Panik Buta dan Informasi Sepotong

19.32 WIB

“Naf, lo dimana?”

“Stasiun Fan, mau balik. Kenapa?”

“Gambir?”

“Bukan, Palmerah, masih di daerah DPR kok, ada apaan Fan?”

“Gue kena tembak Naf…”

“Hah? Yang bener lo? Dimana posisi sekarang? Tunggu dulu, gue sama Kantri balik ke DPR lagi,” langsung panik meninggalkan stasiun dengan meninggalkan tiket kereta jurusan Tanah Abang yang baru aja dibeli.

Puluhan pandang mata tertinggal di stasiun, memperhatikan kepanikan gue dan Kantri yang tiba-tiba, teriak, loncat dan beranjak lari.

***

Ya, ini cerita tentang aksi hampir setahun lalu, yang berujung ricuh, yang sebenarnya sudah gue tinggalkan sebelum terlalu ricuh, yang sebenarnya lagi kita cuma ingin ngisi waktu kosong ngeliat yang pada aksi (nggak ada kerjaan).

Yang ternyata memakan korban, Luthfan.

Jumat (30/3/2012) beberapa elemen masyarakat, buruh dan juga mahasiswa menggelar aksinya di depan Gedung DPR RI. Tuntutannya, Tolak Kenaikan Harga BBM. Pemerintah menjadwalkan akan menaikkan harga BBM pada tanggal 1 April, yang katanya untuk menyelamatkan perekonomian Negara.

Efeknya? Tentu akan menjadi sangat luas, mulai dari kenaikan harga bahan pokok, perubahan tarif angkutan umum, kenaikan harga properti (info ini gue dapet dari temen gue yang mau nge-DP, dan ternyata harganya naik 15% dengan alasan BBM yang bakalan naik. BAKALAN ya, BELUM naik..) dan masih banyak lagi.

Sebenernya tulisan gue kali ini bukan untuk membahas kajian kenapa pemerintah ingin BBM naik, kenapa masyarakat dan mahasiswa menolak kenaikan BBM, bagaimana seharusnya, dan bagai macamnya. Gue lebih ingin share pengalaman aksi jalanan, yang waktu itu gue ikuti. Kalau dijadiin skripsi judulnya kira-kira begini “Korelasi Aksi Penembakan dengan Kepanikan Dalam Berpikir” (apasih) (nggak ngerti kuanti dan studi korelasi).

Memutuskan untuk ikut turun aksi tolak kenaikan BBM ini sebenernya gue lakukan H-5 jam. Mengingat besarnya efek yang akan terasa dan urgensi isu yang harus diperjuangkan, dan pas lagi nggak ada kegiatan (hehe). Gue janjian sama Kantri, Luthfan dan Geni, rekanan di Bandung Raya dulu *tsaah.

Pas di lapangan ternyata ketemu sama beberapa veteran jalanan juga. Aktivis BEM masing-masing perguruan tinggi yang sebenarnya udah pensiun di dunia ke-BEM-an. Tapi percayalah teman-teman, aksi turun ke jalan tidak dilihat dari waktu ngejabat di organisasi mahasiswa atau tidak saja, tapi lebih kepada panggilan jiwa (uhuk) (sok bener abis gue).

Kita merapat di barisan BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), bersama rekan lainnya dan adik-adik aktivis militan dari berbagai perguruan tinggi. Saat gue dan Kantri sampai di lokasi (depan Gedung DPR), suasananya belum panas, masing-masing LSM, buruh dan mahasiswa menyampaikan orasinya, memenuhi sepanjang jalan. Meski ada juga yang terlihat bakar-bakar ban bekas. Jalan tol Semanggi ditutup dan dipenuhi para demonstran.

Daaan yang menyedihkan adalah, aksi vandalism yang banyak dilakukan orang-orang. Pengerusakan pagar pembatas jalan tol, corat-coret pagar DPR, dan yang terparah menurut gue adalah perobohan pagar DPR. Mungkin ini salah satu ekspresi para demonstran yang tersulut emosi kali ya. Tapi kalo gue termasuk orang yang gak setuju atas pengidentikan aksi turun ke jalan diiringi dengan aksi vandalisme. Dan gue pastikan vandalism tersebut tidak dilakukan oleh teman-teman BEM SI (humas bersabda).

Menjelang sore, 4 pagar berhasil dirobohkan massa. Kurang tau pasti siapa-siapa aja orang tersebut, nyaru antara buruh, LSM dan organ ekstra. Gue, Kantri, Hanny, Luthfan, Geni, ketemu temen-temen lainnya, ada Asep dan Ali, kita masuk ke halaman DPR, ke tempat rumput-rumput (lari-larian, joget India).

Hanny, Kantry, LUTHFAN, Asep & gue

Diskusi ngalor-ngidul, sambil duduk dengan puluhan orang lainnya, di halaman berumput bagus itu. Di sebelah kita ada barikade polisi berseragam lengkap yang lagi pada ngaso, duduk-duduk sambil ngerokok dan foto-foto. Entahlah, tapi menurut gue seharusnya mereka bisa melakukan tindakan preventif. Bukan menunggu sampai lebih rusuh dan lebih rusak. Gatau ya protap mereka kaya gimana. Nyengir aja dah gue 😀

Continue reading “Panik Buta dan Informasi Sepotong”

Advertisements

Renungan Hujan, Untung Saja Bertekad

Satu sore ditemani geli-geli rintik hujan yang mengguyur, gue duduk di halte damri. Pangdam Dipatiukur lebih tepatnya. Suasananya sama sekali gak romantis dan unyu-unyu, kaya video klip bersama bintangnya aurel. Padahal intinya mirip, kita sama-sama duduk di halte, berteduh dari hujan. Gue duduk di halte yang beberapa sisi atapnya udah bocor, ditemani bau got yang meluap, antara bau busuk dan pesing nyampur jadi satu. Hoks.

Padahal waktu hujan adalah salah satu moment favorit gue. Dimana gue bisa menikmati bau tanah basah yang syahdu, menenangkan. Hmmmm, bau yang khas..

Sendiri. Kadang kita memang butuh waktu sendiri untuk berpikir dari berbagai sisi, menangkap sinyal-sinyal bahasa Tuhan yang terabaikan, atau apapun itu. Melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Terus terang gue termasuk tipikal orang Indonesia kebanyakan yang suka berkelompok, asik dengan komunitasnya, nge-gank mungkin kasarnya. Bukan tidak mau peduli dengan orang lain, tapi lebih kepada memperoleh rasa nyaman dengan komunitas.

Tapi bukan berarti gue gak bisa mandiri. Gue tetep independen dan gak cuma terpaku pada ikatan tertentu. Ya kalo gue lagi sendiri gue tetep hidup dan senang-senang. Well yeah kita suka dong nemuin orang yang cuma rame kalo lagi sama temen se-ganknya, tapi kalo sendirian melempem aja, kaya makhluk asing dari planet lain, gak bisa ngapa-ngapain. Jago kandang.

Memperhatikan sekeliling, gerak-gerik orang, mimik wajah gusar, sekelompok anak SMA lagi pada gossip, angkot-angkot ngetem, asap rokok yang mengepul tebal, tukang batagor dan gorengan yang menepi berteduh, ibu-ibu paruh baya dengan bawaan kantong besar yang beratnya melebihi berat badannya, mahasiswa yang lagi pada kejebak ujan di tukang foto kopian, macam-macam.

Sekali-kali mata dan jari-jari gue beralih ke handphone. Main game, bosan, liat-liat lagi. Merenung.

Tunggu. Balik lagi ke pemandangan tadi,

… gerak-gerik orang, mimik wajah gusar, sekelompok anak SMA lagi pada gossip, angkot-angkot ngetem, asap rokok yang mengepul tebal, tukang batagor dan gorengan yang menepi berteduh, ibu-ibu paruh baya dengan bawaan kantong besar yang beratnya melebihi berat badannya, mahasiswa yang lagi pada kejebak ujan di tukang foto kopian, ….

Aah, yaa.

Tukang gorengan.

Tiba-tiba gue inget sesuatu, tukang gorengan.

Gue punya teman, teman dekat. Kita suka bercerita tentang banyak hal, apa pun, dari yang paling penting sampe gak penting. Dari masalah negara sampe cuma nanya “anti spy hape yang bagus, yang ini atau yang itu ya?”.

Dia pernah cerita ke gue, “Kamu liat tukang gorengan itu gak?”,  gue ngeliat ke arah yang dia tunjuk.

“Dia salah satu motivasi saya untuk kuliah loh,” katanya.

“Oh ya?” gue masih bingung, belum menangkap maksudnya.

“Ya, karena kalau saya hanya sekolah sampe SMA, saya pasti disuruh kerja biar langsung dapet duit. Jualan gorengan itu hal yang paling mungkin,” katanya lagi. Gue hanya mengangguk-nganguk, mendengarkan.

“Karena saya gak mau jadi penjual gorengan, makanya saya belajar yang rajin buat sekolah tinggi sampai kuliah kaya gini. Bukan maksudnya jual gorengan itu jelek ya, cuma saya punya cita-cita yang begitu tinggi dan ingin maju,” teman saya itu mulai menjelaskan panjang lebar.

Hemm, ok. Gue agak speechless karena itu gue denger langsung dari temen gue. Bukan di film-film laris yang mengangkat kisah pinggiran, atau novel-novel menggugah ataupun cerita dari orang-orang.

Di lain waktu dia juga pernah ngomong, “Kamu tahu laskar pelangi?”.

“Of course,” gue jawab mantap.

“Ya, orang-orang banyak nangis pas nonton karena terharu, kalau saya nonton juga nangis, tapi itu lebih seperti flashback tentang saya waktu SD,” katanya sambil tersenyum simpul. “Entahlah mungkin kebanyakan orang belum tau keadaan yang lebih nyata atau gimana, tapi banyak loh kisah yang kaya di film laskar pelangi itu, kaya saya, cuma bedanya saya gak dijadiin film aja ” katanya santai.

“Yaudah ntar gue aja yang bikinin filmnya,” kita sama-sama ketawa.

Dan teman gue ini emang jago loh. Serius. Dia suka ikutan kompetisi-kompetisi keilmuan, pernah menang kontes orang pintar di kampusnya, aktif dimana-mana, jadi pemateri ini itu, pernah jadi ketua perkumpulan orang muda berpengaruh di Indonesia dan banyak lagi.

Tekad coy. Itu kuncinya. Memang sih, ini belum menjadi fase klimaks dalam puncak karier temen gue itu, tapi ini bisa jadi motivasi buat kita. Minimalnya buat gue, yang suka layah leyeh seenak jidat.

Kebayang kan kalo temen gue ini gak punya tekad yang kuat, habis SMA dia mungkin pasrah, gak melanjutkan kuliah, jadi penjual gorengan. Pertemuan kita pun mungkin bukan sebagai temen masa kuliah, tapi pertemuan antara penjual dan pembeli. Gue lagi beli gorengan.

Begitulah.

Ahh, hujan reda. Saatnya melanjutkan perjalanan.