Markus (Makelar Kasus) : Pantaskah menjadi istilah baru?

Rekan-rekan sekalian,

Mungkin istilah MARKUS saat ini tidak begitu asing di telinga kita. MARKUS dipelesetkan menjadi “Makelar Kasus”, seiring maraknya kasus penyalahgunaan wewenang dalam peradilan. Istilah MARKUS digunakan untuk menunjuk oknum yang membantu proses hukum, tapi melalui penyalahgunaan (kira-kira seperti itu).

MARKUS saat ini begitu mengakar di tingkat Polda Metro Jaya (TVONE) dan Kejaksaan Agung (detik.com). Menurut Todung Mulya Lubis, MARKUS harus diberantas untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum dan menegakkan sistem hukum di negeri ini (www.antaranews.com).

Namun tahukah Anda, apa makna MARKUS yang sebenarnya?

Menurut  wikipedia.org,

 “Markus sang Penginjil (מרקוס, Bahasa Yunani: Μάρκος) (abad ke-1) diyakini sebagai penulis Injil Markus dan orang dekat dari Simon Petrus. Dia juga menjadi kawan seperjalanan Paulus dan Barnabas dalam perjalanan pertama Paulus. Setelah berselisih, Barnabas berpisah dari Paulus, dan membawa Markus ke Siprus (Kisah Para Rasul 15:36-40).”

Dari penjelasan di atas, jelas bagi kita bahwa Markus merupakan orang yang begitu berpengaruh dan sangat dihormati di dalam Agama Kristen dan Katolik.

Sebelum istilah MARKUS (Makelar Kasus), sudah ada istilah senada yang digunakan. Yaitu PETRUS, yang diplesetkan menjadi Penembak Misterius. “PETRUS” marak terjadi pada era ’80an. Ketika itu banyak mayat bertato yang tiba-tiba ditemukan, dengan luka tembak. Diduga ini merupakan operasi rahasia Presiden Soeharto.

“Simon Petrus (Simon nama aslinya, Petrus, atau Kefas nama yang diberikan Yesus) adalah salah satu dari dua belas rasul Yesus. Ia adalah seorang nelayan dari Galilea yang diberi posisi pemimpin oleh Yesus (Matius 16:18, Yohanes 21:15-16). Ia dan saudaranya, Andreas adalah rasul pertama yang dipanggil oleh Yesus.”

Tulisan ini terus terang diinspirasi oleh dosen saya, Sahat Sahala Tua Saragih yang berdiskusi dengan asistennya, Maimon. Kebetulan ibu Maimon ini pernah tinggal di Inggris selama enam tahun. Beliau benar-benar terganggu dengan istilah MARKUS = Makelar Kasus. Karena meski ibu Maimon merupakan seorang muslimah yang sangat taat, namun etika tetap etika. Menurutnya tokoh agama apapun, tidak pantas dipelesetkan menjadi konotasi negatif.

Di Eropa, meski sebebas apapun negara-negara yang ada,  aturan ini tetap berlaku. Tokoh agama haram hukumnya untuk dijadikan istilah berkonotasi negatif.

So, rekan-rekan.. Apakah kalian merasakan hal yang sama dengan gw? Yaap, tampak tak ada sikap saling menghormati mungkin. Inilah yang disebut salah kaprah. Kesalahan yang dilakukan secara berulang-ulang, sehingga pada akhirnya dianggap menjadi benar.

Entahlah, ini sengaja atau tidak. Namun secara tidak langsung ini merupakan penistaan suatu agama bukan?

2 thoughts on “Markus (Makelar Kasus) : Pantaskah menjadi istilah baru?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s