The Boy in the Striped Pyjamas

Film ini bercerita tentang seorang anak Jendral Jerman, bernama Bruno. Suatu ketika Bruno sekeluarga harus pindah dari Berlin, ke suatu tempat yang jauh dari keramaian. Bruno pindah untuk mengikuti ayahnya yang bertugas di daerah tersebut. Sejak pindah, banyak hal dari hidup Bruno yang berubah. Ia tidak lagi punya teman bermain, tidak punya tetangga, tidak pergi ke sekolah tapi dipanggilkan guru, kakak perempuannya-Greta-juga mulai berubah sejak belajar dengan guru baru mereka.

Bruno kemudian bertemu dengan seorang anak seusianya yang setiap hari menggunakan piyama, Shmuel, di sebuah tempat yang jauh dari pekarangan belakang rumahnya. Penampilan mereka sangat kontras. Bruno tumbuh sebagai anak yang cerdas dan suka berpetualang, rapi, ia juga sangat semangat, meski kadang tindakan keras ayahnya membuat Bruno takut. Sedangkan Shmuel tampak kurus, murung dan berantakan. Bruno dan Shmuel kian hari kian akrab saja. Setiap hari Bruno mendatangi Shmuel, secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua dan kakaknya.

Film ini mengambil sisi lain dari tindakan Nazi yang memusnahkan Yahudi. Tentang persahabatan Bruno (keturunan Jerman) dan Shmuel (Yahudi). Ceritanya sangat menyentuh dan bikin nangis parah :(.

Karena keduanya tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, pikiran mereka masih sangat polos. Bagaimana kisah persahabatan mereka berdua? Di sisi lain, ibu dan ayah Bruno memiliki hubungan yang semakin tidak baik, karena keputusan dan kebijakan ayah Bruno daam pekerjaannya. Apa itu? Hemm.

Kalau mau tau langsung aja nonton. Karena kalau diceritain jadi ga seru. Gw berani jamin ini film bagus banget, menyentuh, bikin nangis tersedu-sedu. Bercerita tentang kehidupan politik dan sosial zaman Nazi, tapi dikemas dengan pandangan anak-anak. Ini cuplikannya, yang diunduh dari Youtube.com.

Selamat menonton!!

Huhuhuw. (Nangis sedih-sedih)

Potret Pendidikan Indonesia

Suasana hari pendidikan belum sepenuhnya hilang dari benak kita. Yap, tepat tanggal 2 Mei kemarin, Indonesia baru saja memperingati hari Pendidikan Nasional. 2 Mei merupakan tanggal lahir dari KI hajar Dewantara, semasa hidupnya mengabdi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Namun, setelah sekian lama diperingati, ternyata pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berada dalam taraf sempurna. Apakah hal tersebut menjadi motivasi dalam perbaikan di Indoneisa? Bisa iya, bisa tidak. Masih banyak bolong-bolong kekurangan yang harus ditambal satu persatu.

(Foto: google.com)

Ada beberapa permasalahan yang saling berkaitan.

Pertama, dicabutnya UU BHP. Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang putusan uji materi Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) menyatakan UU ini inkonstitusiona karena bertentangan dengan UUD 1945 [Antaranews.com].

Putusan ini memang diamini oleh sebagian komponen masyarakat. Karena dianggap sebagai upaya komersialisasi pendidikan.

Namun, apakah ketika UU BHP tersebut dicabut masalah akan selesai? Tidak. Karena dunia pendidikan kini harus merumuskan kembali sistem apa yang tepat untuk  digunakan. Dunia pendidikan di Indonesia bisa jadi malah kehilangan arah. Lalu bagaimana tindakan pemerintah saat ini? Pemerintah tengah menggodok Perpu Pengganti BHP. Tapi belum apa-apa, beberapa elemen masyarakat sudah menyampaikan penolakannya.

Kedua, realisasi anggaran pendidikan 20% yang murni digunakan untuk kegiatan pendidikan (tidak termasuk gaji guru). Saat ini anggaran pendidikan memang sudah mencapai 20%. Namun, hingga kini anggaran tersebut termasuk untuk gaji guru. Sementara persentase gaji guru bisa mencapai 6%-7%. Jika dihitung-hitung, maka alokasi tersebut cukup besar dan mempengaruhi anggaran pendidikan.

Untuk itu, seharusnya pemerintah benar-benar merealisasikan 20% anggaran pendidikan yang murni tanpa potongan apapun. Sehingga pemerataan pembangunan dan fasilitas pendidikan bisa menyentuh seluruh institusi pendidikan. Karena tidak dipungkiri, fasilitas cukup menunjang kegiatan pendidikan selama ini.

Ketiga, sertifikasi guru. Hal ini juga mau tidak mau berpengaruh dalam proses pendidikan di Indonesia. Kemampuan guru dalam menyampaikan materi juga mempengaruhi tingkat pemahaman para siswa. Sehingga dibutuhkan akreditasi guru yang mengajar.

Keempat, ujian nasional (UN) bukan sebagai satu-satunya faktor penentu kelulusan siswa. Institusi pendidikan di daerah pelosok tentu lebih berat menerima kebijakan angka standar kelulusan yang terus meningkat. Sementara pada proses belajar, mereka tidak mengalami kemajuan. Fasilitas minim, guru terbatas (bahkan kadang masuk-kadang tidak), akses yang masih sulit.

Tentu angka atau nilai standar dibutuhkan untuk mengetahui kompetensi yang berhasil dilalui oleh siswa. Angka tersebut juga bisa dijadikan acuan dalam melihat kondisi pendidikan. Namun jika ujian nasional disamaratakan akan menjadi sangat tidak adil. Mengapa? Karena kondisi kegiatan belajar-mengajar di pedalaman dan pusat kota sangat berbeda. Siswa di pusat kota bisa saja mendapatkan guru terbaik, fasilitas cukup, ditambah dengan suplemen les dan bimbingan belajar. Sementara kondisi di pedalaman, guru yang masuk tiap hari belajar saja sudah untung. Fasilitas kurang, dan sebagainya.

Untuk itu, program pemerintah di bidang pendidikan seharusnya benar-benar mempertimbangkan segala sisi. Jangan hanya mengejar kuantitas tetapi utamakan kualitas. Nyatanya? Saat ini tidak sedikit sekolah yang pasrah terhadap ujian nasional, mengejar target kelulusan dengan berbagai cara. Hasilnya, tercatat banyak pelanggaran dalam pelaksanaan UN.

(Foto: google.com)

Kalau begitu, apakah tujuan pendidikan tersebut sudah tercapai sepenuhnya? Atau bahkan menjadi bumerang?

Persentase kelulusan pun menurun. Jika dibandingkan dengan 2009 yang persentase kelulusannya mencapai 93,74 persen, maka persentase kelulusan tahun ini mengalami penurunan sebesar 3,86 persen menjadi 89,88 [Tempointeraktif.com].

Memang, segala permasalahan yang terjadi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tetapi juga semua komponen masyarakat. Segalanya ada ditangan kita masing-masing. Apakah kita mau turut menyumbangkan perubahan atau hanya penanti perubahan.

Lets doing something!!

SEMANGAT Untuk Negeri!!

=)

(lagi-lagi) Kedatangan Presiden Abaikan Hak Rakyat

Senin, 7 Desember 2009.. (FYI, tulisan ini sebenernya udah lama beres, cuma kelupaan di posting, hehehe..)

Menurut Anda pernyataan saya terlalu mengada-ada?

Toh, faktanya memang seperti itu. Apa mau ditutup-tutupi?

Anda mungkin tau, ini tulisan kedua saya di blog, yang mengkritisi kedatangan SBY ke Bandung.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan datang ke Bandung, Selasa (8/12), untuk membuka “Asean Parlementary Assembly”. Sejatinya, kedatangan seorang pemimpin tertinggi di pemerintahan bisa memberikan kebahagiaan bagi rakyatnya. Boro-boro..

Datangnya baru besok, tapi udah mendzolimi banyak orang termasuk saya.

Sepanjang jalan Simpang Dago, penjual makanan yang pakai warung tenda gitu, pada ga ada. Polisi udah berjejer dari kapan tau, di sepanjang jalan. Muter-muter, ngider-ngider. Sepanjang jalan Dago memang disterilin. Secara SBY nginepnya di Sheraton Hotel katanya.

Walhasil, jadilah saya kelaperan semaleman. Kaga ada yang jualan bung!

Itu baru dari sisi saya, belum dilihat dari sisi penjualnya. Bayangin berapa rupiah yang harusnya mereka dapat, tapi jadi gada karena ga jualan..

Selasa, 8 Desember 2009

Kedatangan SBY disambut sama beberapa aksi mahasiswa. Aktivis HMI, FPR, Aliansi BEM Se-Bandung Raya, dan lain lain. Dari hasil pantauan saya, ada beberapa orang penting juga yang mengiringinya. Di antaranya RI 7, RI 13, RI 49 dan RI 52..whuee, guest who. hahaha

Kedatangan SBY mengerahkan pasukan dari TNI, Polri, Polda. Sayang saya gabisa dapet angka pastinya. Tapi menurut Kombespol. Mutiono, dari Polda saja diturunkan sebanyak 2000 personil. Banyaakk yaa.. Hahahaha..

polisi berjaga-jaga

Saat SBY dan rombongan keluar dari Gedung Merdeka Bandung, lalu lintas di sekitar daerah tersebut dihentikan, semua mobil dan kendaraan lain dilarang untuk melintas. Masyarakat banyak tertahan selama 11 menit. Di sana suara klakson bersahut-sahut. Yooii, sapa juga yang kaga sebel nungguin, dilarang jalan selama itu.

polisi menahan pengguna jalan untuk melintas
polisinya tepat di depan posisi gw berdiri ~_~

See? Inilah cerminan pemimpin kita. Dan menurut saya dari situ banyak banget pihak yang dirugiin.

deklarasi SBY-Boediono

malem ini merupakan hari bersejarah bagi sby dan pendukungnya. yoi, malem ini sby lagi deklarasi untuk jadi calon presiden bareng boediono. SBY BERBOEDI. (SBY BERsama BOEDIono)

gw baru aja cabut dari sabuga, tempat deklarasi SBY. Rame, pasti. Banyak polisi, Yoi. Macet, apa lagi..

kedatengan sby ke bandung ini pun disambut sama beberapa aksi massa yang turun ke jalan. isunya macem-macem, ada yang tolak sby, ada yang mengusung tema tentang kegagalan sby dalam merealisasikan reformasi lah, ada yang minta kampus untuk netral (sabuga=itb=tempat deklarasi sby) gitu deh.

wedeehh. mantep dah.

beberapa saat jalan dago menuju sabuga rada rebek gitu. polisi ada dimana-mana.  karna base camp nya sby tadi di sheraton hotel soalnya.

tadi gw bareng riska dan sarah nyoba jalan dan masuk ke sabuga. tapi, sesuai dugaan kita sebelumnya, yaa mana bisa masuk. lo pikir aja? sapa lo? hahaha. yang masuk yang punya undangan aja.

mencoba memastikan aja, kaya gimana sih salah satu orang yang nyalonin diri jadi presiden di negara gw tercintaa.

hahaha. tapi gw malah diliatin gitu. iyaa laah. ”sapa dah ni bocah, nyelip-nyelip ga jelas?” gitu kali ya mereka kalo kiat gw.

sepanjang jalan dago-simpang kaga ada yang jualan. libur mereka. karena ada sby apa ya?

buset dah. belum apa-apa udah ngilangin penghasilan orang aja. haha

bingung gw. sepanjang jalan gw lewatin rumah orang, toko, kosan, kafe, tukang cukur, tukang pulsa yang ada tv nya, tontonannya sama. deklarasi sby.

beghh. au dah.

ribet bener dah..