Renungan Hujan, Untung Saja Bertekad

Satu sore ditemani geli-geli rintik hujan yang mengguyur, gue duduk di halte damri. Pangdam Dipatiukur lebih tepatnya. Suasananya sama sekali gak romantis dan unyu-unyu, kaya video klip bersama bintangnya aurel. Padahal intinya mirip, kita sama-sama duduk di halte, berteduh dari hujan. Gue duduk di halte yang beberapa sisi atapnya udah bocor, ditemani bau got yang meluap, antara bau busuk dan pesing nyampur jadi satu. Hoks.

Padahal waktu hujan adalah salah satu moment favorit gue. Dimana gue bisa menikmati bau tanah basah yang syahdu, menenangkan. Hmmmm, bau yang khas..

Sendiri. Kadang kita memang butuh waktu sendiri untuk berpikir dari berbagai sisi, menangkap sinyal-sinyal bahasa Tuhan yang terabaikan, atau apapun itu. Melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Terus terang gue termasuk tipikal orang Indonesia kebanyakan yang suka berkelompok, asik dengan komunitasnya, nge-gank mungkin kasarnya. Bukan tidak mau peduli dengan orang lain, tapi lebih kepada memperoleh rasa nyaman dengan komunitas.

Tapi bukan berarti gue gak bisa mandiri. Gue tetep independen dan gak cuma terpaku pada ikatan tertentu. Ya kalo gue lagi sendiri gue tetep hidup dan senang-senang. Well yeah kita suka dong nemuin orang yang cuma rame kalo lagi sama temen se-ganknya, tapi kalo sendirian melempem aja, kaya makhluk asing dari planet lain, gak bisa ngapa-ngapain. Jago kandang.

Memperhatikan sekeliling, gerak-gerik orang, mimik wajah gusar, sekelompok anak SMA lagi pada gossip, angkot-angkot ngetem, asap rokok yang mengepul tebal, tukang batagor dan gorengan yang menepi berteduh, ibu-ibu paruh baya dengan bawaan kantong besar yang beratnya melebihi berat badannya, mahasiswa yang lagi pada kejebak ujan di tukang foto kopian, macam-macam.

Sekali-kali mata dan jari-jari gue beralih ke handphone. Main game, bosan, liat-liat lagi. Merenung.

Tunggu. Balik lagi ke pemandangan tadi,

… gerak-gerik orang, mimik wajah gusar, sekelompok anak SMA lagi pada gossip, angkot-angkot ngetem, asap rokok yang mengepul tebal, tukang batagor dan gorengan yang menepi berteduh, ibu-ibu paruh baya dengan bawaan kantong besar yang beratnya melebihi berat badannya, mahasiswa yang lagi pada kejebak ujan di tukang foto kopian, ….

Aah, yaa.

Tukang gorengan.

Tiba-tiba gue inget sesuatu, tukang gorengan.

Gue punya teman, teman dekat. Kita suka bercerita tentang banyak hal, apa pun, dari yang paling penting sampe gak penting. Dari masalah negara sampe cuma nanya “anti spy hape yang bagus, yang ini atau yang itu ya?”.

Dia pernah cerita ke gue, “Kamu liat tukang gorengan itu gak?”,  gue ngeliat ke arah yang dia tunjuk.

“Dia salah satu motivasi saya untuk kuliah loh,” katanya.

“Oh ya?” gue masih bingung, belum menangkap maksudnya.

“Ya, karena kalau saya hanya sekolah sampe SMA, saya pasti disuruh kerja biar langsung dapet duit. Jualan gorengan itu hal yang paling mungkin,” katanya lagi. Gue hanya mengangguk-nganguk, mendengarkan.

“Karena saya gak mau jadi penjual gorengan, makanya saya belajar yang rajin buat sekolah tinggi sampai kuliah kaya gini. Bukan maksudnya jual gorengan itu jelek ya, cuma saya punya cita-cita yang begitu tinggi dan ingin maju,” teman saya itu mulai menjelaskan panjang lebar.

Hemm, ok. Gue agak speechless karena itu gue denger langsung dari temen gue. Bukan di film-film laris yang mengangkat kisah pinggiran, atau novel-novel menggugah ataupun cerita dari orang-orang.

Di lain waktu dia juga pernah ngomong, “Kamu tahu laskar pelangi?”.

“Of course,” gue jawab mantap.

“Ya, orang-orang banyak nangis pas nonton karena terharu, kalau saya nonton juga nangis, tapi itu lebih seperti flashback tentang saya waktu SD,” katanya sambil tersenyum simpul. “Entahlah mungkin kebanyakan orang belum tau keadaan yang lebih nyata atau gimana, tapi banyak loh kisah yang kaya di film laskar pelangi itu, kaya saya, cuma bedanya saya gak dijadiin film aja ” katanya santai.

“Yaudah ntar gue aja yang bikinin filmnya,” kita sama-sama ketawa.

Dan teman gue ini emang jago loh. Serius. Dia suka ikutan kompetisi-kompetisi keilmuan, pernah menang kontes orang pintar di kampusnya, aktif dimana-mana, jadi pemateri ini itu, pernah jadi ketua perkumpulan orang muda berpengaruh di Indonesia dan banyak lagi.

Tekad coy. Itu kuncinya. Memang sih, ini belum menjadi fase klimaks dalam puncak karier temen gue itu, tapi ini bisa jadi motivasi buat kita. Minimalnya buat gue, yang suka layah leyeh seenak jidat.

Kebayang kan kalo temen gue ini gak punya tekad yang kuat, habis SMA dia mungkin pasrah, gak melanjutkan kuliah, jadi penjual gorengan. Pertemuan kita pun mungkin bukan sebagai temen masa kuliah, tapi pertemuan antara penjual dan pembeli. Gue lagi beli gorengan.

Begitulah.

Ahh, hujan reda. Saatnya melanjutkan perjalanan.

2 thoughts on “Renungan Hujan, Untung Saja Bertekad

  1. Jakarta, 15 Februari

    Pagi entah apa yang membuat gw tiba-tiba buka laptop, nyalain modem, buka blog, liat link, buka blog fae..

    haha.. nyengar-nyengit baca blog si pae..
    lumayan hiburan di pagi hari🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s