nine-to-five

Terjebak dalam rutinitas nine-to-five bukanlah sesuatu yang gue harapkan dalam waktu dekat ini. Bayangkan, separuh hidup gue (bahkan lebih) dalam satu hari dihabiskan di jalan dan menghadapi sebuah meja-komputer-telefon-dan setumpuk berkas-berkas.

Belum lagi harus bergelut dengan kerasnya Jakarta, polusi yang membabi buta, copet, abang-abang mesum (lo harus tau ini sangat banyak berkeliaran, sial!), muka masam ambisius, bau ketek, pengap empet-empetan di KOPAJA, pengguna jalan yang suka seenak jidat asal seradak seruduk. T*i!

Yah, gue tulis ini dengan emosional. Bukan hanya emosi karena gue marah, tapi satu sisi ada perasaan excited, menggila, senang, bosan, sedih, dan yang paling banyak adalah………..

GALAU. Virus ini tanpa pernah gue minta memang sering datang dan pergi seenaknya, gantungin perasaan gue. (Uuugh, ga enak tauk digantungin! Hoeks)

Kali ini gue mau cerita yang pait-pait aja. Karena suasana pala gue lagi pait sepait-paitnya.

Kembali kepada Mr.nine-to-five. Well, memang ga gue pungkiri, gue pengen banyak beraktivitas di luar rumah. Wanita karier. Wanita yang berkarier. Suka-suka gue ngapain aja. Haha.

Nah poin “suka-suka gue ngapain aja” ini yang ga gue punya sekarhaaaaang.

DAN DEMI BUMI DAN LANGIT, CINTA DAN ANUGERAH, DEMI PUTRI YANG TERTUKAR, percayalah nine-to-five ini berasa kutukan buat gue. Terlepas dari bentuk kerjaan yang mungkin menyenangkan bagi gue, tapi untuk waktu gue yang habis ini…… aaahhh.

Gue berasa terbunuh. “Nine-to-five” killing me softly. Waktu hahahihihehe gue bareng temen hilang, jarang ketemu orang rumah, kegiatan kampus abai, sidang-sidang nomer kesekian, skripsi mentok bab NIAT (Yaudahlah ya, ini gausah dibahas dulu, akan gue bahas panjang kali lebar kali tinggi dipostingan selanjutnya)

Dan gue naik 4 kilo dalam kurun waktu 1 bulan. Imagine that! Hahaha.. Yeay, duduk depan komputer-jarang gerak-makan tepat waktu-ngemil mulu. Di rumah selalu ada makanan yang menari-nari manggil gue minta ditelen.

Dan lagi orang-orang sekantor gue doyan ngemil, selalu jajan, dan gue selalu ditawarin. Hehe. Ini emang dilemma. Satu sisi gue makan gratis dan kenyang, satu sisi gue gabisa nge-REM buat MAKAN. Thanks kak Fani! Selalu berhasil membuat gue makan mulu.

Oke itu cuma sekelumit dari kegilaan gue saat ini. Bodo amat gue emang doyan makan.

Yang lo mesti tau, gue cinta sama kerjaan ini, ga cinta mati juga sih, paling ga gue ga benci lah ya. Yang gue murka hanya Mr. nine-to-five itu. Please ceraikan gue!

Belum lagi si Mr.nine-to-five ini tidak termasuk perjalanan gue pulang dan pergi. Dari jam 7 gue keluar rumah, balik lagi pait-paitnya sampe jam 9. Perfecto numero uno!

I hate nine-to-five!

Tidur aja yok, cus. (z_z)

.

.

.

.

.

.

Oia, satu lagi. Gue lagi (merencanakan) DIET RANDOM. Doakan aja ya! Please turun 10 kilo dalam satu bulan. Oke tidur lagi, zzzzz….!!

One thought on “nine-to-five

  1. ahahhhaa….

    yup itulah derita pekerja naf….

    mirip2 dikit lah sama kerjaan gue dulu, you know kan “mawar-rio?” gakgakgak
    itu duduk dari pukul seven to four, bisa tambah sampai nine (karena sdm terbatas)
    duduk, terima telepon, jawab ini-itu, terima complain, bla..bla..bla…
    makan terjamin, apalagi kalo malem tambahannya ok, tapi ya konsekuensi BB naek gk ketulungan….
    diet pasca itu? nope…susehnyeee…
    tapi percayalah, skripsi bisa membuatmu sedikit lebih kurus (o_O )v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s