Catatan Dodol: Salah Sasaran

Ini cerita pas gue liputan Jakarta Open 2012, bulan Mei. Baru sekitar satu bulanan terjun secara profesional di dunia bulutangkis (azegah. sok iye). Walaupun dari jaman SD suka nonton bulutangkis, tapi ya pengetahuan gue tentang atlet ya sebatas yang gue tonton di tv, atau Indonesia Open nonton di Senayan, belum tau seluk beluk sampe ke atlet-atlet klub.

Baru lah kemudian gue ngerti dan ngeh kalau atlet bulutangkis itu jumlahnya sebenernya seabreg-abreg. Walaupun mungkin yang muncul dipermukaan itu-itu aja, generasi muda bulutangkis Indonesia itu rupanya ada sampe daerah-daerah dalam jumlah banyak. Begitulah.  Dan di Jakarta Open 2012 itu pesertanya super duper banyak abis parah-parah. Saking banyaknya peserta, pertandingan bahkan berlangsung dari pagi sampe pagi. Gue pun dapet cerita dari beberapa atlet yang tanding jam 4 subuh. Salah satunya Kho Henrikho. Pagi buta Kho nangkring di GOR Asia Afrika, Senayan, ditanyain petugas kebersihan, “Ngapain mas pagi-pagi udah nongkrong di GOR,”

“Mau tanding lah pak,”

“Bukannya mulai jam 8?”

“Ini masih jadwal yang kemaren pak,” Jengjeng.

Dan lalu itu bapak-bapak petugas kebersihannya pingsan. Kagum dan terhenyak, ada yang lebih totalitas daripada dia.. (apasih)

Nahh, saking banyaknya peserta, gue juga menjadi salah satu pihak yang direpotkan menghapal sebanyak atlet itu buat gue pilih dan dinaikin jadi berita. Maklum, pendatang baru kita.

Alkisah, gue mau ngangkat pertandingan ganda putra, pasangan Praveen Jordan/Didit Juang Indrianto. Gue yang nggak hapal mukanya, gagal total mengawasi pergerakan mereka yang habis tanding pada ngacir kemana. Sampailah akhirnya mata gue menangkap sesosok lelaki yang gue tengarai sebagai Didit atau Jordan. Gue cek kamera untuk mastiin mukanya. Sip. Beneran itu mukanya ada di salah satu foto gue.

Dengan pede gue samperin tersangkanya. Gue liat nama punggungnya, PRAVEEN. Okelah, pas kalau begitu. Semua berjalan lancar.

“Praveen Jordan sorry ganggu, mau wawancara bentar boleh?”

Dia yang lagi ngobrol sama temen-temennya tampak bengong ngeliat gue. Mungkin masih asing sama muka gue. Ya maklum, wartawan bulutangkis itu orangnya itu-itu doang. Jadi ya kalau orang baru ya pasti ketahuan banget. Gue berusaha selow dan sepede mungkin.

“Iya saya baru buat liputan bulutangkis,” berusaha menjelaskan karena ngeliat mukanya yang masih planga-plongo. Kembali berusaha sopan, gue pun menyapa teman-temannya, “Jordannya saya wawancara dulu sebentar ya, sorry ganggu,” gue mengulas senyum semanis mungkin. Wartawan baru nyari muka yes.

“Oh iya iya mbak silahkan,” mereka senyam-senyum. Yes, berarti mereka menyambut baik kehadiran gue.

“Jordan gimana tadi komentarnya tentang pertandingan barusan?” tanya gue membuka pembicaraan, setelah memperkenalkan diri secara singkat.

Lalalalalalaa…. Semua berjalan lancar, gue mengajukan beberapa pertanyaan terkait pertandingan. Daaan gue baru aja mau mengakhiri wawancara terus tiba-tiba….

“Mas Didit, ditungguin tuh mobilnya udah siap. Ke asrama sekarang kan?”

What? Didit? Gue langsung penggaraman. Salting.

“Iya bentar ya,” kata orang yang gue duga sebagai Jordan itu. “Mbak, wawancaranya udah atau ada yang mau ditanyaain lagi? Saya mau balik..”

Jengjengjeng, gue mati gaya.

“Loh kok? Ohh, Didit ya? Kirain Jordan, soalnya bajunyaaaa…..,” kalimat gue menggantung disusul ketawa-ketawa puas temen-temen terduga Jordan ngeliat ekspresi gue.

“Udah kok udah. Sorry ya Didit, saya belum hapal mukanya dan cuma liat bajunya,”

“Gak papa mbak, saya gak bawa baju ganti jadi minjem Jordan,” sambil cengar-cengir.

“Emm, oke. Thanks ya…….Didit,” gue langsung beranjak pergi dan gak mau ngeliat kumpulan lelaki itu lagi.

Muke muke gueee, mau ditaro mane???

Didit Juang dan Praveen Jordan
Didit Juang dan Praveen Jordan

Beda iya beda emang mukanya. Yatapi waktu itu mana gue tau. Lalalayeyeyelalalalayeyeye..

Hikmahnya: Coba tolong terapkan dasar-dasar wawancara dalam mata kuliah lo Fay. Kenali narasumber. Sebagai lulusan Jurnalistik mungkin dosen gue bisa milih pensiun muda nih, malu sama mahasiswa didikannya jadi begini. Wassalam.

Advertisements

Panik Buta dan Informasi Sepotong

19.32 WIB

“Naf, lo dimana?”

“Stasiun Fan, mau balik. Kenapa?”

“Gambir?”

“Bukan, Palmerah, masih di daerah DPR kok, ada apaan Fan?”

“Gue kena tembak Naf…”

“Hah? Yang bener lo? Dimana posisi sekarang? Tunggu dulu, gue sama Kantri balik ke DPR lagi,” langsung panik meninggalkan stasiun dengan meninggalkan tiket kereta jurusan Tanah Abang yang baru aja dibeli.

Puluhan pandang mata tertinggal di stasiun, memperhatikan kepanikan gue dan Kantri yang tiba-tiba, teriak, loncat dan beranjak lari.

***

Ya, ini cerita tentang aksi hampir setahun lalu, yang berujung ricuh, yang sebenarnya sudah gue tinggalkan sebelum terlalu ricuh, yang sebenarnya lagi kita cuma ingin ngisi waktu kosong ngeliat yang pada aksi (nggak ada kerjaan).

Yang ternyata memakan korban, Luthfan.

Jumat (30/3/2012) beberapa elemen masyarakat, buruh dan juga mahasiswa menggelar aksinya di depan Gedung DPR RI. Tuntutannya, Tolak Kenaikan Harga BBM. Pemerintah menjadwalkan akan menaikkan harga BBM pada tanggal 1 April, yang katanya untuk menyelamatkan perekonomian Negara.

Efeknya? Tentu akan menjadi sangat luas, mulai dari kenaikan harga bahan pokok, perubahan tarif angkutan umum, kenaikan harga properti (info ini gue dapet dari temen gue yang mau nge-DP, dan ternyata harganya naik 15% dengan alasan BBM yang bakalan naik. BAKALAN ya, BELUM naik..) dan masih banyak lagi.

Sebenernya tulisan gue kali ini bukan untuk membahas kajian kenapa pemerintah ingin BBM naik, kenapa masyarakat dan mahasiswa menolak kenaikan BBM, bagaimana seharusnya, dan bagai macamnya. Gue lebih ingin share pengalaman aksi jalanan, yang waktu itu gue ikuti. Kalau dijadiin skripsi judulnya kira-kira begini “Korelasi Aksi Penembakan dengan Kepanikan Dalam Berpikir” (apasih) (nggak ngerti kuanti dan studi korelasi).

Memutuskan untuk ikut turun aksi tolak kenaikan BBM ini sebenernya gue lakukan H-5 jam. Mengingat besarnya efek yang akan terasa dan urgensi isu yang harus diperjuangkan, dan pas lagi nggak ada kegiatan (hehe). Gue janjian sama Kantri, Luthfan dan Geni, rekanan di Bandung Raya dulu *tsaah.

Pas di lapangan ternyata ketemu sama beberapa veteran jalanan juga. Aktivis BEM masing-masing perguruan tinggi yang sebenarnya udah pensiun di dunia ke-BEM-an. Tapi percayalah teman-teman, aksi turun ke jalan tidak dilihat dari waktu ngejabat di organisasi mahasiswa atau tidak saja, tapi lebih kepada panggilan jiwa (uhuk) (sok bener abis gue).

Kita merapat di barisan BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), bersama rekan lainnya dan adik-adik aktivis militan dari berbagai perguruan tinggi. Saat gue dan Kantri sampai di lokasi (depan Gedung DPR), suasananya belum panas, masing-masing LSM, buruh dan mahasiswa menyampaikan orasinya, memenuhi sepanjang jalan. Meski ada juga yang terlihat bakar-bakar ban bekas. Jalan tol Semanggi ditutup dan dipenuhi para demonstran.

Daaan yang menyedihkan adalah, aksi vandalism yang banyak dilakukan orang-orang. Pengerusakan pagar pembatas jalan tol, corat-coret pagar DPR, dan yang terparah menurut gue adalah perobohan pagar DPR. Mungkin ini salah satu ekspresi para demonstran yang tersulut emosi kali ya. Tapi kalo gue termasuk orang yang gak setuju atas pengidentikan aksi turun ke jalan diiringi dengan aksi vandalisme. Dan gue pastikan vandalism tersebut tidak dilakukan oleh teman-teman BEM SI (humas bersabda).

Menjelang sore, 4 pagar berhasil dirobohkan massa. Kurang tau pasti siapa-siapa aja orang tersebut, nyaru antara buruh, LSM dan organ ekstra. Gue, Kantri, Hanny, Luthfan, Geni, ketemu temen-temen lainnya, ada Asep dan Ali, kita masuk ke halaman DPR, ke tempat rumput-rumput (lari-larian, joget India).

Hanny, Kantry, LUTHFAN, Asep & gue

Diskusi ngalor-ngidul, sambil duduk dengan puluhan orang lainnya, di halaman berumput bagus itu. Di sebelah kita ada barikade polisi berseragam lengkap yang lagi pada ngaso, duduk-duduk sambil ngerokok dan foto-foto. Entahlah, tapi menurut gue seharusnya mereka bisa melakukan tindakan preventif. Bukan menunggu sampai lebih rusuh dan lebih rusak. Gatau ya protap mereka kaya gimana. Nyengir aja dah gue 😀

Continue reading “Panik Buta dan Informasi Sepotong”