Hidup “Sehat” dengan Internet! Yuuk.

Internet bikin SEHAT? Yang bener ahh, apa bener sekarang posisi internet bisa menggantikan sayur dan buah? Atau ngegantiin kebiasaan olahraga (yang ga sering-sering amat) itu?

So, haruskah tukang sayur dan buah beralih profesi jadi tukang INTERNET? Bhahaha.

OKE. Kita kembali ke jalan yang benar. Anyway, internet emang bisa bikin kita sehat loh. SEHAT yang saya maksud bukan sekedar “sehat” dalam arti sempit pada kondisi fisik, tidak sakit. SEHAT yang saya maksud di sini bisa juga pada kondisi mental yang baik. Menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Dan internet ternyata bisa berperan. Tertarik? Let’s see..

Pertama kita bahas dulu apa itu internet. Oke, sebenarnya saya hanya memaparkan kembali, karena pasti kalian juga udah pada tau apa itu internet.

Menurut situs Wikipedia,

Internet (interconnected-networking) ialah rangkaian komputer yang terhubung di dalam beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf ‘I’ besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking.

Yupp, melalui internet banyak banget hal yang berubah di dunia ini. Informasi jadi terbuka selebar-lebarnya, tak terbatas ruang dan waktu. Kita bisa tahu apa saja yang ingin diketahui.

Manfaatnya antara lain, merujuk ke fungsi media massa:

1. To Inform >> Memberikan banyak informasi mulai dari berita terkini (dalam dan luar negeri). Situs berita juga semakin menjamur dan jadi pilihan orang-orang untuk dapetin informasi.

2. To Educate >> Memberikan pendidikan bagi kita. Contohnya, kita bisa baca e-book, literatur dari internet, googling buat ngerjain tugas, dan lainnya.

3. To Persuade >> Bersifat persuasif, mempengaruhi orang (khalayak). Misalnya, gerakan mendukung Bibit-Chandra, bantuan untuk Prita Mulyasari. Sadar tidak sadar internet (dalam hal ini situs jejaring sosial) bisa mempengaruhi kita.

4. To Entertain >> Menghibur. Bisa kita dapatkan dari situs-situs entertaiment. Situs jejaring sosial juga bisa jadi salah satu pilihan kan? (Facebook, Twitter, Friendter, Plurk)

Di luar fungsi-fungsi itu, masih banyak yang bisa kita dapetin dari internet. Misalnya ketemu sama temen masa kecil yang udah lama gak ketemu, tiba-tiba nongol (dari internet) atau online shop yang kini banyak digandrungi (penjual dan pembeli).

Penjual diuntungkan karena tidak perlu memiliki toko dengan biaya sewa yang mahal, atau karyawan banyak. Semua bisa dijajakan, baju, jam tangan, pernak-pernik, kue, apa pun. Dan semua bisa dihandle sendiri, bahkan dari dalam kamar tidur.

Sedangkan pembeli juga semakin dimudahkan dengan tidak perlu jauh-jauh mendatangi toko, tapi tetap bisa melihat koleksi jualan dan langsung memilih. It’s very easy.

Internet bisa bikin kita bersaing lebih sehat. Semua orang punya peluang yang sama. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Waw, hebat. SEHAT kaan?

Banyak loh orang-orang yang awalnya “biasa” jadi terkenal karena internet. Ya. Mereka memanfaatkan teknologi internet dengan baik dan sehat.

Misalnya Diana Rikasari (fashion blogger), Raditya Dika (Blogger yang kisahnya dibukukan), Audrey-Gamaliel (Penyanyi muda berbakat) atau bahkan Shinta-Jojo (Video klip “Keong Racun”).

Di luar negeri ada Justin Beiber (Penyanyi muda yang tenar karena videonya di Youtube), Mark Zuckerberg (Jutawan pendiri Facebook), Moymoy Palaboy (Duo saudara lypsinc asal Filipina) dan masih banyaak lagi.

Mereka memanfaatkan internet dengan sehat, untuk mencari uang, menghibur orang, hingga mengasah bakatnya. Bukan buat macem-macem (ex. ngebajak situs orang, melakukan pencurian secara online, atau buka-buka situs porno).

So, semua tergantung pilihan kita. Fasilitas perkembangan teknologi komunikasi (internet) mau dimanfaatin untuk hal-hal berguna atau malah menghancurkan diri sendiri. Yuuuk, mari budayakan internet sehat!! 😀

untuk Unpad yang Lebih Baik!!

Halo apakabar? Anda mahasiswa Unpad? Denger rame-rame tentang PRAMA gak sih? Kalo gw sih denger (dikit-dikit). Masa lo gak tau? Ahh, boong nih. Oh gak ya? (zzz)  Ahaha.. Bisa aja sih yaa, kalo emang publikasinya kurang membumi. Hihi 😀

PRAMA Unpad. Apa ituu? PRAMA means Pemilihan Raya Mahasiswa.

Mendengar isu miring dan gonjang-ganjing yang terjadi (apa dah?), gw jadi pengen ikutan ngeramein ahh. Kenapa sih kita perlu milih dan berpartisipasi dalam PRAMA?

Hemm, menurut gw yaa sebagai mahasiswa biasa, Helloooo.. Plis banget ya, ini tuh ngaruh loh sama kita sebagai mahasiswa (ini kalimat ababil banget :p). Simpelnya yaa Presiden dan Wakil itulah yang nanti bakal mimpin di Kema Unpad, yang bakalan jadi eksekutor hal-hal yang berkaitan dengan kemahasiswaan.

Menurut lo kalo yang mimpin ga bener? Bukan ga mungkin kaan terjadi penyelewengan atau tindak yang merugikan. Lo mau? Gw sih enggak. Gak lah.

(Apa banget deh? Gak mencerdaskan ya kata-kata gw?) Bhahahahahaa, baiklah. Ya maaf 😀 Sekedar pandangan mahasiswa biasa.

MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIH LEBIH BAIK DARIPADA MEMILIH KARENA TIDAK ADA PILIHAN

Eittss, kata sapa kagak ada pilihan? 🙂

Mangga atuh akang teteh dan teman-teman Unpad, pelajari calon yang ada. Simak yuuk cin 🙂 (banci mode: on)

NOMOR 1 >> Fresdi-Fenfen

NOMOR 2 >> Sayyidi-Randi

Udah liaat? Eyaa, banyak ya!! Visi-misi, program kerja, pengalaman organisasi, prestasi, la la la la.. Yah namanya juga untuk Unpad yang lebih BAIK. Wajar dong. Dan kalo bertahan dengan idealisme masing-masing dalam membangunnya (hemm??) it’s okay. Tapi tetep ya, sekali lagi UNTUK UNPAD YANG LEBIH BAIK.

Saya bukan KPU (Komisi Prama Unpad), bukan juga orang yang berkepentingan apa-apa. Beneran dah, saya cuma mahasiswa Unpad yang ingin berbagi informasi, untuk Unpad yang lebih baik.

Kalo saya punya pilihan itu pasti, makanya sekarang mau berbagi informasi, orang-orang yang bisa lo pilih.

Ayo mari berpartisipasi dalam PRAMA Unpad. Memilih dengan cerdas, bersaing dengan sehat tidak saling menjatuhkan. Itu keren banget pasti. Haha..

Gak usah debat-debat gak penting deh, yang penting aksi nyata aja. Toh kita sama-sama pengen Unpad yang lebih baik kaaan? Iya gak iya gak? Iyaa dong.

Terus terus, buat rekan-rekan yang lagi pada nyalon (Fresdi-Fenfen, sama Sayyidi-Randi). Semangat yaa!! Ayo tunjukin dong kalo kalian mahasiswa pilihan yang emang pantes untuk dipilih sama kita-kita (Mahasiswa Unpad). Ngulangin yang gw tulis di atas tadi, gak perlu pake saling menjatuhkan pasangan calon lain, kita pasti milih kok kalo kaliannya pada OKE.

Kalian juga setuju banget kan kalo black campaign atau apa pun itu GAK PENTING  BANGET. Masih banyak kok cara ngebuktiin kalo kita layak dipilih 😀

Udah ahh, beres. Cups! Hwaitiiing!!

Potret Pendidikan Indonesia

Suasana hari pendidikan belum sepenuhnya hilang dari benak kita. Yap, tepat tanggal 2 Mei kemarin, Indonesia baru saja memperingati hari Pendidikan Nasional. 2 Mei merupakan tanggal lahir dari KI hajar Dewantara, semasa hidupnya mengabdi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Namun, setelah sekian lama diperingati, ternyata pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berada dalam taraf sempurna. Apakah hal tersebut menjadi motivasi dalam perbaikan di Indoneisa? Bisa iya, bisa tidak. Masih banyak bolong-bolong kekurangan yang harus ditambal satu persatu.

(Foto: google.com)

Ada beberapa permasalahan yang saling berkaitan.

Pertama, dicabutnya UU BHP. Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang putusan uji materi Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) menyatakan UU ini inkonstitusiona karena bertentangan dengan UUD 1945 [Antaranews.com].

Putusan ini memang diamini oleh sebagian komponen masyarakat. Karena dianggap sebagai upaya komersialisasi pendidikan.

Namun, apakah ketika UU BHP tersebut dicabut masalah akan selesai? Tidak. Karena dunia pendidikan kini harus merumuskan kembali sistem apa yang tepat untuk  digunakan. Dunia pendidikan di Indonesia bisa jadi malah kehilangan arah. Lalu bagaimana tindakan pemerintah saat ini? Pemerintah tengah menggodok Perpu Pengganti BHP. Tapi belum apa-apa, beberapa elemen masyarakat sudah menyampaikan penolakannya.

Kedua, realisasi anggaran pendidikan 20% yang murni digunakan untuk kegiatan pendidikan (tidak termasuk gaji guru). Saat ini anggaran pendidikan memang sudah mencapai 20%. Namun, hingga kini anggaran tersebut termasuk untuk gaji guru. Sementara persentase gaji guru bisa mencapai 6%-7%. Jika dihitung-hitung, maka alokasi tersebut cukup besar dan mempengaruhi anggaran pendidikan.

Untuk itu, seharusnya pemerintah benar-benar merealisasikan 20% anggaran pendidikan yang murni tanpa potongan apapun. Sehingga pemerataan pembangunan dan fasilitas pendidikan bisa menyentuh seluruh institusi pendidikan. Karena tidak dipungkiri, fasilitas cukup menunjang kegiatan pendidikan selama ini.

Ketiga, sertifikasi guru. Hal ini juga mau tidak mau berpengaruh dalam proses pendidikan di Indonesia. Kemampuan guru dalam menyampaikan materi juga mempengaruhi tingkat pemahaman para siswa. Sehingga dibutuhkan akreditasi guru yang mengajar.

Keempat, ujian nasional (UN) bukan sebagai satu-satunya faktor penentu kelulusan siswa. Institusi pendidikan di daerah pelosok tentu lebih berat menerima kebijakan angka standar kelulusan yang terus meningkat. Sementara pada proses belajar, mereka tidak mengalami kemajuan. Fasilitas minim, guru terbatas (bahkan kadang masuk-kadang tidak), akses yang masih sulit.

Tentu angka atau nilai standar dibutuhkan untuk mengetahui kompetensi yang berhasil dilalui oleh siswa. Angka tersebut juga bisa dijadikan acuan dalam melihat kondisi pendidikan. Namun jika ujian nasional disamaratakan akan menjadi sangat tidak adil. Mengapa? Karena kondisi kegiatan belajar-mengajar di pedalaman dan pusat kota sangat berbeda. Siswa di pusat kota bisa saja mendapatkan guru terbaik, fasilitas cukup, ditambah dengan suplemen les dan bimbingan belajar. Sementara kondisi di pedalaman, guru yang masuk tiap hari belajar saja sudah untung. Fasilitas kurang, dan sebagainya.

Untuk itu, program pemerintah di bidang pendidikan seharusnya benar-benar mempertimbangkan segala sisi. Jangan hanya mengejar kuantitas tetapi utamakan kualitas. Nyatanya? Saat ini tidak sedikit sekolah yang pasrah terhadap ujian nasional, mengejar target kelulusan dengan berbagai cara. Hasilnya, tercatat banyak pelanggaran dalam pelaksanaan UN.

(Foto: google.com)

Kalau begitu, apakah tujuan pendidikan tersebut sudah tercapai sepenuhnya? Atau bahkan menjadi bumerang?

Persentase kelulusan pun menurun. Jika dibandingkan dengan 2009 yang persentase kelulusannya mencapai 93,74 persen, maka persentase kelulusan tahun ini mengalami penurunan sebesar 3,86 persen menjadi 89,88 [Tempointeraktif.com].

Memang, segala permasalahan yang terjadi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tetapi juga semua komponen masyarakat. Segalanya ada ditangan kita masing-masing. Apakah kita mau turut menyumbangkan perubahan atau hanya penanti perubahan.

Lets doing something!!

SEMANGAT Untuk Negeri!!

=)