Bayang Hitam Dunia Jurnalistik Indonesia

Dunia jurnalistik merupakan salah satu hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, khususnya pada era perkembangan teknologi informasi yang semakin meningkat ini. Hampir setiap hari orang-orang, baik sengaja ataupun tidak, terkena terpaan media. Informasi dari dunia jurnalistik sebagai salah satunya.

Di Indonesia sendiri saat ini mengalami perkembangan pesat dalam dunia jurnalistik. Semakin banyak media massa yang lahir untuk berperan dalam penyampaian dan penyebaran informasi di tengah masyarakat. Berita hadir di berbagai jenis media massa, mulai dari televisi, siaran berita di radio, koran, majalah, tabloid, maupun media konvergensi, internet, dan lain sebagainya. Masing-masing media, cetak maupun elektronik memiliki karakteristik tersendiri. Jika saya khususkan pada media elektronik, kecepatan informasi menjadi salah satu kelebihan dan perhatian khusus bagi para pekerja media jenis ini.

Aktualitas menjadi komoditas tersendiri dalam beberapa media. Setiap media selalu ingin menjadi yang pertama dalam menyampaikan informasi. Karena kecepatan tersebut akan membangun rasa percaya pemirsanya untuk terus mengakses media elektronik tersebut. Entah televisi, radio maupun internet.

Namun aktualitas yang dibangun tidak selalu beriringan dengan akurasi dalam penyampaian informasi. Ini menjadi salah satu bayang-bayang hitam dunia jurnalistik. Karena jika ini terus berulang, maka bisa jadi tingkat kepercayaan pemirsa tergerus dengan sendirinya.

Contohnya saja pada situs media internet, Detik.com, yang menghadirkan berita secara berseri. Misalnya pada kasus tabrakan pada suatu daerah, disampaikan ada 10 orang korban tewas dengan rincian namanya. Namun beberapa saat kemudian, muncul berita lagi di situs yang sama, yang mengatakan bahwa tidak ada korban tewas melainkan hanya luka berat.

Pemberitaan ini tentu bisa berakibat buruk, karena keluarga yang mencari informasi melalui media massa ini salah mendapatkan informasi. Namun, di lain pihak, Detik.com mengatakan inilah karakteristik pemberitaan mereka yang berseri, yang terus menghadirkan perkembangan kasus. Tapi bukan berarti ini menjadi tameng bagi mereka untuk menghadirkan berita berdasarkan kecepatan saja. Akurasi pemberitaan tetaplah menjadi hal yang nomor satu.

Sama halnya dengan bencana alam gempa bumi di Padang ataupun meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta. Baik tvOne maupun Metro tv mengklaim sebagai stasiun televisi pertama yang berhasil mengudara dari sana untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Sebegitu berharganya predikat pertama dan tercepat bagi media massa, padahal entah sengaja atau tidak, hal itu mengabaikan hak pemirsa dan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat.

Permasalahan utama tidak hanya pada kecepatan media massa yang kerap mengabaikan akurasi, ada juga permasalahan pemilihan narasumber, kebenaran suatu informasi, hingga tren baru untuk menghadirkan informasi yang sedang berproses secara langsung (live).

Misalnya kasus Eko Ramaditya Adikara, seorang bloger tunanetra yang mengaku menciptakan musik-musik game nitendo dari Jepang. Kehadirannya dalam diskusi mengundang banyak perhatian, sampai suatu saat sebuah stasiun radio mengundangnnya sebagai pembicara dalam sebuah dialog. Pada kesempatan itu Rama mengatakan suka musik game dan bahkan bisa menciptakannya. Dari situ Rama mengaku sebagai pencipta beberapa musik games buatan Nintendo, penghasil video game yang sudah terkenal.

Sejak itu Rama banyak diwawancarai oleh media cetak, diundang dalam acara-acara di media televisi dan radio, bahkan sempat mendapat penghargaan dari Kick Andy sebagai salah satu pemuda yang berprestasi. Sekian banyak media massa yang meliput, namun ternyata tidak ada yang menangkap keganjilan pengakuan Rama.

Kebohongan Rama malah terbuka oleh para bloger yang juga aktif dalam komunitas game. Bahkan tidak ada satu media pun yang berinisiatif mengkonfirmasi kepada pihak nitendo, padahal kalau ini berita benar, tentu merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Ini bukanlah suatu hal yang sederhana, karena melibatkan perusahaan besar Negara lain.

Media mentah-mentah percaya pada pernyataan seseorang yang menjadi aktor utama dalam kasus ini, tanpa mengkonfirmasi ke pihak lain yang bersangkutan. Padahal salah satu tugas media massa, khususnya dalam dunia jurnalistik adalah mengkonfirmasi ulang, melakukan cek dan ricek, sehingga berita tersebut benar-benar pasti kebenarannya. Tidak hanya mengandalkan satu sumber saja.

Walaupun kesalahan tidak seutuhnya dilakukan oleh media massa, melainkan oleh pernyataan Rama, namun tugas media massa dan para jurnalis lah dalam mencari kebenaran tersebut.

Bayangkan saja, berapa banyak masyarakat yang pada akhirnya mendapatkan berita tidak benar, mengenai kebolehan Rama dalam menciptakan musik-musik game nitendo. Ini merupakan gejala kerapuhan media massa yang terjadi secara massal. Kita tidak bisa menduga bagaimana jika hal tersebut bersangkutan pada informasi yang penting dan menyangkut pada keselamatan jiwa banyak orang.

Kemudian ada pula tren menghadirkan segala informasi secara langsung, tepat pada kejadian untuk mengejar eksklusifitas yang berujung pada tingginya rating sebuah media. Padahal pada pemberitaan yang dihadirkan secara langsung memiliki dampak-dampak tertentu. Media massa, besar maupun kecil, tentu harus bisa mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi dari penayangan informasi secara langsung.

Kasus penayangan langsung (live) persidangan kasus Antasari Azhar mengenai skandalnya pun menjadi sorotan dan hal yang penting untuk diperbaiki dalam dunia jurnalistik. Hal tersebut terjadi pada pemberitaan tvOne yang menayangkan langsung kasus persidangan Antasari Azhar.

Saat itu persidangan sedang memproses skandal seks Antasari dengan seorang perempuan yang disinyalir berujung pada pembunuhan. Pada sidang tersebut, tentu Antasari dihadirkan dengan berbagai pertanyaan dan penjelasan kasusnya.

Namun ternyata pada sidang tersebut terdapat hal-hal tabu yang tidak seharusnya diketahui banyak orang, mengenai rekonstruksi pertemuan Antasari dengan Rani Juliani, istri muda Nasrudin Zulkarnaen yang diduga tewas terbunuh oleh Antasari. Bahkan kronologis hal-hal yang dilakukan Antasari dan Rani yang dilakukan dalam sebuah kamar hotel.

Padahal berita tersebut mungkin ditonton oleh banyak masyarakat, karena besarnya kasus dan orang-orang penting yang terlibat. Bukan tidak mungkin anak kecil, remaja dan usia penonton yang belum dewasa turut menyaksikan persidangan tersebut.

Hal ini tentu harus menjadi perhatian media massa. Paling tidak ada tindakan antisipasi kemungkinan kasus dan apa yang akan terjadi dalam persidangan tersebut. Ini tentu berakibat tidak baik bagi penonton berita televisi di Indonesia.

Selain itu, ada pula kasus penggrebekan tersangka pelaku teroris, yang juga ditampilkan oleh tvOne. Bak drama action, detik demi detik penggrebekan dihadirkan dengan sangat detail. Bagaiman tim densus dan kepolisian menyusun strategi, menyebar massa untuk mengepung, melakukan aksi saling tembak hingga melempar bom untuk melumpuhkan tersangka yang menjadi incaran.

Paling tidak ada dua hal dampak negatif yang saya tangkap dari hal tersebut. Pertama, bisa jadi ini menjadi referensi dan informasi “emas” bagi rekan tersangka di luar sana yang menyaksikan televisi. Yang kemudian bisa jadi melakukan komunikasi dengan tersangka yang menjadi incaran, untuk menghindari tempat-tempat yang sudah dikepung polisi dan beralih ke tempat lain untuk melarikan diri. Itu jika benar bahwa terangka merupakan teroris yang diincar, bukan tidak mungkin tayangan tersebut justru memudahkan tersangka untuk lari dari kepungan polisi.

Di sisi lain, bagaimana dengan psikologis keluarga tersangka yang diincar. Mereka menyaksikan secara langsung drama penangkapan yang bisa jadi berujung pada kematian keluarga mereka. Bahkan drama tersebut dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang mengakses stasiun televise tvOne. Apakah pihak media mempertimbangkan hal-hal tersebut? Bagaimana kondisi psikologis keluarga yang mengalami trauma dan tekanan yang cukup berat. Dan bagaimana jika ternyata tersangka bukanlah orang yang dicari, alias salah sasaran?

Hal-hal seperti ini seyogyanya perlu menjadi perhatian bagi dunia jurnalistik, agar jangan sampai tugas mulia para jurnalis untuk mencerdaskan bangsa, salah satunya, menjadi boomerang tersendiri.

Beberapa pemaparan di atas hanya sebagian dari bayang hitam dunia jurnalistik di Indonesia. Meski begitu, kita tidak bisa menjustifikasi bahwa semua media melakukan hal yang sama. Dan tidak selamanya beberapa media yang saya sebutkan di atas selalu melakukan kesalahan.

Ada banyak hal positif juga yang bisa kita peroleh. Tapi kita tidak bisa menutup mata pada kekurangan yang perlu diperbaiki secara terus menerus, demi kebaikan kita bersama.

Fenomena ini diibaratkan sebagai segenggam pasir di tengah luasnya pesisir pantai. Artinya masih banyak hal yang terjadi dan berkembang dalam dunia jurnalistik selama ini, khususnya di Indonesia.

Referensi:

–    http://www.republika.co.id/berita/senggang/tokoh/10/08/20/131121-akhir-kebohongan-eko-ramaditya-adikara

–   http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/502/6/

 

Nafielah Mahmudah

Tugas Akhir Jurnalisme Kontemporer, Jurnalistik Unpad

Advertisements

Shattered Glass

(google.com)

Film ini bercerita tentang Stephen Glass (Hayden Christensen), seorang jurnalis majalah bergengsi di Amerika, The New Republic. Sekedar informasi, The New Republic merupakan bacaan di pesawat kepresidenan. Glass terkenal sebagai salah seorang jurnalis yang handal dan dapat mengungkapkan berita menarik yang sulit ditemukan oleh jurnalis lainnya. Perjalanan karier cukup baik.

Teknik investigasi yang dilakukan Glass sering kali eksklusif dan majalah lain tidak banyak memuatnya. Glass juga menjadi penulis paruh waktu di majalah Rolling Stone, Harper’s and George.

Hingga pada suatu saat Glass menulis artikel mengenai hacker muda, judul artikelnya Hack Heaven. Artikel tersebut lolos dari editor dan naik cetak. Disaat yang sama, redaktur majalah online Forbes memarahi reporternya, karena tidak meliput berita penting dan menarik seperti yang dilakukan Glass. Namun ternyata majalah Forbes, Adam L. Penenberg, berhasil membuktikan bahwa artikel tersebut fiktif.

Charles Lane (Peter Sarsgaard) sebagai editor merasa terpukul ketika artikel yang ada di majalahnya dikatakan fiktif. Chuck, begitu ia biasa dipanggil, kemudian melakukan penyelidikan sendiri ke lapangan. Ia mencek semua tempat yang dituliskan sebagai lokasi pertemuan dan sebagainya. Ia juga bertanya ke orang-orang sekitar lokasi.

Sedikit demi sedikit, Chuck menemukan fakta bahwa artikel Glass adalah fiktif. Namun, awalnya Chuck tidak didukung oleh para reporter lama yang ada di The New Republic. Soalnya Chuck merupakan editor baru yang menggantikan Michael  Kelly, yang dipecat secara tiba-tiba. Padahal Michael sangat dekat dengan seluruh rekan kerjanya di The New Republic.

Sementara itu, Glass yang takut ketahuan mulai melakukan usaha untuk mempertahankan diri dan meyakinkan banyak orang tentang artikelnya. Ia membuat saluran telepon palsu, website, nama kontak dan data-data palsu. Namun pada akhirnya Glass ga bisa berkelit lagi.

Setelah dicek, ternyata 27 dari 41 tulisannya di The New Republic merupakan hasil karangannya. Wah, imajinatif sekali ya. Coba kalau dialihkan untuk menulis novel, pasti Glass ga harus kehilangan kerjaannya. Adam L. Penenberg kemudian memuat tulisan tentang cerita khayalan Glass, dan The New Republic menyampaikan permohonan maafnya kepada masyarakat luas.

Glass melakukan hal itu untuk membuktikan eksistensinya, karena selama ini orang tua Glass menuntutnya menjadi seorang dokter atau pengacara. Akhirnya Glass harus kehilangan karier cemerlang yang selama ini ia bangun, dan ia pun memilih untuk kuliah lagi dan mempelajari ilmu hukum.

Film ini bagus untuk ditonton banyak orang, utamanya jurnalis. Karena budaya copy-paste atau bahkan sumber “khayalan” bukan ga mungkin menggoda kita. Padahal kegiatan yang kaya gitu merupakan HARAM, harga mati di bidang jurnalistik. Shattered Glass diangkat dari sebuah kisah nyata. Artinya, fenomena narasumber “khayalan” itu benar terjadi.

Ini adalah artikel yang ditulis Adam L. Penenberg, baca.

Ada dua hal menarik dalam film ini. Pertama, sisi gelap kehidupan jurnalis yang mungkin juga terjadi di dekat kita, media massa Indonesia. Kedua, kegigihan editor untuk membuktikan kevalidan tulisan, meskipun pada akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit tentang penulisnya.

Gw menyarankan untuk menonton film ini, cocok untuk pelajaran semua umur. Bagus. Sangat bermakna, menggugah, menohok, bahkan menampar dunia jurnalistik (Hehe, agak berlebayan). Just watch it!!

b^^d (two thumbs up)

9 Elements of Journalism

Menjadi jurnalis profesional, salah satunya harus memahami teori jurnalistik. Jurnalis tidak hanya bertugas mencari dan melaporkan berita, tetapi juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial.

Bill Kovach dan Tom Rosensteil merumuskan 9 elemen jurnalisme.

1. Journalism First Obligation is to The Truth

Kewajiban utama dalam kegiatan jurnalistik adalah kebenaran. Tidak boleh asal dan sembarangan. Tidak ditambah ataupun dikurangi. Bukan Gosip dan kabar burung.

2. Its First Loyality is to Citizens

Jurnalisme loyal kepada publik. Mengutamakan kebutuhan masyarakat luas. Bukan kebutuhan pribadi atau kepentingan media belaka.

3. Its Essence is a Discipline of Verification

Jurnalisme berarti disiplin verifikasi. Segala bentuk fakta dan data yang kita peroleh, harus diverifikasi ulang. Tidak boleh langsung percaya begitu saja. Cek ulang itu harus dilakukan terlebih dahulu.

4. Its Practitioners must Maintain an Independence from Those They Cover

Para praktisinya harus menjaga independensi terhadap sumber berita. Privasi sumber berita harus tetap dijaga. Masih inget kasus Kick Andy yang mewawancarai Mayor Alfredo kan?

Andy F. Noya tidak bisa memberitahukan keberadaan Mayor Alfredo, walaupun saat itu Alfredo menjadi buronan yang paling dicari. Baca disini.

5. It must Serve as an Independent Monitor of Powers

Selalu bersikap sebagai pemantau kekuasaan. Sebagai kontrol pemerintah dan sebagainya.
6. It must Provide a Forum for Public Criticm and Compromise

Menyediakan ruang pubik untuk mengkritik maupun mendukung masyarakat. Untuk menampung aspirasi warga masyarakat. Kalau di koran, bentuknya bisa seperti Surat Pembaca, Opini, dan lain-lain.

7. It must  Strive to make Significant Interesting and Relevan

Berupaya membuat hal yang penting, menarik dan relevan. Agar apa yang disampaikan bisa dimengerti oleh masyarakat. Tidak bertele-tele, langsung ke poin yang dimaksudkan. Menarik, sehingga masyarakat mau membacanya.

8. It must Keep The News Comprehensive and Proportional

Menjaga agar berita selalu komprehensif dan proporsional. Tidak hanya melihat dari satu sisi saja, tapi ke semua pihak yang terlibat. Jika ada korban dan pelaku, maka tanya keduanya. Ditambah juga dari praktisi dan pihak terkait.
9. Its Pratitioners must be Allowed to Exercise Their Personal Consciense

Para praktisinya, alias para jurnalis, bekerja menggunakan hati nurani. Penyampaian berita, pada dasarnya juga ditentukan oleh hati nuraninya.

(sumber: Kompetensi Wartawan, Dewan Pers.

Dengan penambahan penjelasan dari gw ^^)

Veronica Guerin

(sumber: google.com)

Sebelumnya, silahkan liat dulu cuplikan film ini. Gw unduh dari youtube.

Ini diangkat dari kisah nyata seorang jurnalis asal Irlandia, Veronica Guerin (1959-1996). Dia dengan idealismenya berusaha membongkar sindikat narkoba, yang sebenernya membahayakan dirinya. Berbagai cara dilakukannya untuk melakukan penyelidikan dan mendapatkan fakta yang sebenarnya.

Masalah bukan tidak pernah ada, Veronica bahkan sempat hampir dibunuh oleh orang-orang yang merasa terancam dengan tulisannya. Veronica tidak jera, malah semakin giat dalam melakukan investigasi. Tentu aja ini membuat Ibu dan suami Veronica merasa khawatir.

Veronica pun akhirnya dibunuh dalam sebuah perjalanannya. Dia ditembak dengan tragisnya.

Bagaimana letak permasalahan yang sebenarnya? Apa yang terjadi selanjutnya? Dan apakah usaha Veronica selama ini berhasil?

Itu semua bakal lo dapetin, setelah menonton film ini. Veronica Guerin.

Cate Blanchett membawakan perannya dengan apik. Apalagi wajahnya disetting benar-benar  mirip dengan Veronica.

Ini wajah asli Veronica Guerin (sumber: google.com)

***

Film ini gw tonton waktu gw di tingkat 1, di Jurnalistik Fikom Unpad. Yaah, setiap anak tingkat 1 pasti nonton ini. Film wajib kita. Hehe.

Dosen Pengantar Ilmu Jurnalistik, Pak Dandi, mutarin film ini untuk kita apresiasi. Saat itu gw merasa, Waaawww, Jurnalis itu KEREN banget.  Memacu gw untuk “gila-gilaan” di jurusan ini. Yaaahh, tanggung jawabnya besar banget, dan ada pertaruhan antara kebenaran dan kebohongan, fakta dan data, bahkan hidup dan mati.

Film ini bener-bener menjadi inspirasi buat kami anak Jurnalistik. Tapi buat lo yang bukan anak Jurnal, film ini tetap gw rekomendasikan. Baguus dan menggugah. Membuat lo merenungkan, apa aja yang udah kita lakukan untuk mengungkapkan kebenaran. Pernahkah?

Atau jangan-jangan kita malah tidak peduli dan menutupinya? Cuma pribadi kita saja yang tahu.

Ada banyak hikmah dan pelajaran buat gw secara pribadi setelah menonton film ini. Wartawan bukan pekerjaan ecek-ecek. Yang cuma dengan modal pulpen, notes dan kartu press ga jelas, lo berusaha memberondong narasumber dengan pertanyaan ga mutu lo.

Yaa, ini membuat gw jadi pengen terus buat belajar dan semakin rajin. Semangat!!!

Satu lagi yang menjadi rekomendasi!! ^^

Alhamdulillah, Mereka Selamat

Setelah ketar-ketir dari jam 16.00 sampe jam 22.00 nungguin kabar dari mereka yang ke Ciwidey, akhirnya kita dapetin kabarnya juga.

Sms yang tadinya pending pelan-pelan mulai delivered ke orang-orang. Kita langsung berusaha nelf. Dan Handa sms ke gw, “Jalan di sana rusak dan medannya hancur parah..”

“So sweet banget kalian khawatirin kitaa,” kata Handa. Preet, hahaha, kita stress tau..

Jadi sampe malem mereka belom keluar. Handa, Ucy dan Venia ikut tim Basarnas keluar dari daerah bencana naek mobil. Yang cowok-cowok tetep dengan motor masing-masing.

Mereka baru nyampe Bandung jam 4 subuh katanya. Hemm, perjalanan yang panjang.

Itu hot banget dan mereka emang belom cerita semuanya. Segala prediksi kami ternyata khayalan cukup tinggi.

Oh yaa,ini  gw mencoba menghimpun status-status di FB dari gw dan beberapa teman, yang tertangkap ketar-ketir. Hehehe

Karna kita memang saling mencintai, JURNAL SEVEN. Uhhh yeeaaahhh… 😀 😀 😀

Gw : temen” jurnalismo 2007 yang liputan ke ciwidey udah pada sampe mana?? Kok belom ada kabar??

Tasia : Anak2 jurnal yg liputan ke Ciwidey mana? Kok ga bisa d hub?

Iyend : JRNALISTIK 2007 yg pada ke Ciwidey, cepat pulang wooooyyy… Enyak lo pada nyari tuh!!!

Bolang : Jurnal07,ternyata saya sayang kalian.. Cpt pulang lah! Ketir yeuh.

Yang di forum jurnal lebih panjang lagi dan berkata-kata macem-macem. Cuma intinya sama laah yaa. Kita khawatir.

Gw belom dapet kronologis yang jelas, jadi belom bisa cerita juga. Semoga liputan selanjutnya kita lancar teruss.

Luv u all,

Jurnalismo xoxo