samping supir. Pandangan gue lurus ke depan, mulai nyari angkot Riung-Dago. Nyari patokan tempat biasanya turun. Naik lagi satu penumpang laki-laki. Dari penampilannya kaya mas-mas pekerja bangunan, kuli yang baru balik kerja. Dia bawa tas ransel usang, yang beberapa bagiannya robek dan ditambal kain lain.

Sekilas gue melihat kontak mata antara mas-mas jaket kulit di samping gue dan mas-mas kuli ini. Eh, kenal ya? Tapi gak saling sapa. Gue juga gak peduli banget sih. Atau mungkin itu cuma perasaan gue doang.

“Kiri, eh gue duluan ya, berhenti disini aja, mau mampir dulu” kata mbak-mbak karyawati yang berkerudung.

“Loh, bukannya depanan dikit lagi ya?”

“Mau beli sesuatu dulu di depan (lupa pastinya, yang jelas dia turun duluan), gak papa ntar jalan dikit, daaah, hati-hati ya” mbak-mbak berkerudung itu pun lolos dari aksi menegangkan yang terjadi beberapa detik kemudian. Takdir.

Hati-hati ya. Pesan terakhir mbak-mbak itu bener-bener keinget sama gue. Fyuhh.

Mas-mas di samping gue langsung pindah posisi ke depan gue, menempati posisi mbak-mbak berkerudung tadi, mendekati pintu. Kira-kira begini posisinya.

Mas-mas berjaket kulit hitam dan berkacamata itu pun berbicara agak keras, “Pak.. Pak..”, memanggil ke arah supir. Tapi supirnya gak denger.

Karena berpikir dia mau berhenti atau mau nanya jalan ke supir, gue pun ikut membantu mas-mas itu, “Paak…” ternyata bersamaan dengan mbak-mbak karyawati itu. Dia mau bantu manggil supirnya juga kayanya.

Kita mungkin berpikir biasa aja. Karena kadang gue di tengah jalan juga suka nanya ke supir memastikan angkot ini lewat di tempat yang gue tuju apa gak. Tapi ternyata….

Tiba-tiba mas-mas jaket kulit itu mengeluarkan pistol, sambil teriak,

“Pak, jalan terus jangan berhenti, ambil kiri, jangan sampe kena lampu merah”

Gue syok, astaghfirullah, pistol di depan gue. Angkot ini dibajak. Gue berharap itu cuma halusinasi gue. Ternyata enggak, perampok berteriak lagi.

“Serahkan semua barang berharga kalian, cepaat”

Saking kagetnya gue cuma terdiam, memperhatikan lekat-lekat garis wajah orang itu. Mengingat semua atribut yang bisa gue jadikan informasi kalo selamat dan bisa lapor polisi. Anak SMA di samping gue duduk merapat, menunduk takut. Gue berusaha tenang di tengah gejolak jantung gue yang rasanya mau copot.

Pistol mengarah ke mbak-mbak karyawati, “Minta handphone kamu, cepaaaaat” sambil teriak. Mbak-mbak itu memberikan handphone nokia seri lamanya, yang biasa aja.

“Saya gak mau yang ini, saya mau BB, tadi saya liat kamu pegang BB, kasih ke saya” sambil melempar handphone nokia itu.

“Gak ada mas, gak ada” mbak-mbak itu panik dan mengaduk-ngaduk tasnya.

“Jangan bohong kamu, saya pecahkan kepala kamu nanti”

Mendengar ancaman itu, mbak-mbaknya langsung ngeluarin BB nya. Gue gak sempat menangkap itu BB seri apa, tapi warnanya putih. Tadinya perampok itu tertarik dengan bungkusan amplop coklat sedang yang mbak itu bawa, seperti amplop berisi uang kalau habis ngambil dari bank. Tapi ternyata isinya kain (gue gak tau pasti itu apa), amplop coklat sedang itu pun diabaikan.  Gue tetap berusaha tenang dan tidak mengeluarkan gerakan mencurigakan.

Matanya mengarah ke anak SMA di samping gue, “Minta barang berharga!!”

“Gak ada mas,” kata anak cewek itu. Ngeliat penampilan anak berseragam, lelaki itu mungkin berpikir percuma nodong mereka. Lalu…

Pistol mengarah ke gue. Allahu Rabbi. Gue diam melihat ujung pistol yang mengarah ke gue, kaki gue lemas, tangan memeluk erat-erat tas di depan gue. Entahlah, gue berpikir kalaupun gue ditembak, tas ini mungkin bisa jadi penghambat (walaupun gue tau itu gak akan ngaruh ).

“Kamu keluarkan barang berharga kamu, mana handphone, dompet?” dia ngomong sambil mengarahkan pistolnya ke gue. Gue diam memandang lurus ke lelaki itu, menajamkan ingatan, gue harus ingat banyak hal tentang orang ini. Please, ayo otak bekerja lah dengan baik.

“Jangan diam aja, cepaaaaat. Mau saya tembak kamu?”

“Gak ada bang, saya dari kampus gak bawa apa-apa” Gue masih berpikir untuk mengulur waktu. Ya Allah tolong saya.

“Jangan bohong” dia mulai menarik-narik tas gue, dan tetap menodongkan pistolnya. Gue mulai panik. Apa yang harus gue kasih. Dompet? Gak, gak bisa. Dompet gue banyak kartu-kartu identitas dan lainnya. Kalau gue kasih itu artinya gue nanti harus bikin lagi dan ngurus ke kepolisian. Ribet dan lama. Demi apapun juga, gue bahkan hampir tidak percaya, di keadaan terdesak seperti ini, dalam waktu secepat itu, gue bahkan sempet berpikir sulitnya birokrasi yang akan gue lalui nantinya dalam mengurus surat-surat hilang, kalo dompet gue mesti diambil. Gilak.

Haruskah gue ngasih handphone? Gak, gak bisa. Gue gak hapal nomor orang-orang. Bisa terkatung-katung gue kalo diturunin di tengah jalan, gak tau harus menghubungi siapa.

Gue gak bawa barang berharga apa-apa lagi. Di tas cuma ada buku kecil catatan perkembangan skripsi (ini berharga buat gue, tapi jelas gak mungkin gue kasih ke perampok itu), pulpen, Alqur’an, parfum, minyak kayu putih, tisu, apa-apa? Gak ada apa-apa lagi. Gue gak bohong.

Di tengah kalutnya pikiran gue memikirkan apa yang harus gue kasih, lelaki itu tetap menodongkan pistolnya ke gue. Handphone. Gue memeluk tas dan menyentuh handphone gue. Gue berpikir, yaudahlah ambil aja itu handphone, dari pada gue mati konyol di angkot ini. Tiba-tiba perampok itu teriak,

“Heh supir jangan macem-macem kamu,  jangan masuk ke macet, ambil kiri, belok, cepat belok”

Ternyata angkot yang gue tumpangi ini lewat dekat polisi lalu lintas di Samsat, lagi ngatur jalan yang macet. Perampok itu mengalihkan pistolnya ke supir, dia panik kayanya pas ngeliat polisi. Alhamdulillah. Gue lega seketika karena tidak berhadapan dengan pistol itu lagi, tapi masih belum aman.

Fokus si perampok teralihkan ke jalanan, memastikan dia aman. Sepertinya dia mengurungkan niat untuk melanjutkan perampokan ke gue. Alhamdulillah, sementara lega.

“Kalian awas ya jangan ada yang macam-macam ke saya, saya gak segan-segan menghancurkan kepala kalian satu persatu” gue menangkap logat berbicaranya. Bukan orang Sunda. Bukan Jawa. Apa ini, logat apa? Gue mengingat-ngingat, logat ini pernah gue dengar. Hampir yakin itu logat Sumatra. Kalau gak Palembang, Riau. Bukan Batak.

Ini bukan maksud menjustifikasi suku tertentu. Tapi ini oknum yang gue temukan.

Perampok itu mengeluarkan handphone, menelpon rekannya yang akan menjemput. Dia menyebutkan patokan-patokan yang sudah kami lewati, Carefour, plang iklan, lampu merah, apotik, semua yang dia liat.

“Cepat, kamu sudah dimana? Angkot sudah jalan jauh ini.” Perampok itu keliatah lengah, gue mencoba merogoh-rogoh hape, mencari bantuan. Tapi sangat sulit karena gue tidak mau mengeluarkan gerakan mencurigakan yang membuat perampok itu marah dan menembak gue.

Selesai menelepon sesekali dia mengancam kami sambil mengeluarkan pistolnya. Gue mencoba mengingat setiap kata yang dia keluarkan. Dia mengancam semua orang yang duduk di belakang, tapi sama sekali tidak mengancam mas-mas kuli itu. Gue pun berspekulasi mungkin mas-mas kuli itu komplotannya. Berarti gue gak boleh melawan. Gue mencoba mencari jalan. Gue merapat ke anak SMA itu, mencoba menghadap ke jalan yang terlihat dari pintu masuk penumpang, ingin rasanya teriak atau memberi kode bahwa kami terancam.

“Jangan naf, jangan macem-macem” kata gue dalam hati. Perampok itu di depan lo dan paling deket sama lo. Kalo dia ngamuk, bisa dipastikan gue sasaran pertamanya.

Ketika dia mengeluarkan pistol gue mencoba mereka-reka, itu pistol asli atau mainan ya. Gue perhatikan, dengan pengetahuan awam mengenai senjata api, gue merasa itu palsu. Itu bukan asli. Gue pernah lihat yang asli pas pengamanan Sea Games lalu, sama di satu acara pameran senjata. Warnanya beda, hitam pudar, pemukaannya halus, mirip pistol mainan yang pernah om gue beliin untuk adik gue, Fadel. Atau gue cuma berharap itu palsu?

WTH naf, jangan berspekulasi. Mungkin aja itu pistol seri lain yang belum pernah lo liat sebelumnya.

Gue merapat mencoba mengumpulkan tenaga, barangkali gue bisa menendang perampok itu. Posisi si perampok itu benar-benar di pinggir pintu, mencoba menghalangi pengelihatan. Tapi entahlah, gue benar-benar merasa jadi seorang yang begitu pengecut, gak bisa membela diri. Gak bisa ngapa-ngapain.

“Apa kamu lihat-lihat, jangan macam-macam kamu yaa, saya bisa tembak kamu”

Angkot kami terjebak lampu merah, dan ada polisi lalu lintas di sana. Gue sangat sangat berharap itu polisi melihat ke arah kami. Nihil.

Perampok itu panik, “Belok kiri, belok kiri supir, jangan macam-macam kamu, itu ada polisi. Atau saya tembak salah satu penumpang di sini”.

“Itu bukan trayek saya, arah saya lurus” kata si sopir.

“Saya bilang belok, atau mau saya tembak kamu?”

Gue terus berzikir. Berharap polisi sadar dengan angkot Cicadas-Cibiru yang keluar jalur ini. Ya Allah, tolong Ya Allah. Dan tetap nihil. Polisi itu gak bereaksi apa-apa melihat angkot kami yang keluar jalur.

“Diam kamu ya diam, saya tau kamu orang baik-baik, jangan macam-macam, saya juga gak mau macam-macam sama kamu, jadi diam saja kamu, awas ya” dia  berbicara ke arah gue dengan nada rendah, menekan kan setiap kata-katanya, gue ingat betul ekspresi wajahnya yang menatap tajam ke arah gue.

Angkot kami memasuki daerah yang tidak gue kenali, seperti pasar, macet, becek, kumuh, gelap, gue belum pernah kesana. Ini dimana? Gue melihat-lihat papan reklame mencari-cari pengenal daerah, alamat atau apapun itu. Perampok itu kembali menelpon temannya.

“Dimana bego? Cepat ini sudah jauh, serobot jalannya. Jangan lelet”

Perampok itu mengawasi kami. Sepertinya ia sudah lupa untuk kembali melucuti barang-barang kami (Alhamdulillah), dia hanya fokus sama temannya yang lelet menjemputnya. Sesekali iya masukkan pistolnya, jika angkot kami terjebak keramaian. Khawatir terlihat orang di luar. Tak lama kemudian, sekitar 5 menitan, gue melihat kebelakang, dua motor mulai memepet angkot. Satu motor berboncengan, satunya tidak, mereka mengancam dari luar angkot sambil terus berjalan dengan motor.

“Apa kamu liat-liat, awas kalau melapor”

“Jangan teriak-teriak di jalan bego, nanti orang curiga,” kata perampok yang diangkot, sambil beranjak turun. Motor melarikan diri dengan ngebut. Gue langsung inget plat nomornya. D 8825 YA.

Seketika penumpang angkot mengelos. Setengah jam penuh kami beradu kecepatan degub jantung, rasanya benar-benar tertekan. Gue sering ngeliat adegan menegangkan ini di film-film atau novel-novel detektif. Gue bahkan pernah membayangkan berada di sebuah bus yang dibajak perampok, tapi kemudian ada Spiderman. Ada Spiderman yang menyelamatkan kami semua, menangkap perampok tersebut. Dan benar saja gue mengalaminya.

Bertemu perampok, diancam dengan pistol, tapi gak ada Spiderman. Mana Spidermannya? Demi apapun film-film superhero itu semuanya bohong. Gue gak percaya lagi sama Spiderman. Gak ada Superman, Batman,Ultraman, atau apapun itu. Gak lagi-lagi gue ngebayangin yang aneh-aneh.

“Pak saya turun disini saja,” kata mbak-mbak yang handphonenya diambil, terlihat panik. Gue ikutan turun, supir angkotnya bilang, “Gak papa neng, kita nanti muter lagi”

Menurut lo? Gak, gilak. Gue gak mau berspekulasi meneruskan perjalanan dengan angkot yang sama. Gue membayar dan mengeluarkan handphone, ingin menghubungi orang langsung. Tiba-tiba,

“Udah neng gak usah lapor-lapor lah, toh kita semua selamat ini. Udah biarin aja neng, dari pada ntar neng yang kenapa-kenapa” DEG. Seketika gue menyadari sesuatu. Jangan-jangan… Penumpang lelaki berjaket kulit yang duduk di samping supir itu sepertinya komplotan juga. Gue langsung menyebrang naik angkot sembarangan ke arah berlawanan. Kembali ke jalur tadi. Cuma gue dan mbak-mbak yang dirampok itu yang turun, yang lainnya meneruskan perjalanan dengan angkot sama yang berbalik arah.

Gue panik. Siapa yang harus gue hubungi. Gak mungkin orang rumah, mereka jauh. Posisi gue yang kalut ditambah kekhawatiran orang rumah cuma bikin kacau. Gue sms dua orang temen gue yang nomornya teratas di message dan gue anggap mungkin bisa sigap memberikan solusi. Salah satu dari mereka, sebut saja Iwang, kemudian menelpon gue dan menanyakan posisi.

Gue bener-bener blank dan menyebutkan apa aja yang gue liat di sekitar gue. Dia nyuruh gue masuk ke tempat ramai, ke kafe atau apapun itu, sementara dia jalan ngejemput.

Demi apapun kaki dan tangan gue bergetar hebat, gue nangis gak bersuara. Ini bener-bener di luar dugaan gue. Bener-bener syok, ngebayangin pistol yang mengarah ke gue. Astaghfirullah.  Lalu Kantry, teman gue yang lain, nelfon, dia nyoba menenangkan dan nanya pelan-pelan posisi gue. Gue melihat ke sekeliling dan menangkap papan reklame besar berlampu. Yogya, Lucky Square. Gue jalan mengarah kesana sambil telfonan dan nangis.

Antara sadar dan gak sadar gue terus berjalan di tengah jalan. Ya, di tengah jalan. Menghindari mobil-mobil yang ada, dan terus mengarah ke Yogya, Lucky Square. Gue gak mau menyingkir ke pinggir jalan, gelap. Gue nunggu sambil duduk di kafe, entah apa itu. Menenangkan diri. Gue sms adek gue yang nomor dua, Mila. Mengabarkan kondisi gue tapi berpesan jangan ngasih tau nyokap bokap dulu. Khawatir mereka panik.

MENCOBA LAPOR KE POLISI

Sekitar 15 menitan kemudian temen gue dateng. Kita ke kantor polisi. Nyari-nyari keliling dan gak nemu. Entah karena kita panik atau gimana. Sampelah kita di Polsek Cibeunying Kidul.

Polisi nanyain ada apa, gue certain kejadiannya. Belum tuntas gue cerita dia ngomong, “Neng ini karena kejadiannya gak disini, coba neng lapor ke polsek yang dekat dengan tempat kejadian, di Soekarno-Hatta ya?”

“Iya pak, polsek mana ya pak?” Gak ngerti wilayah-wilayah Bandung.

“Eh, ari Soekarno-Hatta teh masuk polsek mana nya?” Polisi yang menangani gue, bertanya ke polisi lain.

“Euh, mana ya? Teu terang abdi ogeh, poho yeuh” Kata polisi itu. Lah? Yakali pak, bapak nyuruh kita ke polisi yang nanganin daerah itu tapi gatau dimana-dimananya. Dia aja yang polisi gak tau pembagian daerah-daerah kerjanya, apa lagi gue?

“Aduh neng, gak tau saya juga daerah mana. Kalo gak polsek XX berarti polsek YY, apa ZZ ya?” Dia ngomong ke gue sambil nanya ke polisi lain.

“Gini aja neng, biar aman ke Polrestabes Bandung aja, mereka nanganin sebandung da, bisa disana mah, insya Allah. Cakupan mereka kan lebih luas ya. Da ini mah masalah ranah kerja dan wilayah kekuasaan neng, tempat kejadian ini bukan di wilayah kita. Neng ngerti lah ya” katanya menjelaskan.

“Oh yaudah pak” Berbasa-basi sebentar baru meluncur ke Jalan Jakarta. Polisi itu sempat meminjam KTP dan mencatat identitas gue. Gue paham sih kalo masalah perbedaan wilayah ini, yang bikin kesel adalah, mereka sendiri gak tau pembagian wilayah polsek-polsekan itu. Emang mereka gak ada koordinasi apa. Nggak ngerti. Gue sama sekali tidak tercerahkan.

Lalalalalaa,

Sampailah kita di Polrestabes Bandung. Tidak jauh berbeda, menyampaikan maksud kedatangan untuk laporan dan menceritakan kejadian. Polisi tersebut ngomong, “Begini dek, bukannya tidak mau bantu, tapi Polres di kantor ini hanya mengurusi bagian pengawalan, pariwisata dan lalalalalalaa (gue lupa dia ngomong apa), biar lebih maksimal coba adek melapor ke kantor yang di jalan Jawa, yang tempat bikin STNK, tau kan? Polwiltabes Bandung. Nah lapor kesana. Bukannya tidak mau bantu, tapi biar lebih maksimal ya”

“Apaah” kata gue, dalam hati. Baiklah.

“Ooh..” Gue cuma bisa ber-ooh saja. Sebagai warga yang awam masalah beginian, gue baru tau prosedur untuk melapor dan meminta perlindungan saja ribetnya kaya gini. Well, gue cuma mau bilang tadi gue ditodong pake pistol dan gue pengen kalian nangkep itu orang. Gue hapal mukanya, gue inget plat nomornya, gue bisa deskripsiin ciri-cirinya.

Sabar. Berpikir positif naf, kalo lo emang gak ngerti hukum, jalurnya emang begitu, lo aja yang gak paham. Baiklah. Gue meluncur ke jalan Jawa.

Di situ ada tiga orang polisi laki-laki dan seorang polisi perempuan. Gue melapor. Gue bilang kalo habis ditodong pake pistol di angkot lalalalalaaa..

“Barang adek apa yang hilang?”

“Gak ada pak, yang hilang itu handphone mbak-mbak yang satu angkot dengan saya”

“Oh kalo gitu adek gabisa bikin laporan, karena adek statusnya saksi”

“Tapi saya juga ditodong pak, cuma karena dia liat polisi lalu lintas terus dia panik jadi dia…”

“Tetep gak bisa dek,” Polisi itu bahkan memotong pembicaraan gue yang belum selesai.

“Sekarang adek bisa gak menghubungi orang yang kehilangan itu dan minta melapor kesini, adek sebagai saksi” kata polisi yang lainnya.

“Saya gak kenal pak, kita pisah di tengah jalan karena panik”

“Oh yasudah kalau begitu”

“Tapi saya inget wajah pelakunya pak, saya bisa deskripsiin, saya ingat plat nomor motor yang jemput dia”

D 8825 YA, gue sebutkan nomor itu.

“Wah ini palsu dek platnya, motor itu nomornya dari 2000 sampe 6999, di atas itu udah beda. Kalo awalnya 88 itu mobil buntung, semacam kolbak”

Gue mengelos. “Adek inget plat nomor angkotnya?” Tanya polisi itu lagi.

“Sayangnya gak pak, saya panik dan langsung lari begitu selamat”

“Padahal bisa aja itu kerja sama dengan supir, biasanya sih begitu” Gue diam.

Biasanya begitu? Oh my God. Jadi menurut lo ini hal biasa. Jadi lo udah tau ini biasa terjadi? Gak tau deh, udah gak ngerti lagi gue.

“Jadi saya gak bisa meneruskan laporan pak”

“Enggak bisa, pertama plat motor udah palsu, gak bisa dilacak. Terus adek juga gak ingat plat angkotnya, yasudah apa lagi?”

“Tapi saya ingat wajahnya pak, mereka bawa pistol, bahaya banget kalo mereka masih berkeliaran, jalanan itu sering saya lewatin dan mereka masih bebas pak, bisa aja nanti mereka beraksi lagi” Gue masih ngotot.

“Pistolnya asli apa gak?”

“Ya mana saya tau pak, tapi kalo menurut pengelihatan mata awam saya sepertinya palsu, tapi saya gak berani berspekulasi”

“Terus adek kenapa gak teriak aja?”

“Ya menurut bapak aja gimana? Saya hampir mati ditodong pistol dan bapak ngomong kaya gini aja?” Gue mulai emosi dan menahan diri supaya gak nangis lagi.

Ya menurut lo aja gue mau teriak dengan moncong pistol yang terarah ke gue. Gilak! Walopun gue juga sempat berpikir itu pistol palsu. Coba tolong jelasin gimana caranya gue bisa teriak minta tolong dengan baik dan benar.

“Jadi saya gak bisa meneruskan laporan ini pak?” Gue mengulang pertanyaan.

“Adek kan gak kehilangan apa-apa, adek cuma saksi”

“Pak saya cuma mau jadi warga Negara yang baik, melaporkan  bahwa saya baru aja berada di dalam kondisi yang tidak aman, saya cuma mau menyampaikan apa yang g saya alami, paling gak bapak jadi patroli disana kek, apa kek, kasih pengamanan atau apa kek, Ya Allah” Dia bahkan males meneruskan untuk mendengarkan laporan gue.

Baiklah.

Apa gue harus kehilangan duit dulu, kehilangan handphone atau kehilangan nyawa bahkan, baru bisa melapor. Astaghfirullah.

Temen gue mencoba menenangkan dan berpamitan.

“Yaudah fay, mungkin emang gitu prosedurnya, gue juga gak ngerti kenapa ribet kaya gini, mesti muter-muter ke beberapa kantor, ini jadi pelajaran buat kita, yang penting sekarang lo aman, tenangin diri dulu. Kita udah ikhtiar buat ngelapor, masalah tanggapan polisinya, yaudahlah. Mungkin dia baru sadar kalau anak perempuannya yang menghadapi kejadian yang sama kaya lo. Sabar ya”

Begitulah. Intinya gue mencoba melapor dan ternyata mereka memberikan tanggapan yang menurut gue tidak menggubris sama sekali. Entah karena gue yang gak paham posisi yang memang tidak bisa melapor, entah karena kejadian itu udah biasa, entahlah.

Malem ini gue seperti semakin diteguhkan untuk tidak bisa mempercayai polisi-polisi itu. Mereka bahkan tidak bisa bersandiwara, berbasa-basi menenangkan gue. Kalo pun gak niat untuk menindak, gue sarankan ada baiknya lo (polisi) buat pura-pura care aja, sok-sok nyatet apa kek gitu. Paling gak bikin korban merasa tenang, berpikir kalo kalian peduli. Ternyata tidak sama sekali.

Ya Allah.

Pantesan ya kejahatan tumbuh subur dan terpupuk dengan baik di Indonesia ini. Untuk sekedar melapor saja gue harus loncat pindah-pindah ke beberapa kantor. Dan akhirnya ditanggapi dingin. Karena gue dianggap tidak merugi apa-apa, tidak kehilangan apa-apa.

GUE KEHILANGAN RASA AMAN BUAT HIDUP DI BANDUNG DAN MENGGUNAKAN KENDARAAN UMUM. Terima kasih banyak.

Gue mencoba mengambil hikmah sedalam-dalamnya dan sebanyak-banyaknya. Mungkin ini teguran buat gue, peringatan buat orang-orang di sekitar gue buat lebih berhati-hati. Yaudahlah ya, jadi pengalaman aja.

SEBELUMNYA…

Jumat (24/2) seharusnya jadi hari yang selow-selow aja buat gue. Ada dua kabar bahagia bahkan yang gue dapet. Pertama, salah satu teman gue Asep Rovi, mantan Presiden Kema Unpad (sengaja gue tulis biar keren, ya nggak sep :D) akan sidang kompre hari itu. Kedua, gue dapet telfon dari ITB yang minta gue mewakili adik yang menang lomba desain karena dia lagi di Korea (ciee, adeknya jagoo).

Setelah mengurusi lalalaa, hal yang berkaitan tentang desain Sasaki yang menang, jam 12.05 abis sholat zuhur langsung cabs ke Jatinangor. Jalanan hari itu membahagiakan, lancar jaya karna Jumatan. Sidang Asep juga lancar jaya, dia lulus. Horeee… Ini fotonya.

Lia, Asep, Kang Ala, gue @sidang kompre FTIP

Gue sama Lia balik, jalan berdua bentar, ngobrol. OMG. Udah sore banget, menjelang magrib. Karna takut kehabisan damri ke Bandung, gue langsung buru-buru balik. Nyetop damri di tengah jalan dan bye bye Lia, Altov (ketemu Altov pas lagi jalan).

Pas naik damri, lah kok sepi? Cuma ada abang supirnya doang. Pas gue tanya,

“Ini udah mau balik ke pul neng, neng mau kemana?” Kalo sore damri biasanya balik ke pul Gedebage.

“Ke Dago pak, ntar lewat Soekarno-Hatta kan? Saya turun pas sebelum muter balik ya Pak..”

“Iya neng..”

Yahh, ini sebenernya udah jadi rute biasa buat gue. Kalo damri udah abis biasanya gue naik ini sampe puteran Soekarno-Hatta, baru naik angkot apapun (bayar 1000) sampe arah Riung dan lanjut naik angkot Riung-Dago sampe depan gang kosan (bayar 3000). Atau gak naik Babon (bus Bandung-Cirebon) sampe Cicaheum, baru naik angkot Cicaheum-Ciroyom sampe Simpang Dago. Atau naik travel ke Bandung.

Tiga alternatif ini biasanya gue pilih random aja, mana yang paling cepet terjangkau saat itu. Gak ada pikiran macem-macem, karna sampe kemarin sore, gue merasa Bandung itu cukup surga buat pengguna angkutan umum kaya gue, relatif aman lah dari pada Jakarta (menurut gue).

Gue langsung ambil tempat duduk paling depan, ngobrol sama supir. Selain suka seru dapet cerita mereka yang macem-macem, ini gue pilih biar lebih aman. Biasanya gue nyatet nama dan nomor polisi damrinya (atau angkutan apapun itu) kalo ada “apa-apa” (naudzubillaah) paling gak gue ada pegangan data untuk ngelacak.

FYI, kalo naik taksi juga gitu, gue selalu nyatet nomor identitas supir, plat nomor dan apapun yang bisa gue catet. Catet di handphone atau buku kecil, atau sms random ke sapa aja (nyokap, bokap, adek ataupun temen deket gue). Biasanya mereka langsung bales,

“Sms apa sih lu, gak jelas beut” <— bukan emak babeh gue pasti yang sms kalo bahasanya beginian.

Gue cengar cengir aja sendiri, gak bales sms. Kalo udah ketemu dan ditanya baru gue jelasin.

Itu data woi, data gue.

Dan itu jadi kebiasaan baik (menurut gue) yang kadang temen gue yang naik taksi bareng suka mikir kalo gue ribet. Bodo dah.

Ini adalah buah protektif emak babeh gue yang suka rewel kadang, ke gue dan adek-adek,

“Hape itu bukan untuk ditaro di tas aja”

“Pulsa jangan sampe kosong, kamu itu jauh dari rumah”

“Kalo pergi kemana-mana kabarin kak, dek”

“Kalo udah nyampe Bandung sms, telfon, kabarin”

Kalo orang berpikir orang tua kaya gitu adalah orang yang ribet dan kolot, menurut gue enggak, enggak sama sekali. Gue malah seneng ditelfon mulu, ditanyain lagi dimana, itu tandanya mereka sayang sama kita. Mereka selalu percaya sama gue (sama semua anak-anaknya buat melakukan hal ini-itu, kesana kemari) asal ada jaminan kita aman dan laporan kemana pun itu. Cuma gue aja yang rada bandel kadang, males buat laporan.

Hingga kemaren gue merasa strong-strong aja. Pulang malem (dengan suatu alasan ya, bukan main doang, eh kadang main sih, maap), kemana-mana sendiri. Tapi gak buat jumat malem kemaren.

Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih memberikan keselamatan kepada saya malem kemarin sehingga saya tidak kurang satu apapun. Allah sayang banget banget banget sama saya. Alhamdulillaaaah.

—-Kembali ke damri—

Gue sms Lia, “Gue cuma berdua aja dong sama abangnya. Huooo. Damrinya mau balik ke kandang.” Sent.

Semoga gak ada apa-apa.

Kesannya emang sms biasa aja. Tapi itu sebenernya #kode (azegah, gue #kode banget anaknya). Maksudnya kalo ada apa-apa, paling gak ada yang tau posisi terakhir gue. Dan kali ini gue memilih Lia karna dia yang terakhir bareng sama gue sore ini (ciee Lia, selamat yaaa, uhuk).

Ngobrol-ngobrol sama supir, dan sampelah kita diputeran balik yang gue tuju itu,bayar, basa-basi dan turun.

“Makasih ya Pak, duluan, sampe ketemu lagi, assalamualaikum” keliatan sok akrab yeiy. Emang akrab kita karena obrolan sepanjang jalan tadi (cerita ini menyusul).

Gue turun, nyebrang dan memilih spot nunggu angkot yang terang. Buat yang belom tau jalan Soekarno-Hatta, gue jelasin. Itu jalannya gede banget, jalan raya. Satu jalur ada tiga ruas jalan (apa empat ya? Tiba-tiba lupa), karena dua jalur jadinya ada enam ruas jalan (atau delapan, begitulah). Jalannya panjang, sepanjang jalan kenangan dan relatif sepi, bukan daerah pejalan kaki.

Gue memilih spot bertemunya cahaya lampu-lampu mobil yang mau muter arah. Dan berdiri di sebrang tempat polisi pengatur lalu lintas berdiri. Maksudnya kalo ada apa-apa gue bisa langsung terlihat jelas sama polisi tersebut. Dan gue merasa sudah cukup aman dengan strategi-strategi yang gue bayangkan.

Ada sekitar lima angkot (trayek tujuan gue) yang lewat. Tapi gak gue naikin karena sepi. Cuma ada 1 orang penumpang atau 2 orang. Ada juga yang cuma supir aja. Gue menunggu angkot yang agak penuh dan menurut gue (lagi-lagi menurut gue) aman. Dan tadaaaa… angkot Cicadas-Cibiru lewat. Ada enam penumpang dibelakang dengan kombinasi usia dan gender, plus seorang supir di depan. Bangku depan kosong. Gue masuk dan duduk di belakang.

Hingga 5 menit kemudian terjadilah hal yang bikin gue trauma sampe hari ini.

Guys and girls, or whoever you are, hati-hati dan tetap waspada ya kalo pada naik angkutan umum. Well ini jadi pelajaran berharga banget buat gue. Buat kita semua Insya Allah. Bye.