Menyesuaikan Diri, WHY NOT?

Satu hari, hari itu hari Jumat (26/11). Gw berangkat dari kosan, tujuan kali ini ke sebuah rumah sakit di Bandung. Tap tap tap, jalan kaki dan nyampe di tempat perlintasan angkot Cicaheum-Ciroyom.

Beberapa angkot lewat, tapi gw ga naikin. Soalnya mau nyari tempat duduk di depan. Duduk di samping pak supir yang sedang bekerja. Mengendarai angkot yang gw naikin. Hehe. Duduk di depan atau belakang sebenernya sih sama aja. Masing-masing ada keistimewaannya (menurut gw). Kalo duduk di belakang, lebih berbaur dengan pengguna angkot lainnya. Memperhatikan aktivitas orang-orang, ada yang smsan, diem dan bengong, tidur, ngobrol rame. Macem-macem. Dari obrolan rame orang-orang juga kita bisa banyak belajar loh. Banyaaak hal. Gw sering dapet hal-hal baru yang waw.

Tapi awas, jangan keasikan liat kanan-kiri merhatiin orang sampe ga kedip. Bisa-bisa disangka mau nyopet atau ga sopan. Nei nei nei, jangan sampe.

Kalo duduk di depan, kita bisa liat pemandangan jalanan lebih puas. Ngeliat aktivitas masyarakat lebih dekat. Hey, this is Indonesia! Kalau lo mau tau lebih dalam tentang Indonesia, salah satunya bisa lewat naik kendaraan umum. Berbagai reaksi dan aktivitas kita bisa tangkep secara natural.

Itu juga kenapa salah satu dosen gw lebih milih naik kendaraan umum dari pada mobil atau motor pribadi. “Kalau naik kendaraan umum, kita bisa tau realitas sosial lebih dalam,” kata Pak Sahala, dosen gw.

Mungkin ini bisa jadi SALAH SATU masukan buat petinggi-petinggi negara yang katanya mau tau permasalahan masyarakatnya, yang sebener-benernya. NAIK ANGKOT. Bisa ngurangin polusi juga loh bapak-bapak dan ibu-ibu.

Teng teng, beberapa menit kemudian dateng angkot Cicaheum-Ciroyom yang bangku depannya kosong. Lambai-lambaiin tangan ke depan (nyetop angkot maksudnya). Angkot pun berhenti..

Buka pintu-masuk-duduk-tutup pintu. Bersiap untuk perjalanan kali ini, hehe. Sebenernya gw selalu eksitit (kenapa tulisannya jadi begini?) dalam setiap perjalanan. Memperhatikan banyak orang. Yeaah.

Si abang-tukang-angkot tiba-tiba ngomong, “Memang kau mau kemana nya?” dengan logat batak kental.

Gw sempet kaget, ini abang-tukang-angkot kenal gw apa emang pengen ngobrol aja. Tapi belum sempet gw ngeh dan menjawab pertanyaannya,

“Belanja lah aku, mau pulang kampung pun ke medan,” seorang ibu-ibu dengan paras khas orang batak menjawab cepat.

Beuuh, untung aja gw belom jawab. Padahal gw beneran udah mau buka mulut jawab pertanyaannya. Kalo udah, bisa kicep dah eike. Hahaha, hampir-hampir. Harga diri mau dimasukin kantong kresek dah kalo tadi kejadian (haha, lebay!)

Ga banyak yang gw lakukan saat itu, bales sms sebentar, cek-cek isi tas, mastiin ga ada yang ketinggalan, dan fokus pada perjalanan. Abang-tukang-angkot tadi masih asik ngobrol sama ibu itu, pake bahasa batak full, ternyata mereka temenan.

Kami ngelewatin angkot lain yang lagi ngetem. Tau ngetem kan? Berentinya sebuah angkot atau angkutan umum apa pun, di tengah perjalanan, atas dasar kekuasaan sepihak abang-tukang-angkot untuk mengejar setoran, yang kadang semena-mena ngebiarin penumpangnya kesel setengah idup karena kelamaan nunggu. “Woi abang-tukang-angkot, saya buru-buru nih. Telat!!”

Disindir-sindir pake batuk-batuk, ketuk-ketuk kaki ke lantai angkot, teriak ngamuk-ngamuk (dalem hati), sampe ngomong langsung, abang-tukang-angkot tetep aja selow.

Oke, balik lagi. Kita ngelewatin angkot lain yang ngetem tadi. Abang-tukang-angkot yang gw naikin (angkotnya) teriak, “Woi, batur. Kemana aja nya kau. Lama kali tak jumpa sama batur aku yang satu ini,” katanya, khas dengan logat batak dan bersuara nyaring.

Uw, merhatiin ga lo ada yang ganjil? Yoi, penggunaan kata Batur dengan logat batak. Batur itu bahasa sunda artinya Teman.

Waw, ini keren menurut gw. Proses akulturasi ya namanya? Budaya satu sama budaya lain bergabung dan jadi budaya baru, tanpa merusak dua budaya yang sebelumnya. Kalo kata om Wiki (Wikipedia),

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

Masih inget sama salah satu pepatah kita kan,

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Inilah yang dilakukan sama abang-tukang-angkot dan teman-temannya. Orang batak yang pake bahasa sunda dikit-dikit. Gimana caranya kita menyesuaikan diri di tempat orang😀

Pelajaran baru lagi buat gw. Kalo di komunikasi itu ada yang namanya komunikasi lintas budaya.

Komunikasi Lintas Budaya adalah proses komunikasi (pertukaran pesan antara komunikator dengan komunikan dengan tujuan tertentu) yang dilakukan oleh orang yang berbeda budaya (bisa suku, negara ataupun yang lainnya)

Dalam komunikasi kita ga boleh memaksakan rekan komunikasi kita secara egois untuk ngikutin maksud kita. See? Bahkan seorang abang-tukang-angkot pun menerapkannya.

Oke. Bukan maksud gw mendiskreditkan atau bahkan merendahkan pekerjaan tertentu (bukan sama sekali), tapi ini lebih kepada bagaimana kita mendapatkan pelajaran dari mana saja.

Kalau mau dibahas lebih luas dan jauh, uuhh, malu banget kalo mempertahankan ego kita. (Ini keluasan ya sama tulisan gw yang di atas) Hehe, biarin lah.

Waah, kalau semua orang bisa menyesuaikan diri seperti ini, pasti keren banget jadinya. Ga ada lagi gontok-gontokan (pada permasalahan yang lebih kompleks) karena ga ada yang mau menyesuaikan diri.

End, thank you for reading, Haha, cups :*

abang-tukang-angkot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s