Kali Ini Tak Bisa Dibagi

Pagi ini masih dengan rutinitas yang sama, seminggu ini benar-benar sama.

Bangun tidur dengan pengelihatan yang masih kabur, beranjak keluar dari gulungan selimut, meraba-raba sekitar langsung menyalakan laptop. Membuka file berjudul bab 4,  sudah begitu saja. Kemudian membiarkannya dan melakukan aktifitas lain, sholat, kembali guling-gulingan di kasur, mengaduk-aduk dapur kosan nyari yang bisa di makan. Menonton tv sebentar, melihat perkembangan dunia luar, sebentar saja, lalu kembali duduk di depan layar laptop yang kian hari kian membuat pusing mata. Ya, pusing mata.

Rutinitas baru, bangun tidur langsung buka laptop, sekedar memastikan apakah bab 4 gue ada kemajuan apa ga. Untungnya selalu ada perkembangan, meski hanya satu kalimat, yang beberapa waktu kemudian mungkin bakal gue hapus lagi.

Kali ini tidak bisa dibagi, rata-rata teman sekitar gue pun merasakan hal yang sama. Sibuk bergulat dengan tugas akhir yang belum juga berakhir. Untuk apa dibagi, toh  mereka pun sudah punya banyak yang sama dengan gue.

Dan hiburan gue adalah blog walking. Ketawa ketiwi baca ini itu, angguk-angguk pala kalo nemu yang baru, bosan dan mencaci maki ketika melihat sesuatu yang busuk. Kemudian, harus segera kembali pulang, pulang ke file word bab 4 gue.

Menulis hal-hal gak penting menjadi hal yang menarik saat ini, ngeblog, ngetwit, tidak di facebook. Facebook kian membosankan, bagi gue. Dan yang lebih memuakkan lagi, ternyata gue lebih banyak menelurkan tulisan busuk. Entahlah, gue tampak sulit menyampaikan dalam bahasa tersirat yang misterius, yang yoi, yang bikin orang kagum, yang multi tafsir, yang menggemparkan, amazing, belum pernah ada sebelumnya. Khas penulis oke versi gue, menyembunyikan perasaan dalam tulisan. Padahal tulisan itu sangatlah keren buat gue. Keren mamen! Tapi gue gak bisa -___-“

Sementara gue, mungkin terlalu jujur ketika meluapkan perasaan dalam tulisan blog gue, gampang ketebak banget, gak keren. Gue cuma berharap hukum alam itu benar adanya, bahwa orang keren memang tidak pernah merasa dirinya keren, malah merasa cupu. Dan itu gue, berarti gue yang sebenarnya tetaplah keren. Pret!

Dan beberapa waktu  lalu baca-baca postingan blog gue yang belakang-belakang,

OH MY GOD

Sungguh alay. Ya gue alay banget dalam menulis. Tak penting untuk dibagi. Come on!

Malu bacanya. Elo alay naf! Beneran.

*meremin mata, tutup telinga, geleng-geleng kepala*

Ya Tuhan Pemilik Seluruh Alam, gue suka ngatain orang alay, dengan tulisan gede kecil yang nyampur-nyampur sama angka, dengan nama facebook yang alay, dengan bahasa-bahasa planet mars, yang update status facebook beberapa detik sekali (mungkin itu orang belum kenal sama yang namanya twitter), dengan foto kamera pake angle dari atas (oke, gue juga ada sih foto hina kaya gini), dengan rambut alay yang nutupin setengah muka, dengan berbagai hal yang menurut pengelihatan mata kaki gue begitu alay,

Ternyata tulisan gue pun alay.

Ya Allah, dosa besar tipe apa yang pernah gue lakukan, sehingga gue ikutan kena kutukan alay. Mari istighfar bersama..

ASTAGHFIRULLAHALADZIIIM.

Gue harus tobat, walau mungkin sedikit agak susah.

Ya lebih baik balik lagi ke file word gue. Melanjutkan bab 4. Bye.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s