Pasca Kejadian Perampokan di Angkot Bandung

Pasca kejadian perampokan yang gue alami beberapa hari yang lalu, begitu banyak respon positif dan simpati yang gue terima (Terima kasih banyak ya teman-teman). Ini mungkin karena cukup banyak orang yang men-share pengalaman gue, melalui twitter, facebook, BBM, grup, milist, dan sebagainya.

Terima kasih juga buat teman-teman yang komen di postingan gue kemaren dan beberapa orang juga men-share pengalamannya. Makasih🙂🙂

Makasih juga buat @Infobdg yang sudah me-RT blog saya, tentunya berkat bantuan dari tweeps yang lain juga. Makasih ya makasih. Ini untuk pelajaran kita bersama🙂 Semoga bisa diambil hikmahnya.

Bener-bener dahsyat ya kekuatan jejaring sosial…

—-Sebelumnya maaf kalo gaya berbahasa saya dianggap kurang sopan atau gimana, tapi di tulisan-tulisan blog sebelumnya, bahasa saya sudah menggunakan yang seperti itu (gue-lo), jadi saya rasa agak ganjil kalau harus merubahnya. Ini mungkin faktor lingkungan pertemanan saya atau yang lainnya. Jadi maaf ya kalau gak nyaman bacanya—–

Bukan. Bukan maksud gue menggumbar permasalahan yang gue hadapi, bukan berharap perhatian dan simpati. Gue cuma menuliskan pengalaman ini untuk diambil hikmahnya oleh banyak orang. Untuk lebih berhati-hati dalam berkendaraan umum, khususnya perempuan. Karena ketika kejadiannya udah kaya gini, bahkan aparat berwenang pun sulit untuk diharapkan (maaf kalo terlalu berpikiran negatif).

Mohon maaf juga kalau tulisan gue dianggap memancing pemikiran negatif masyarakat mengenai kinerja kepolisian. Gue hanya menuliskan pengalaman yang membuat gue semakin percaya, GUE GAK BISA LAGI PERCAYA SAMA PIHAK KEPOLISIAN (maaf emosi) *sedih*

Sedih loh nulisinnya. Ini tentang aparat negara kita. Mereka yang seharusnya mengayomi dan melindungi masayarakat. Membuat kita merasa aman dari berbagai bentuk kejahatan.

Fyuhh, semoga itu cuma oknum ya teman-teman *berharap masih banyak polisi keren yang jago dan niat membasmi kejahatan*

FYI berita tentang kejadian ini dimuat juga di Detik.com ternyata. Gue baru tau dari temen. Ini beritanya (klik).

Gue gak diwawancarain, tapi mungkin wartawannya baca blog gue. Melihat luasnya cerita gue tersebar dan identitas yang tidak dirahasiakan, adek gue, Sasaki kemudian menyarankan untuk memprotek akun-akun gue. Memprotek twitter, facebook dan jejaring apapun yang bisa ngasih info detil tentang gue. Sapa tau perampoknya jadi sebel sama gue karena kesebar-sebar.

Ngeri juga ngebayangin kalo perampoknya kepo dan lalu tau kampus gue, tau kosan gue dan nangkringin, trus gue diculik, trus mereka minta tebusan, trus makin ribet urusannya (lebay, lebay! Maaf)

Yea, gue gak tau itu perampoknya gaul apa ga? Gue cuma berharap dia gak punya twitter, gak punya facebook, gak gabung di grup dan milist tertentu, gak dapet BM tentang cerita ini, gak baca Detik.com dan blog gue. Jadi dia gak tau apa-apa dan selow-selow aja.

Tapi gue baru inget, perampoknya itu pake jaket kulit, berkacamata dan pake behel *itu ciri-ciri rampok gaul bukan ya?*

Semoga aja dia masang behelnya di tukang gigi yang cuma buat gaya, jadi gaulnya juga abal-abal (maaf kalo ada yang tersinggung, gak maksud).

Oia, berdasarkan saran teman-teman dan beberapa orang yang baca blog gue, gue udah mengirimkan kronologis dan cerita tentang tanggapan polisi itu ke redaksi Pikiran Rakyat. Semoga dimuat ya, untuk informasi ke masyarakat luas biar lebih berhati-hati.

Oia (lagi), gara-gara tersebarnya tulisan ini gue juga jadi ketemu sama mbak-mbak yang Blackberrynya diambil sama perampok itu (dahsyatnya twitter). Sempet berkomunikas beberapa kali via twitter dan komen di blog, tapi sepertinya mbak tersebut juga urung melapor ke polisi, agak percuma kayanya, menurut mbak itu.

Tapi gue bilang, kalo dia mau melapor dan butuh saksi, Insya Allah gue siap. Karena penjahatnya masih berkeliaran, dan gue kesereman paraaaah.

TIGA HARI PASCA KEJADIAN..

Tadi pagi merupakan kali pertama gue keluar kosan untuk beli sarapan, setelah tiga hari berlalu. Sebelumnya gue bahkan ogah buat keluar kamar kecuali buat ke kamar mandi dan wudhu. Mungkin ini yang dinamakan trauma kali ya.

Dan setelah gue sampe kosan lagi (abis beli sarapan) tiba-tiba gue langsung mual-mual dan gemeteran hebat. Ini sugesti gue aja kayanya. Gue langsung menangkap dengan jelas orang-orang yang pake jaket kulit. Diperjalanan pendek gue buat beli nasi kuning itu bahkan ada sekitar 10 orang laki-laki yang gue temui make jaket kulit. Langsung stress.

Astagfirullah, traumatik berlebihan banget ini gue namanya.

Gak boleh gini terus. Gue harus move on. Apa jadinya kalo gue ketakutan gak jelas kaya gini terus. Banyak hal yang harus gue lakukan di luar sana. Yap, penjahatnya masih berkeliaran saudara-saudara😥

Fighting!

Tetap waspada dan hati-hati ya teman-teman…

4 thoughts on “Pasca Kejadian Perampokan di Angkot Bandung

  1. Yang kuat ya Mbak. Sekali lagi saya sebagai seorang yg jg tinggal di Bandung, dan masih mengandalkan jasa angkutan umum, ikut bersimpati dengan apa yang menimpa Mbak beberapa waktu lalu.

    Berharap agar pihak keamanan mampu menciptakan rasa aman di Bandung Lautan Bahaya ini, hanyalah kesia-siaan, bisa jadi bumi keburu kiamat untuk mengharapkan hal tersebut terjadi. Yang bisa kita lakukan, hanyalah lebih ekstra hati-hati, dan memproteksi diri dengan sebaik-baiknya, dan memprediksi segala kemungkinan terbaik dan terburuk yang bisa terjadi.

    Salam,
    dari bandung utara

  2. Tanggapan oknum polisi yang meremehkan pelapor itu sudah menjadi rahasia umum.
    Kalau tidak ada UANG, mereka tidak akan bergerak. Banyak yang bilang seperti itu.
    Kalau cuma diremehkan itu masih belum seberapa, dulu waktu SMA, ada perampok yang nyaris mengambil HPku, tapi tertangkap, dan akhirnya diserahkan ke kantor polisi.
    beritanya pernah dimuat di koran juga, bisa baca di blogku : http://rosyidi.com/ketika-wartawan-salah-kutip/
    Dan HPku dijadikan barang bukti, tapi….
    HP dan sejumlah uang yg dijadikan barang bukti lenyap. Polisi bilang dibawa kejaksaan, begitu pula sebaliknya. Jadi intinya ketika aku melapor ke kantor polisi, kerugianku justru lebih besar ketimbang HPnya diambil maling. Karena rugi waktu, tenaga, dsb. Dan karena itulah jangan heran kalau masyarakat sekarang lebih suka main hakim sendiri, dan aku juga sepakat, dimana sudah banyak oknum polisi yang tidak bisa dipercaya lagi.
    Aku bilang oknum, karena aku yakin, diantara oknum2 yang tidak bertanggung jawab itu, masih ada oknum polisi yang baik dan jujur.
    Semoga Allah memberi kekuatan, memberi berkah dan limpahan rahmat kepada polisi-polisi yang baik dan jujur dalam menjalankan tugasnya.

    Terkait masalah memuat artikel yang tanpa izin, itu bisa dilaporkan ke pimrednya. Menurut temanku yg wartawan seperti itu. Dan media yang bersangkutan diwajibkan merevisi tulisannya bila dianggap keliru.

    Kalau masalah trauma, coba konsultasi ke psikolog.
    Semoga mbak nafielah mendapat kekuatan dan ketabahan dalam menghadapinya. Dan semoga kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali.
    Banyak berdo’a mbak. Karena do’a adalah kekuatan yang utama. Do’a bisa mengubah takdir.

  3. social network is the new journalism😛
    eh,halo,assalamualaikum, gue baru aja baca postingannya krn ada yg share di FB (dan gue ijin share juga yah hehe). Kaget bgt skr di indonesia (apalagi bandung) udah main nodong pake pistol (ga peduli paslu/asli). Semoga dikuatkan, dan untuk kedepannya selalu dlm lindungan Allah swt,aamiin🙂
    dan,oh, i love your writings!

  4. makasih share nya.. sangat bermanfaat buat kita2 pengguna angkot di bandung, apalagi cewek, sangat rawan jadi korban. Tapi klo bawa pistol gitu mah mo cewek mo cowok ya parno juga.
    btw agak kaget liat blogroll nya ada link bem-si.com, hehe.. dulu saya yg mbikin tapi udah modar skrg (karena sayanya dah lulus😀 ) #OOT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s