KULTUR NEGATIF MAHASISWA INDONESIA (yang pernah gw temui..)

(tulisan ini gw bikin 2 tahun yang lalu, heuu.. dan belum sempat gw publikasikan. menumpuk dalam data-data di laptop gw. dan gw coba posting sekarang)
tapi gw kasih catatan yaa, tulisan ini berdasarkan pengamatan gw aja selama ini..bukan berniat untuk menghakimi, atau merasa benar sendiri. cuma gw mau share aja..

Minggu, 27 April 2008

Posisi mahasiswa sebagai salah satu komunitas yang cukup berpengaruh dalam pemerintahan di Indonesia, membuat perlunya kualitas mahasiswa yang benar-benar matang dan berdedikasi tinggi dalam memajukan Negara. Salah satu bukti nyata kekuatan mahasiswa dapat kita lihat dari runtuhnya pemerintahan orde baru.

Namun sepertinya semangat untuk memajukan Negara dan membela kebenaran yang mengalir dalam tubuh mahasiswa mulai memudar. Mahasiswa saat ini cenderung skeptic dan kurang bercermin.
Sebagai contoh, saat melihat kasus korupsi, penyelewengan dana rakyat, dan pelanggaran di kubu pemerintahan, tentunya kita semua akan meneriakkan “makian” pada wakil rakyat tersebut. Namun seolah tak sadar, polah mahasiswa saat ini sebenarnya tidak menutup kemungkinan bagi mereka, jika nantinya terjun dalam pemerintahan, akan melakukan hal yang sama dengan para pejabat yang saat ini mereka kritisi.

Berdasarkan beberapa pengamatan dan survei yang dilakukan, dapat dirumuskan beberapa kultur negatif mahasiswa Indonesia saat ini, yang nantinya dapat merusak Indonesia dikemudian hari.

• Kuliah ga kuliah yang penting ngumpul
Hal ini paling sering dan banyak berlaku ditengah mahasiswa kita. Setiap waktu kosong yang ada digunakan untuk ngumpul, bergosip ria, membicarakan hal-hal yang tidak penting. Rutinitas yang menjauhkan kita dari kesadaran akan realitas yang ada. Kegiatan ini sering dilakukan ketika dosen terlambat masuk, atau bahkan ada yang sengaja tetap melakukannya, walaupun dosen yang dijadwalkan sudah ada. Padahal, jika saja waktu yang ada digunakan untuk berdiskusi, melahirkan sebuah wacana, untuk kemudian mencari solusi permasalahan yang hangat dan sedang terjadi di sekitar kita, tentunya hal tersebut lebih bermanfaat. Selain mengasah kemampuan kita dalam menganalisa sebuah masalah, hal ini juga berguna dalam memajukan Indonesia kearah yang lebih baik lagi.

• SKS
Yang dimaksud bukanlah Satuan Kredit Semester, namun Sistem Kebut Semalam. Hal ini berlaku bagi mahasiswa dalam mengerjakan tugas atau bahkan belajar untuk persiapan kuis, uts, uas, dsb. Kultur yang membudaya seperti ini membuat ilmu yang kita dapat dibangku kuliah hanyalah untuk ujian saja, bukan untuk diaplikasikan di tengah masyarakat. Dan ilmu yang ada pun hanya anget-anget tai ayam.

• Copy-Paste
Budaya Sistem Kebut Semalam dalam mengerjakan tugas, melahirkan satu lagi kultur negatif mahasiswa Indonesia, yaitu budaya copy-paste. Waktu yang mepet dalam pengumpulan tugas, membuat mereka beranggapan bahwa copy-paste adalah jawabannya. Padahal jika dirunut, kalau saja mereka mengerjakannya tepat pada waktunya, tentu copy-paste bisa dihindari. Seringnya melakukan hal ini, secara tidak langsung membudayakan kita untuk malas berpikir kritis. Tugas yang diberikan, yang seyogyanya diadakan untuk membuat kita berpikir cerdas, menjadi tak berarti lagi.

• Skeptic
Berpikiran sempit. Tujuan akhir yang membudaya adalah lulus dengan IPK minimal Cum Laude. ??.. Apa yang mereka jadikan prioritas hanyalah penilaian kuantitas, dan mengabaikan kualitas saat mereka lulus nantinya. Mereka beranggapan bahwa jika mereka telah memegang nilai yang cukup, maka pekerjaan akan mudah didapat. Padahal, saat ini yang lebih dibutuhkan adalah skill, kemampuan berpikir cerdas dan kreatif. Penilaian IPK saat ini menjadi rujukan yang kesekian. Bukan yang utama. Hal ini membuat mereka sering mengabaikan proses pembelajaran yang ada.

• Titip absen
Kehadiran penuh sebagai salah satu standar penilaian, membuat mahasiswa tak kehabisan akal ketika hendak meliburkan diri atau “terpaksa” libur. Budaya titip absen merupakan salah satu kultur negatif yang menjamur ditengah-tengah mahasiswa.

• Generasi foto copy
Hal ini lumrah terjadi saat akan memasuki waktu ujian. Karena jarang mengikuti perkuliahan, maka catatan yang ada pun menjadi kurang lengkap. Atau sering masuk namun jarang mencatat. Mahasiswa punya jawabannya. Foto copy-lah pemecah masalahnya. Mereka mengabaikan fakta, bahwa ketika mencatat sebenarnya membuat ilmu yang diberikan tersimpan dalam memori kita lebih lama, dibanding ketika tidak mencatat. Kultur ini, membuat keadaan menjadi tidak adil. Tidak ada lagi perbedaan antara mahasiswa yang “niat” kuliah yang mempunyai catatan lengkap, dengan mahasiswa “biasa” yang mem-foto copy catatan. Karena pada akhirnya mereka memiliki referensi yang sama.

• Dosen harga kacang
Dosen masuk. Mahasiswa hadir. Terlihat sudah kondusif, namun ternyata masih saja terjadi hambatan. Yaitu noise yang timbul dari bisik-bisik sekian mahasiswa yang terjadi saat proses belajar-mengajar berlangsung.

• Budaya nyontek
Hal ini sangatlah lumrah terjadi ditengah pelaksanaan ujian, dsb. Karena target mereka hanya pada nilai tinggi, IPK minimal (??) Cum Laude, maka langkah yang diambil pun merupakan langkah pintas. Menyontek. Miris sekali bangsa ini, dengan tunas harapan yang seperti ini.

• Tidak berorientasi pada masa depan
Mereka terkadang tidak memikirkan mau jadi apa lulusan Indonesia jika saat kuliah melakukan kecurangan-kecurangan. Dapat dipastikan bahwa kualitas mereka adalah NOL besar.

• Pemalsuan data
Hal ini sering terjadi pada mahasiswa yang sedang menyusun Tugas Akhir atau Skripsi. Pemalsuan data dianggap hal yang lumrah. Alasan yang digunakan pun cukup beragam, diantaranya ada yang mengatakan bahwa mereka merasa sulit jika harus benar-benar mengadakan survei nyata, dengan data yang valid. Lalu kalau tahu susah, mengapa mengambil objek penelitian yang mereka tidak sanggup untuk menelitinya? Dan apakah ilmu yang mereka dapatkan dibangku kuliah tidak cukup untuk meringankan mereka?
Jika benar begitu, berarti kesalahan juga terjadi pada sisi tim pengajar, penyusun kurikulum dan yang lainnya.

Ironis sekali, disaat kita sebagai mahasiswa diberi kesempatan untuk mencicipi bangku kuliah, namun kita tidak memanfaatkannya untuk benar-benar menguras habis ilmu pengetahuan. Kita malah habis-habisan “berjuang” untuk mendapatkan nilai yang baik, namun dengan cara yang tidak baik. Lalu apa bedanya kita dengan para pejabat Negara yang melarikan uang rakyat dan menikmati kekayaan Negara? Toh, kita sama-sama melakukan kecurangan.

Tulisan ini bukan bermaksud menghakimi satu pihak maupun untuk menyindir pihak lain. Namun, hendaknya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk kita. Dan mudah-mudahan dapat menjadi cerminan bagi kita semua untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s