Hari ini Belajar Bersyukur

Alhamdulillah, alhamdulillah. Selalu bersyukur atas semua nikmat yang udah gue terima selama ini. Dari hari ke hari terus belajar buat semakin bersyukur, menjalani, menikmati, memaksimalkan dan menjaga kepercayaan orang. Haha, berat ya bok. Tapi ini serius deh.

Hari ini, hari kedua di Hong Kong. Kyay. Senangnya. Ini kali ke dua gue nyampe, nginjek bumi dan menghirup udara di Hong Kong. Mmmmmhhhhhhh haaaaahhhhh. Hong Kong juga yang menjadi negara pertama yang gue kunjungi, sejak bergabung “di sini” hehe. Jadinya berkesan banget.

Secara ya dulu suka nonton film-film China yang latarnya di Hong Kong, banyak mafia, rame, pusat belanja, banyak wisatawan, begitu-begitu. Eh, sekarang udah bisa bolak-balik Hong Kong.

“Dari mane buuk?” :: “Dari Hong Kooooong”

Alhamdulillah 🙂

Bersyukur bisa ngerasain ini semua. Dapet fase dan pengalaman yang nggak semua orang rasain. Kerja dengan passion dan nggak semua orang bisa memiliki pekerjaan menyenangkan ini. Walaupun penuh duri dalam daging, udang di balik batu, aral melintang, jiwa yang terampas, hati yang tersakiti, raga yang melayang dan kerikil yang menghadang. Hahak. Tapi senaaaaang, tapi riaaaang. Semoga langgeng, uhuk. Karena gue kaya Rossa yang selalu tegar. Lol.

Alhamdulillah.

Belajar bersyukur dan mengimbangi dengan kegiatan-kegiatan positif (eak, lebehnya muncul). Bukan lagi melankolis sih, cuma lebih ke kontemplasi aja (aposeh).

Begitu deh begitu deh.

Sekarang mau liputan atlet-atlet latihan nih, semoga bisa intip-intip yang seru-seruu. Mau ketemu abang-abang ganteng yang migrasi dari Fuzhou abis turnamen kemaren.

Dan, ah ya, tadi pas sarapan ketemu si lucu-lucu ganteng yang lagi ngehits, Chou Tien, yang semakin ganteng. Dan ketemu Jan O yang semakin laki. Huaaah, jiwa-jiwa groupies mulai hidup dah nih. Tapi seperti biasa bok, manner harus dijaga. Mata-mata ganas harus ditahan, kaing-kaing harus dikontrol demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, nusa, agama dan pancasila yang katanya masih ada lima.

Terus pas makan siang ketemu Chou Tien lagi. Emang dasar aja dia caper sama gue kayanya, masa tiap gue makan dia selalu ada (yakeleeeeuuus). Beres makan ke supermarket ketemu lagi, mana gue lagi milih-milih softek pula (penting banget gue ceritain detail) kan jadinya gimana-gimana ya. Haha. Untung gue cerdas, beres belanja karena ogah beli kantong plastik (FYI, belanja kalo pake kantong plastik di sini mahal bok) gue tukeran belanjaan sama mba Widya. Mba Widya yang pegang softek, gue bawa air mineral botol yang mba Widya beli.

Bener aja, pas keluar supermarket ketemuan lagi. Si Chou Tien balik lagi. Tuh, fix kan, bener kan kalo emang dia caper sama kita berdua, lol. Kemana gue melangkah tuh dia kaya selalu membayangi kehidupan gue. Gimana dong nih cara menghindarnya? Gue harus ngomong apa kalo ketahuan sama Tom Felton? Hufffff.

Terus nyampe hotel pas mau naik lift, emang dasar jodoh gue sama yang ganteng-ganteng, eeh ketemu deh sama Lee Yong Dae dan Yoo Yeon Seong. Jodoh kan gini kan kalo begitu ceritanya :p Untungnya gue kebagian bawa air mineral botolan, bukan barang yang satunya lagi, yang dibawa mba Widya haha (Emang ngapah woi? Emang dese ngeh?) Yaudah sih, suka-suka imajinasi gue aja. LYD tampak masih ngantuk baru landing, tapi YYS seger buger aja. Dua-duanya masih ada aura glitter-glitter berkilauan, karena abis menang di China.

Dan informasi penting lainnya adalaaaah, kita satu tower hotel (ini penting ya bok) haha. Intensitas se-lift bareng dan berpapasan dijamin akan semakin tinggi (ketahuan banget jiwa-jiwa loser) 😀 😀

Lah ini awalnya gue mau ngeblog sok-sok dewasa, kenapa ujung-ujungnya jadi cerita-cerita yang menurunkan derajat gue sebagai wanita anggun coba. Oke kalau begitu harus segera diselesaikan. Bye!

IMG_0344
View dari kamar hotel di Hong Kong, ceritanya lagi (sok-sok) kerja

Saatnya Berbagi, 2nd #BOTR Depok

Apa kabar teman-teman? Happy? I am! 🙂

Minggu kemarin, tepatnya tanggal 11 Maret 2012, gue dan beberapa teman dan teman baru habis melakukan aktivitas baru (serba baru). Semacam life changing experience (asegah, lebay) di Depok. Kegiatannya namanya BOTR. Breakfast On The Road. Mirip-mirip kaya sahur on the road atau ifthor on the road yang sering kita adain kalo lagi bulan Ramadhan. Tapi ini sarapan.

– – – – – – Breakfast On The Road- – – – –

Berkumpul di satu titik, bawa paket sarapan yang bakal kita bagi-bagiin, atur rute, acara inti bagi-bagi sarapan, kembali ngumpul pas udah selesai, evaluasi, bubar jalan, lanjutkan aktivitas masing-masing. Sederhana ya? Tapi bermanfaat insya Allah.

BOTR ini juga ada aturan mainnya, biar seru bro. Begini..

1# Gak boleh nitip uang! Kalau mau ikutan berpartisipasi, harus ikutan langsung.

2# No foto-foto! Jangan foto pas kegiatannya, biar yang gak ikutan jadi penasaran. Biarkan mereka menduga-duga, mengira-ngira, terjebak rasa ingin tahu yang amat dalam, bertanya-tanya, frustasi dan akhirnya pasrah, memutuskan untuk ikutan, eaaa grok-grok. Selain itu ini juga menghindari kita dari sifat ujub wkwk. Inget yaa, kita bukan lagi kampanye partai atau caleg. No offense 🙂

3# Bawa sarapan, secukupnya! Per-orangan bawa sarapan yang mau di bagi-bagiin. Boleh bawa satu paket, dua paket, selusin, sekodi, sebis kopaja, terserah. Semampunya. Semampu elo keliling buat bagi-bagi dan semampu ketebalan dompet juga 😀 😀

4# Foto tim! Kita gak boleh foto kegiatan tapi harus foto tim. Narsis? Big NO (dikit, iya kali ya hehe).Tujuannya untuk berbagi senyuman bahagia karena indahnya berbagi, dan jadi banyak yang pengen ikutan juga.

5# Menu sarapan bebas. Range harganya 5000-an aja, kalau bisa sudah termasuk minumnya juga (Ada gak ya yang begituan harga 5000? Hehe) Ada dong. Tujuannya untuk menunjukkan betapa berharganya sarapan tersebut.

6# Ikhlas, hehe. Udah itu aja.

Gampang banget kan? Nah markijal, mari kita jalanin, jangan cuma dipikirin, jangan manggut-manggut doang. Ya gak?

Info awalnya gue dapet dari Lita, temen SMA gue. Di Depok ini kita udah adain dua kali, kebetulan gue baru bisa gabung yang di edisi duanya ini. Mau tau ceritanyaa?

Mau tau ceritanyaaaa? Mana suaranya? (Aaaaaaaaaaa……) Kurang keraaas! (AAAAaaaaaaaaaaa…!!) Baguus. Karena kalian memaksa dan pengen tau ceritanya, ini gue ceritain—————- maaf rusuh

Jam 7.00 kita janjian di depan Detos (Depok Town Square, mall gaul Depok, uhuy). Sarapan udah di tangan, tinggal nunggu Lita. Tapi mana dia mana? Gue nunggu sambil berdiri-berdiri cantik dan sms posisi gue. Gak jauh dari tempat gue berdiri, ada tiga cewek dan satu cowok yang berdiri terkatung-katung sambil bawa bungkusan. Berdasarkan analisis sotoy gue, gue curiga, keknya mereka anak-anak BOTR juga deh. Celingak-celinguk kiri kanan. Kita sempet saling liat, mata bertemu mata, mungkin saling menduga-duga, jantung berdegup kencang -___-” dangdut bener dah.

Eh, iya gak ya? Nunggu Lita aja dah.

—-Singkat cerita—-

Daaaaannn, ternyata bener, mereka anak BOTR juga. Tuuh kan, udah gue duga.

Setelah berkumpul, ada sembilan orang dan beberapa puluh paket. Ada gue, Lita, Genis, Angga, Dita, Via, Yuni, Vi dan Novi. Kerennya lagi kita banyak yang baru kenal loh. Kaya gue cuma kenal Lita, Lita kenal Genis, Genis ngajak Angga, Dita, Yuni, Vi dan Via diajak Angga, ada temennya Genis juga. Begitulah. Syalala~

Kita di bagi dua tim, aliran kanan dan aliran kiri. Eits, bukan aliran begitu-begituan, warisan jaman Bapak Presiden Soeharto loh. Ini maksudnya aliran jalan, sebelah kanan jalan dan sebelah kiri jalan. Gue masuk aliran kanan, jalan dari sisi Detos. Tim lain dari sisi kiri, sisi Margo City. Rute kali ini dari Detos-Margo sampai Terminal Depok.

Berjalan, berbagi, berjalan, berbagi..

Oiya, untuk mengindari kebingungan orang kita menamai tim kita sebagai Komunitas Remaja Depok Peduli Sarapan Pagi, HAHA, buat prolog doang. Soalnya agak bingung juga ya. Sapa nih orang-orang bagi-bagi sarapan gak jelas? Jangan-jangan mau ngeracun lagi (Mungkin aja kan ada yang mikir gitu? Gue aja kali ya hoho maap maap). Masalahnya tujuan kita hanya berbagi dan kampanye pentingnya sarapan, gak di bawah institusi atau organisasi apapun. Demi generasi bangsa yang sehat, kuat, cerdas dan semangat untuk melanjutkan estafet kepemimpinan negri tercinta.

Ini foto tim kitaaaaaa… Jeg jeng jeng.

BOTR Team

Oh sungguh sesungguhnya enggan memajang foto ini, guenya tampak begitu lebaaaar, hosh. Apa daya. Huft!

Background N*kia dan Hoka-Hoka B*nto, bukan menunjukkan sponsor kita loh. Semuanya hanya kebetulan belaka yang mungkin memiliki kemiripan nama.

Aliran Kanan - Angkoters
Aliran Kiri - Jalaners

Warga Depok juga? Mau gabung? Yuk. Bisa mention langsung via twitter @talitazahrah atau @nafelton. Kalo mau baca laporan via blog dari Lita, bisa baca di sini (klik).

Saatnya berbagi 🙂 Yuk tularin ke sekitar kamu jugaa. Semoga bermanfaat. Fighting! Bye.

Pasca Kejadian Perampokan di Angkot Bandung

Pasca kejadian perampokan yang gue alami beberapa hari yang lalu, begitu banyak respon positif dan simpati yang gue terima (Terima kasih banyak ya teman-teman). Ini mungkin karena cukup banyak orang yang men-share pengalaman gue, melalui twitter, facebook, BBM, grup, milist, dan sebagainya.

Terima kasih juga buat teman-teman yang komen di postingan gue kemaren dan beberapa orang juga men-share pengalamannya. Makasih 🙂 🙂

Makasih juga buat @Infobdg yang sudah me-RT blog saya, tentunya berkat bantuan dari tweeps yang lain juga. Makasih ya makasih. Ini untuk pelajaran kita bersama 🙂 Semoga bisa diambil hikmahnya.

Bener-bener dahsyat ya kekuatan jejaring sosial…

—-Sebelumnya maaf kalo gaya berbahasa saya dianggap kurang sopan atau gimana, tapi di tulisan-tulisan blog sebelumnya, bahasa saya sudah menggunakan yang seperti itu (gue-lo), jadi saya rasa agak ganjil kalau harus merubahnya. Ini mungkin faktor lingkungan pertemanan saya atau yang lainnya. Jadi maaf ya kalau gak nyaman bacanya—–

Bukan. Bukan maksud gue menggumbar permasalahan yang gue hadapi, bukan berharap perhatian dan simpati. Gue cuma menuliskan pengalaman ini untuk diambil hikmahnya oleh banyak orang. Untuk lebih berhati-hati dalam berkendaraan umum, khususnya perempuan. Karena ketika kejadiannya udah kaya gini, bahkan aparat berwenang pun sulit untuk diharapkan (maaf kalo terlalu berpikiran negatif).

Mohon maaf juga kalau tulisan gue dianggap memancing pemikiran negatif masyarakat mengenai kinerja kepolisian. Gue hanya menuliskan pengalaman yang membuat gue semakin percaya, GUE GAK BISA LAGI PERCAYA SAMA PIHAK KEPOLISIAN (maaf emosi) *sedih*

Sedih loh nulisinnya. Ini tentang aparat negara kita. Mereka yang seharusnya mengayomi dan melindungi masayarakat. Membuat kita merasa aman dari berbagai bentuk kejahatan.

Fyuhh, semoga itu cuma oknum ya teman-teman *berharap masih banyak polisi keren yang jago dan niat membasmi kejahatan*

FYI berita tentang kejadian ini dimuat juga di Detik.com ternyata. Gue baru tau dari temen. Ini beritanya (klik).

Gue gak diwawancarain, tapi mungkin wartawannya baca blog gue. Melihat luasnya cerita gue tersebar dan identitas yang tidak dirahasiakan, adek gue, Sasaki kemudian menyarankan untuk memprotek akun-akun gue. Memprotek twitter, facebook dan jejaring apapun yang bisa ngasih info detil tentang gue. Sapa tau perampoknya jadi sebel sama gue karena kesebar-sebar.

Ngeri juga ngebayangin kalo perampoknya kepo dan lalu tau kampus gue, tau kosan gue dan nangkringin, trus gue diculik, trus mereka minta tebusan, trus makin ribet urusannya (lebay, lebay! Maaf)

Yea, gue gak tau itu perampoknya gaul apa ga? Gue cuma berharap dia gak punya twitter, gak punya facebook, gak gabung di grup dan milist tertentu, gak dapet BM tentang cerita ini, gak baca Detik.com dan blog gue. Jadi dia gak tau apa-apa dan selow-selow aja.

Tapi gue baru inget, perampoknya itu pake jaket kulit, berkacamata dan pake behel *itu ciri-ciri rampok gaul bukan ya?*

Semoga aja dia masang behelnya di tukang gigi yang cuma buat gaya, jadi gaulnya juga abal-abal (maaf kalo ada yang tersinggung, gak maksud).

Oia, berdasarkan saran teman-teman dan beberapa orang yang baca blog gue, gue udah mengirimkan kronologis dan cerita tentang tanggapan polisi itu ke redaksi Pikiran Rakyat. Semoga dimuat ya, untuk informasi ke masyarakat luas biar lebih berhati-hati.

Oia (lagi), gara-gara tersebarnya tulisan ini gue juga jadi ketemu sama mbak-mbak yang Blackberrynya diambil sama perampok itu (dahsyatnya twitter). Sempet berkomunikas beberapa kali via twitter dan komen di blog, tapi sepertinya mbak tersebut juga urung melapor ke polisi, agak percuma kayanya, menurut mbak itu.

Tapi gue bilang, kalo dia mau melapor dan butuh saksi, Insya Allah gue siap. Karena penjahatnya masih berkeliaran, dan gue kesereman paraaaah.

TIGA HARI PASCA KEJADIAN..

Tadi pagi merupakan kali pertama gue keluar kosan untuk beli sarapan, setelah tiga hari berlalu. Sebelumnya gue bahkan ogah buat keluar kamar kecuali buat ke kamar mandi dan wudhu. Mungkin ini yang dinamakan trauma kali ya.

Dan setelah gue sampe kosan lagi (abis beli sarapan) tiba-tiba gue langsung mual-mual dan gemeteran hebat. Ini sugesti gue aja kayanya. Gue langsung menangkap dengan jelas orang-orang yang pake jaket kulit. Diperjalanan pendek gue buat beli nasi kuning itu bahkan ada sekitar 10 orang laki-laki yang gue temui make jaket kulit. Langsung stress.

Astagfirullah, traumatik berlebihan banget ini gue namanya.

Gak boleh gini terus. Gue harus move on. Apa jadinya kalo gue ketakutan gak jelas kaya gini terus. Banyak hal yang harus gue lakukan di luar sana. Yap, penjahatnya masih berkeliaran saudara-saudara 😥

Fighting!

Tetap waspada dan hati-hati ya teman-teman…

Renungan Hujan, Untung Saja Bertekad

Satu sore ditemani geli-geli rintik hujan yang mengguyur, gue duduk di halte damri. Pangdam Dipatiukur lebih tepatnya. Suasananya sama sekali gak romantis dan unyu-unyu, kaya video klip bersama bintangnya aurel. Padahal intinya mirip, kita sama-sama duduk di halte, berteduh dari hujan. Gue duduk di halte yang beberapa sisi atapnya udah bocor, ditemani bau got yang meluap, antara bau busuk dan pesing nyampur jadi satu. Hoks.

Padahal waktu hujan adalah salah satu moment favorit gue. Dimana gue bisa menikmati bau tanah basah yang syahdu, menenangkan. Hmmmm, bau yang khas..

Sendiri. Kadang kita memang butuh waktu sendiri untuk berpikir dari berbagai sisi, menangkap sinyal-sinyal bahasa Tuhan yang terabaikan, atau apapun itu. Melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Terus terang gue termasuk tipikal orang Indonesia kebanyakan yang suka berkelompok, asik dengan komunitasnya, nge-gank mungkin kasarnya. Bukan tidak mau peduli dengan orang lain, tapi lebih kepada memperoleh rasa nyaman dengan komunitas.

Tapi bukan berarti gue gak bisa mandiri. Gue tetep independen dan gak cuma terpaku pada ikatan tertentu. Ya kalo gue lagi sendiri gue tetep hidup dan senang-senang. Well yeah kita suka dong nemuin orang yang cuma rame kalo lagi sama temen se-ganknya, tapi kalo sendirian melempem aja, kaya makhluk asing dari planet lain, gak bisa ngapa-ngapain. Jago kandang.

Memperhatikan sekeliling, gerak-gerik orang, mimik wajah gusar, sekelompok anak SMA lagi pada gossip, angkot-angkot ngetem, asap rokok yang mengepul tebal, tukang batagor dan gorengan yang menepi berteduh, ibu-ibu paruh baya dengan bawaan kantong besar yang beratnya melebihi berat badannya, mahasiswa yang lagi pada kejebak ujan di tukang foto kopian, macam-macam.

Sekali-kali mata dan jari-jari gue beralih ke handphone. Main game, bosan, liat-liat lagi. Merenung.

Tunggu. Balik lagi ke pemandangan tadi,

… gerak-gerik orang, mimik wajah gusar, sekelompok anak SMA lagi pada gossip, angkot-angkot ngetem, asap rokok yang mengepul tebal, tukang batagor dan gorengan yang menepi berteduh, ibu-ibu paruh baya dengan bawaan kantong besar yang beratnya melebihi berat badannya, mahasiswa yang lagi pada kejebak ujan di tukang foto kopian, ….

Aah, yaa.

Tukang gorengan.

Tiba-tiba gue inget sesuatu, tukang gorengan.

Gue punya teman, teman dekat. Kita suka bercerita tentang banyak hal, apa pun, dari yang paling penting sampe gak penting. Dari masalah negara sampe cuma nanya “anti spy hape yang bagus, yang ini atau yang itu ya?”.

Dia pernah cerita ke gue, “Kamu liat tukang gorengan itu gak?”,  gue ngeliat ke arah yang dia tunjuk.

“Dia salah satu motivasi saya untuk kuliah loh,” katanya.

“Oh ya?” gue masih bingung, belum menangkap maksudnya.

“Ya, karena kalau saya hanya sekolah sampe SMA, saya pasti disuruh kerja biar langsung dapet duit. Jualan gorengan itu hal yang paling mungkin,” katanya lagi. Gue hanya mengangguk-nganguk, mendengarkan.

“Karena saya gak mau jadi penjual gorengan, makanya saya belajar yang rajin buat sekolah tinggi sampai kuliah kaya gini. Bukan maksudnya jual gorengan itu jelek ya, cuma saya punya cita-cita yang begitu tinggi dan ingin maju,” teman saya itu mulai menjelaskan panjang lebar.

Hemm, ok. Gue agak speechless karena itu gue denger langsung dari temen gue. Bukan di film-film laris yang mengangkat kisah pinggiran, atau novel-novel menggugah ataupun cerita dari orang-orang.

Di lain waktu dia juga pernah ngomong, “Kamu tahu laskar pelangi?”.

“Of course,” gue jawab mantap.

“Ya, orang-orang banyak nangis pas nonton karena terharu, kalau saya nonton juga nangis, tapi itu lebih seperti flashback tentang saya waktu SD,” katanya sambil tersenyum simpul. “Entahlah mungkin kebanyakan orang belum tau keadaan yang lebih nyata atau gimana, tapi banyak loh kisah yang kaya di film laskar pelangi itu, kaya saya, cuma bedanya saya gak dijadiin film aja ” katanya santai.

“Yaudah ntar gue aja yang bikinin filmnya,” kita sama-sama ketawa.

Dan teman gue ini emang jago loh. Serius. Dia suka ikutan kompetisi-kompetisi keilmuan, pernah menang kontes orang pintar di kampusnya, aktif dimana-mana, jadi pemateri ini itu, pernah jadi ketua perkumpulan orang muda berpengaruh di Indonesia dan banyak lagi.

Tekad coy. Itu kuncinya. Memang sih, ini belum menjadi fase klimaks dalam puncak karier temen gue itu, tapi ini bisa jadi motivasi buat kita. Minimalnya buat gue, yang suka layah leyeh seenak jidat.

Kebayang kan kalo temen gue ini gak punya tekad yang kuat, habis SMA dia mungkin pasrah, gak melanjutkan kuliah, jadi penjual gorengan. Pertemuan kita pun mungkin bukan sebagai temen masa kuliah, tapi pertemuan antara penjual dan pembeli. Gue lagi beli gorengan.

Begitulah.

Ahh, hujan reda. Saatnya melanjutkan perjalanan.

Selamat Ibong!

Selamat Ulang Tahun Ibong!

Untuk adik ketiga, anak keempat a.k.a Nihlah a.k.a Nicol a.k.a Anggi a.k.a Ibong..

Semoga makin sholehah, tambah rajin, jadi chef jago melebihi farah quiin, lulus SMA dengan nilai terbaik, masuk perguruan tinggi impian, sehat terus, gak sering jatuh dan keseleo, gak suka nabrak-nabrak orang, semoga terjadi perbaikan pronunciation dalam berbicara, suaranya makin seksi, bahagia dunia-akhirat, dan apa yang dicita-citakan bisa terkabuul.

Semoga makin murah senyum, makin modis dan pake jilbab unyu-unyu, makin me-wanita, segera dewasa, jarang ngambek, berkurang ngedumelnya, sayang sama adik-adik dan kakak-kakaknya yang lucu dan menggemaskan, suka nraktir cilok, rajin masakin mie buat aku.

Semoga makin pinter, rajin, bersih, rela menolong, suka membantu, riang gembira dan suka menabung. Biar banyak duit biar bisa bagi-bagi ke banyak orang, jalan-jalan dan traktir aku nonton konser.

Amin amin.

Bisa memberikan kerja dan dedikasi terbaik untuk agama, keluarga, nusa bangsa, tanah air, tumpah darah tercinta. Berguna untuk banyak orang.

18 tahun mamen.  You are not children anymore.. Uh huh?

Fighting!!

Tetap semangat dan jauhi narkoba!!

Love love youu sist’ ❤