Category Archives: My daily

Perkembangan Kasus “itu”

Perkembangan Kasus “itu”

Hi blog, hello you :)

Well yeah kejadian menyeramkan dalam hidup gue sudah, kira-kira, 2 bulan berlalu. Ketika gue dan beberapa orang menjadi korban penodongan bersenjata di angkot. Entahlah, sepertinya gue hampir beberapa kali mengalami kejadian yang menyeramkan yang mungkin bisa merenggut nyawa gue. Naik pesawat dan tiba-tiba cuaca buruk, di atas kapal pas lagi musim gelombang, naik kereta api yang anjlok dan keluar dari rel, tabrakan di jalan tol dengan keadaan mobil ringsek, diserempet motor. Lengkap sudah terpaan gue dari darat, laut dan udara.

Tapi kejadian dirampok itu……… sejujurnya cuma pernah gue liat di film dan gue baca di novel, sungguh mengena, membuat jera. Dan seperti yang gue bilang sebelumnya, gue pernah ngebayangin naik bus yang dibajak, dibajak, tapi lalu ada spiderman atau superman. Mereka yang nyelamatin gue, layaknya Mary Jane yang digendong gelayutan dari gedung ke gedung. Demi apapun gue sering ngebayangin hal itu, hal yang pasti keren dan bakal gue certain ke anak cucu.

Dan marilah gue himbau kepada semua teman-teman dan siapapun kalian. Jangan pernah mikirin yang aneh-aneh, ngebayangin yang nggak-nggak. Karena kejadian aslinya gak sekeren yang lo bayangin, bisa jadi lebih menyeramkan.

Superheroes are not real!

Oke, kembali dengan kasus perampokan itu ya. Banyak yang berubah dalam hidup gue. Beberapa kali sempat kenalan dengan orang dan menerima ekspresi, “Wah orang yang dirampok itu elo? Itu blog lo? Sumpah sinetron abis”

-____-“

Begitulah.

Tapi banyak juga yang nanya, gimana kelanjutan kasusnya Fay? Diproses gak? Apa cuma ngegantung aja?

Baiklah saya ceritakan. Setelah postingan blog gue dan surat pembaca di harian Pikiran Rakyat, banyak dukungan dan tanggapan. Beberapa media juga memberitakan, tanpa wawancara ke gue. Bahan utamanya dari blog gue aja.

Salah satunya tanggapan dari tim advokat di Bandung. Gue dikenalin sama senior gue. Mereka bilang ke gue bakal bantu penyelesaian kasus ini. Berhubung gak ngerti hukum, jadi gue serahin semua ke mereka. Kang Syamsul, salah satu dari tim advokat tersebut mendatangi gue. Kebetulan alumni Unpad juga beliau, Fakultas Hukum. Gue ceritain semuanya.

Beliau bilang yang akan mengurusi langsung ke Polrestabes Bandung. Sehari setelah ketemu, gue diminta untuk menghubungi korbannya. Korban yang kehilangan handphone, yang mengalami kerugian secara materil.

Karena untuk membuat laporan, menurut kang Syamsul,  setidaknya ada lima alat bukti:

  1. Keterangan saksi/ korban
  2. Keterangan ahli
  3. Sumpah
  4. Pengakuan
  5. Surat

Ya kalau gue mau meneruskan laporan, harus ada dukungan dari korban. Mbak-mbak yang kehilangan handphone. Sayangnya ketika gue minta, beliau enggan meneruskan laporan. Mungkin hopeless juga pas tau cerita dari gue.

Gak bisa dipungkiri image polisi (maaf) di mata masyarakat udah gak oke lagi.

Selain itu, ada juga komen dari Wakasat Reskrim Polrestabes Bandung, di postingan blog gue. Meminta gue menghubungi melalui email. Gue bingung. Ini suudzonnya gue aja ya. Masalahnya itu penjahat belom ketangkep, make sense kan kalo gue mikir itu penjahat yang ngehubungin gue. Trus ngaku-ngaku kalo itu polisi (oke gue parnoan). Apalagi beliau ngasihnya alamat email pribadi.

Lalu gue minta email institusi, dikasih sih. Cuma pake yahoo gitu, gue mikir aja, lembaga kepolisian sebesar itu pake email gratisan kah? I don’t know. (maaf maaf kalo itu beneran email pak polisi, saya kemarin……. belum percaya) Dan sampai sekarang gak menghubungi email itu. Gue masih memikirkan keselamatan gue, yang masih suka ngaclang kemana-mana.

Setelah gue diskusikan dengan orang-orang yang gue anggap bisa memberi masukan baik, mereka bilang gausah ditanggapi. Alasannya sama. Sapa yang bisa jamin itu bukan email buatan penjahatnya? (berlebihan? Entahlah)

Gue sudah menyerahkan kasus ini ke tim advokat itu, karena gue sudah menyerah berhubungan dengan polisi :D

Bukannya gak ada tindak lanjut ya, tapi memang belum ada kabar kelanjutannya setelah tim advokat yang ingin membantu gue, mengatakan akan bertemu langsung dengan Kasatreskrim Polrestabes Bandung.

Terakhir kang Syamsul sms,

“Polisinya terakhir ketemu kemarin itu lagi sibuk ngawal aksi kenaikan BBM. Bulan ini baru fokus lagi karena marak geng motor.”

Begitulah kira-kira, kita tunggu saja. Semoga gak riweuh lagi pas baru ada korban, naudzubillah.

Ntar gue update kalo ada info terbaru mengenai kelanjutan kasus, siapa tau berguna.

Sekarang? Masih gantung.

Tetap berhati-hati kawan. Kejahatan mengincar kita dimana dan kapan saja.

Sekian. Have a nice day all, bye.

Hello Owi-Butet, Congratulation and Keep Fighting!

Hello Owi-Butet, Congratulation and Keep Fighting!

Happy long weekend guys. Gue sendiri cukup bahagia menikmati panjangnya libur dengan bercengkrama bersamaaa………………. diri sendiri. Belajar aja dah. Beberapa hari ini gue merasa kapasitas otak gue menurun gara-gara kagak belajar-belajar haha *mayuuu* Yasudahlah. Eii, gue mau cerita tentang penyambutan atlet nih, sebelum sibuk belajar lagi. Cekidout.

- – - – - – - – - – - – - -

Tanggal 13 Maret gue baca twitnya @bulutangkisindo: (Invitation) Penyambutan Juara All England 2012 http://badmintonlovers.com/events/invitation-penyambutan-juara-all-england-2012

Wah apaan tuh? Iya itu undangan buat badminton lovers untuk penyambutan Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir yang kemarin menang di All England 2012, ganda campuran (nanya sendiri-jawab sendiri). Howaa, buru-buru ambil handphone dan daftar.

Ya, setelah 33 tahun kekeringan tanpa gelar, akhirnya Owi-Butet (panggilan akrab Tontowi-Liliyana, udah pada tau lah yaa) bisa menang. Yeay! Owi-Butet mengalahkan pasangan Denmark, Thomas Laybourn-Kamilla Rytter Juhl dua set saja 21-17, 21-19.

Kemenangan ganda campuran Indonesia di kejuaraan  All England terakhir diraih oleh pasangan Christian Hadinata-Imelda Wiguna pada tahun 1979. Sementara kemenangan kontingen Indonesia yang terakhir ini diwakili oleh Sigit Budiarto-Candra Wijaya tahun 2003. Sudah lama ya saudara-saudara *terharuuu :’)

Setelah itu mereka (Owi-Butet) juga jadi satu-satunya wakil Indonesia yang melaju ke final di Swiss Open Grand Prix Gold 2012 dan menaaaang. Mengalahkan pasangan Thailand, Sudket Prapakamol-Saralee Thoungthongkam 21-16 dan 21-14.

Ya, kemenangan dua kali berturut-turut ini tentu menjadi kabar baik bagi kita semua. Owi-Butet pun akhirnya berhasil naik peringkat dunia, dari peringkat 4 naik ke peringkat 3, menggeser pasangan Denmark, Joachim FISCHER NIELSEN-Christinna PEDERSEN. Syelamat selamaaaat \m/

Oke, back to acara penyambutan ya. Tanggal 20 Maret kemarin Senin, gue dan sekitar 70an temen-temen dari badminton lovers kumpul di PB Djarum Petamburan.

—-Gue bareng Inna yang kembali sukses nyasar naik commuter line. Innaaaa, biasa banget deh, doyan nyasar kemana-mana juga haha —–

Pembukaan, lomba poster, bincang-bincang lalu berangkat ke Bandara Soetta. Kuis-kuis berhadiah raket, tiket Axiata Cup, Indonesia Open 2012, tabloid Badminton Lovers dan banyak banyak lainnya.

Ehm, ini jadi acara komunitas badminton pertama yang gue ikutin looh. Sebelumnya, untuk nonton pertandingan atau stalking atlet (uhuk) biasanya paling cuma sama adek-adek gue, atau temen yang suka badminton. Belum pernah seniat ini ikutan sama komunitas :D

Seru juga ternyata. Pas di Bandara agak rusuh sih, masalahnya fans Owi-Butet yang dateng bukan dari bandminton lovers aja, ada juga yang udah stay di sana untuk foto-foto, banyak wartawan, temen-temen atlet lainnya, keluarga Owi-Butet, PBSI, banyak orang.

Find meee, lol (Sumber: PBDjarum.org)

And here they are… Welcome Owi.. Welcome Cici..

Welcomeeeee.... (Foto: kamera nur)

Gak dapet foto bareng Owi-Butet. Sebenernya dari rumah juga gak niatin buat foto sih. Gue udah ada foto bareng cici Liliyana pas Sea Games kemaren (sombong), foto Owi aja yang belom, huft (dan labil)

Big fan of Ciciii... (Foto: kamera nur)

Sebagai pendukung dan fans, gue berusaha menjadi fans yang baik hati (kikiw). Yakali, sering liat kan lo misalnya ada artis, selebritis, atlet, atau sapa pun orang terkenal yang banyak dimintain orang foto-foto, lagi lewat, lagi jalan, —-dengan keribetan diserang fans, bermuka capek, habis syuting atau habis latihan —-lalu ada fans unyu-unyu yang langsung nyerobot, bawa hape atau kamera, —–lalu moto dengan tangan sendiri, —–mengarahkan kamera ke atas, masang tampang unyu (lagi) dan bahagia tiada terkira dan—– jepret, ke foto.

Sang fans begitu bahagiaa karena berhasil foto dengan idolanya. Gak peduli itu yang diajak foto bareng matanya ngeliat kemana, mukanya nyureng kesel capek ditodong foto, lagi stress dan pusing. Fans tak peduli. Yang penting foto bareeeng. (Ini bukan berarti semua fans begitu loh, cuma sebagian oknum aja)

No no no! Gue gak kek gitu. Gue tipe fans baik hati, berfoto dengan minta, orangnya setuju, lalu berpose bersama. Itu lebih kereen. Transaksinya jelas, akadnya disetujui kedua belah pihak #eh

Sebenernya juga sebagai idola kudu musti meladeni fansnya. Kalo gak ada fans, mereka tak ada arti apa-apa (khas statement artis kalo ditanya tentang makna fans buat dirinya). Ya intinya saling mengerti dan mendukung lah ya, biar sama-sama enak. Eh, ini gue jadi ngomongin apaan si?

We Love Badminton <3

Haha, begitulah. Meski pengen beneran foto sama Owi, tapi karena ribet, ya lain kali aja dah. Kesian ribet. Congratulation Bang Owi dan Cici Butet. We proud of youuu.

Tetap jaga stamina dan persiapan buat Australia Open dan tentunyaaaaaaaa OLIMPIADE! Fighting!

Eia, komen gue masuk website PB Djarum loh, di artikel “Penggemar Sambut Tontowi/Liliyana” :D Bye

Saatnya Berbagi, 2nd #BOTR Depok

Saatnya Berbagi, 2nd #BOTR Depok

Apa kabar teman-teman? Happy? I am! :)

Minggu kemarin, tepatnya tanggal 11 Maret 2012, gue dan beberapa teman dan teman baru habis melakukan aktivitas baru (serba baru). Semacam life changing experience (asegah, lebay) di Depok. Kegiatannya namanya BOTR. Breakfast On The Road. Mirip-mirip kaya sahur on the road atau ifthor on the road yang sering kita adain kalo lagi bulan Ramadhan. Tapi ini sarapan.

- – - – - – Breakfast On The Road- – - – -

Berkumpul di satu titik, bawa paket sarapan yang bakal kita bagi-bagiin, atur rute, acara inti bagi-bagi sarapan, kembali ngumpul pas udah selesai, evaluasi, bubar jalan, lanjutkan aktivitas masing-masing. Sederhana ya? Tapi bermanfaat insya Allah.

BOTR ini juga ada aturan mainnya, biar seru bro. Begini..

1# Gak boleh nitip uang! Kalau mau ikutan berpartisipasi, harus ikutan langsung.

2# No foto-foto! Jangan foto pas kegiatannya, biar yang gak ikutan jadi penasaran. Biarkan mereka menduga-duga, mengira-ngira, terjebak rasa ingin tahu yang amat dalam, bertanya-tanya, frustasi dan akhirnya pasrah, memutuskan untuk ikutan, eaaa grok-grok. Selain itu ini juga menghindari kita dari sifat ujub wkwk. Inget yaa, kita bukan lagi kampanye partai atau caleg. No offense :)

3# Bawa sarapan, secukupnya! Per-orangan bawa sarapan yang mau di bagi-bagiin. Boleh bawa satu paket, dua paket, selusin, sekodi, sebis kopaja, terserah. Semampunya. Semampu elo keliling buat bagi-bagi dan semampu ketebalan dompet juga :D :D

4# Foto tim! Kita gak boleh foto kegiatan tapi harus foto tim. Narsis? Big NO (dikit, iya kali ya hehe).Tujuannya untuk berbagi senyuman bahagia karena indahnya berbagi, dan jadi banyak yang pengen ikutan juga.

5# Menu sarapan bebas. Range harganya 5000-an aja, kalau bisa sudah termasuk minumnya juga (Ada gak ya yang begituan harga 5000? Hehe) Ada dong. Tujuannya untuk menunjukkan betapa berharganya sarapan tersebut.

6# Ikhlas, hehe. Udah itu aja.

Gampang banget kan? Nah markijal, mari kita jalanin, jangan cuma dipikirin, jangan manggut-manggut doang. Ya gak?

Info awalnya gue dapet dari Lita, temen SMA gue. Di Depok ini kita udah adain dua kali, kebetulan gue baru bisa gabung yang di edisi duanya ini. Mau tau ceritanyaa?

Mau tau ceritanyaaaa? Mana suaranya? (Aaaaaaaaaaa……) Kurang keraaas! (AAAAaaaaaaaaaaa…!!) Baguus. Karena kalian memaksa dan pengen tau ceritanya, ini gue ceritain—————- maaf rusuh

Jam 7.00 kita janjian di depan Detos (Depok Town Square, mall gaul Depok, uhuy). Sarapan udah di tangan, tinggal nunggu Lita. Tapi mana dia mana? Gue nunggu sambil berdiri-berdiri cantik dan sms posisi gue. Gak jauh dari tempat gue berdiri, ada tiga cewek dan satu cowok yang berdiri terkatung-katung sambil bawa bungkusan. Berdasarkan analisis sotoy gue, gue curiga, keknya mereka anak-anak BOTR juga deh. Celingak-celinguk kiri kanan. Kita sempet saling liat, mata bertemu mata, mungkin saling menduga-duga, jantung berdegup kencang -___-” dangdut bener dah.

Eh, iya gak ya? Nunggu Lita aja dah.

—-Singkat cerita—-

Daaaaannn, ternyata bener, mereka anak BOTR juga. Tuuh kan, udah gue duga.

Setelah berkumpul, ada sembilan orang dan beberapa puluh paket. Ada gue, Lita, Genis, Angga, Dita, Via, Yuni, Vi dan Novi. Kerennya lagi kita banyak yang baru kenal loh. Kaya gue cuma kenal Lita, Lita kenal Genis, Genis ngajak Angga, Dita, Yuni, Vi dan Via diajak Angga, ada temennya Genis juga. Begitulah. Syalala~

Kita di bagi dua tim, aliran kanan dan aliran kiri. Eits, bukan aliran begitu-begituan, warisan jaman Bapak Presiden Soeharto loh. Ini maksudnya aliran jalan, sebelah kanan jalan dan sebelah kiri jalan. Gue masuk aliran kanan, jalan dari sisi Detos. Tim lain dari sisi kiri, sisi Margo City. Rute kali ini dari Detos-Margo sampai Terminal Depok.

Berjalan, berbagi, berjalan, berbagi..

Oiya, untuk mengindari kebingungan orang kita menamai tim kita sebagai Komunitas Remaja Depok Peduli Sarapan Pagi, HAHA, buat prolog doang. Soalnya agak bingung juga ya. Sapa nih orang-orang bagi-bagi sarapan gak jelas? Jangan-jangan mau ngeracun lagi (Mungkin aja kan ada yang mikir gitu? Gue aja kali ya hoho maap maap). Masalahnya tujuan kita hanya berbagi dan kampanye pentingnya sarapan, gak di bawah institusi atau organisasi apapun. Demi generasi bangsa yang sehat, kuat, cerdas dan semangat untuk melanjutkan estafet kepemimpinan negri tercinta.

Ini foto tim kitaaaaaa… Jeg jeng jeng.

BOTR Team

Oh sungguh sesungguhnya enggan memajang foto ini, guenya tampak begitu lebaaaar, hosh. Apa daya. Huft!

Background N*kia dan Hoka-Hoka B*nto, bukan menunjukkan sponsor kita loh. Semuanya hanya kebetulan belaka yang mungkin memiliki kemiripan nama.

Aliran Kanan - Angkoters

Aliran Kiri - Jalaners

Warga Depok juga? Mau gabung? Yuk. Bisa mention langsung via twitter @talitazahrah atau @nafelton. Kalo mau baca laporan via blog dari Lita, bisa baca di sini (klik).

Saatnya berbagi :) Yuk tularin ke sekitar kamu jugaa. Semoga bermanfaat. Fighting! Bye.

Pasca Kejadian Perampokan di Angkot Bandung

Pasca Kejadian Perampokan di Angkot Bandung

Pasca kejadian perampokan yang gue alami beberapa hari yang lalu, begitu banyak respon positif dan simpati yang gue terima (Terima kasih banyak ya teman-teman). Ini mungkin karena cukup banyak orang yang men-share pengalaman gue, melalui twitter, facebook, BBM, grup, milist, dan sebagainya.

Terima kasih juga buat teman-teman yang komen di postingan gue kemaren dan beberapa orang juga men-share pengalamannya. Makasih :) :)

Makasih juga buat @Infobdg yang sudah me-RT blog saya, tentunya berkat bantuan dari tweeps yang lain juga. Makasih ya makasih. Ini untuk pelajaran kita bersama :) Semoga bisa diambil hikmahnya.

Bener-bener dahsyat ya kekuatan jejaring sosial…

—-Sebelumnya maaf kalo gaya berbahasa saya dianggap kurang sopan atau gimana, tapi di tulisan-tulisan blog sebelumnya, bahasa saya sudah menggunakan yang seperti itu (gue-lo), jadi saya rasa agak ganjil kalau harus merubahnya. Ini mungkin faktor lingkungan pertemanan saya atau yang lainnya. Jadi maaf ya kalau gak nyaman bacanya—–

Bukan. Bukan maksud gue menggumbar permasalahan yang gue hadapi, bukan berharap perhatian dan simpati. Gue cuma menuliskan pengalaman ini untuk diambil hikmahnya oleh banyak orang. Untuk lebih berhati-hati dalam berkendaraan umum, khususnya perempuan. Karena ketika kejadiannya udah kaya gini, bahkan aparat berwenang pun sulit untuk diharapkan (maaf kalo terlalu berpikiran negatif).

Mohon maaf juga kalau tulisan gue dianggap memancing pemikiran negatif masyarakat mengenai kinerja kepolisian. Gue hanya menuliskan pengalaman yang membuat gue semakin percaya, GUE GAK BISA LAGI PERCAYA SAMA PIHAK KEPOLISIAN (maaf emosi) *sedih*

Sedih loh nulisinnya. Ini tentang aparat negara kita. Mereka yang seharusnya mengayomi dan melindungi masayarakat. Membuat kita merasa aman dari berbagai bentuk kejahatan.

Fyuhh, semoga itu cuma oknum ya teman-teman *berharap masih banyak polisi keren yang jago dan niat membasmi kejahatan*

FYI berita tentang kejadian ini dimuat juga di Detik.com ternyata. Gue baru tau dari temen. Ini beritanya (klik).

Gue gak diwawancarain, tapi mungkin wartawannya baca blog gue. Melihat luasnya cerita gue tersebar dan identitas yang tidak dirahasiakan, adek gue, Sasaki kemudian menyarankan untuk memprotek akun-akun gue. Memprotek twitter, facebook dan jejaring apapun yang bisa ngasih info detil tentang gue. Sapa tau perampoknya jadi sebel sama gue karena kesebar-sebar.

Ngeri juga ngebayangin kalo perampoknya kepo dan lalu tau kampus gue, tau kosan gue dan nangkringin, trus gue diculik, trus mereka minta tebusan, trus makin ribet urusannya (lebay, lebay! Maaf)

Yea, gue gak tau itu perampoknya gaul apa ga? Gue cuma berharap dia gak punya twitter, gak punya facebook, gak gabung di grup dan milist tertentu, gak dapet BM tentang cerita ini, gak baca Detik.com dan blog gue. Jadi dia gak tau apa-apa dan selow-selow aja.

Tapi gue baru inget, perampoknya itu pake jaket kulit, berkacamata dan pake behel *itu ciri-ciri rampok gaul bukan ya?*

Semoga aja dia masang behelnya di tukang gigi yang cuma buat gaya, jadi gaulnya juga abal-abal (maaf kalo ada yang tersinggung, gak maksud).

Oia, berdasarkan saran teman-teman dan beberapa orang yang baca blog gue, gue udah mengirimkan kronologis dan cerita tentang tanggapan polisi itu ke redaksi Pikiran Rakyat. Semoga dimuat ya, untuk informasi ke masyarakat luas biar lebih berhati-hati.

Oia (lagi), gara-gara tersebarnya tulisan ini gue juga jadi ketemu sama mbak-mbak yang Blackberrynya diambil sama perampok itu (dahsyatnya twitter). Sempet berkomunikas beberapa kali via twitter dan komen di blog, tapi sepertinya mbak tersebut juga urung melapor ke polisi, agak percuma kayanya, menurut mbak itu.

Tapi gue bilang, kalo dia mau melapor dan butuh saksi, Insya Allah gue siap. Karena penjahatnya masih berkeliaran, dan gue kesereman paraaaah.

TIGA HARI PASCA KEJADIAN..

Tadi pagi merupakan kali pertama gue keluar kosan untuk beli sarapan, setelah tiga hari berlalu. Sebelumnya gue bahkan ogah buat keluar kamar kecuali buat ke kamar mandi dan wudhu. Mungkin ini yang dinamakan trauma kali ya.

Dan setelah gue sampe kosan lagi (abis beli sarapan) tiba-tiba gue langsung mual-mual dan gemeteran hebat. Ini sugesti gue aja kayanya. Gue langsung menangkap dengan jelas orang-orang yang pake jaket kulit. Diperjalanan pendek gue buat beli nasi kuning itu bahkan ada sekitar 10 orang laki-laki yang gue temui make jaket kulit. Langsung stress.

Astagfirullah, traumatik berlebihan banget ini gue namanya.

Gak boleh gini terus. Gue harus move on. Apa jadinya kalo gue ketakutan gak jelas kaya gini terus. Banyak hal yang harus gue lakukan di luar sana. Yap, penjahatnya masih berkeliaran saudara-saudara :’(

Fighting!

Tetap waspada dan hati-hati ya teman-teman…

Saya Ditodong Pistol dan Petugas Pelayan Masyarakat Itu Dingin

Saya Ditodong Pistol dan Petugas Pelayan Masyarakat Itu Dingin

Sori banget sebelumnya kalau judul ini dirasa provokatif menanggapi kinerja kepolisian. Ya tapi emang itu nyatanya. Entah karena gue kekurangan data untuk membuat sebuah laporan, entah karena ini hal lumrah yang sudah banyak terjadi, jadinya biasa aja (What the, gue mau mati tadi malam, dan mereka menganggap ini sudah biasa? Gilak).

Agak membingungkan mungkin kenapa tiba-tiba gue menuliskan hal yang begitu meluap-luap. Tadi malam gue jadi korban perampokan, pembajakan angkot, atau entah apa itu namanya. Di Bandung.

Yah, semakin terasa tidak amannya menggunakan transportasi umum setelah kejadian maha dahsyat yang gue alami tadi malem. Bahkan sampe sekarang pun gue deg-degan sendiri kebayang-bayang kejadian tadi malem. Trauma. Ini ya yang namanya trauma? Bener-bener bikin stress.

—-Hem yeah, kronologis ini pun gue bikin sesantai mungkin, walaupun gue ngetiknya masih terasa gemetaran. Semata-mata untuk menutupi ketakutan gue yang masih terasa sampe sekarang. Dan biar yang baca gak tegang-tegang banget——-

Semoga bisa diambil hikmahnya ya teman-teman..

KRONOLOGIS

Gue naik angkot Cicadas-Cibiru. Sekitar jam 6 lewat. Biasa aja, gak ada firasat apa-apa, selain was-was, haduh gue belom sempet sholat maghrib (well yeah ini peringatan buat gue kayanya). Ada tujuh penumpang (termasuk gue) plus supir. Posisinya begini..

Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dua anak SMA yang ada ngobrol tentang kegiatan di sekolah tadi siang, dan tiba-tiba anak SMA yang cewek nyeletuk,

“Haduh udah mau isya, kita belum sholat magrib, mana tadi ashar juga kelewat lagi. Ya Allah maafin saya, semoga masih dapet magrib ya” katanya. Gue langsung liat jam, wah iya, udah mau isya. Isya setengah 8 kan tuh ya. Masih ada waktu. Insya Allah keburu. Jeng jeng jeng..

Dua mbak-mbak karyawati di depan gue ngobrol seru tentang kantornya. Tentang bosnya yang galak tapi kocak, kalo gak salah denger, tentang kejadian tadi siang. Dan lain-lain.

Hey, gue gak mau kepo. Cuma mereka ngobrolnya gak kontrol, jadi kedengeran sama gue. Mas-mas di samping gue diem aja, sambil sesekali buka handphone. Ibu-ibu di pojok depan gue juga diem aja gak ngapa-ngapain. Kayanya kecapean habis kerja. Gue pun ngubek-ngubek tas mengeluarkan uang 1000 rupiah, karena sebentar lagi turun. Jarak tujuan gue gak jauh.

Gak lama kemudian naik bapak-bapak berjaket kulit hitam, duduk di samping supir. Pandangan gue lurus ke depan, mulai nyari angkot Riung-Dago. Nyari patokan tempat biasanya turun. Naik lagi satu penumpang laki-laki. Dari penampilannya kaya mas-mas pekerja bangunan, kuli yang baru balik kerja. Dia bawa tas ransel usang, yang beberapa bagiannya robek dan ditambal kain lain.

Sekilas gue melihat kontak mata antara mas-mas jaket kulit di samping gue dan mas-mas kuli ini. Eh, kenal ya? Tapi gak saling sapa. Gue juga gak peduli banget sih. Atau mungkin itu cuma perasaan gue doang.

“Kiri, eh gue duluan ya, berhenti disini aja, mau mampir dulu” kata mbak-mbak karyawati yang berkerudung.

“Loh, bukannya depanan dikit lagi ya?”

“Mau beli sesuatu dulu di depan (lupa pastinya, yang jelas dia turun duluan), gak papa ntar jalan dikit, daaah, hati-hati ya” mbak-mbak berkerudung itu pun lolos dari aksi menegangkan yang terjadi beberapa detik kemudian. Takdir.

Hati-hati ya. Pesan terakhir mbak-mbak itu bener-bener keinget sama gue. Fyuhh.

Mas-mas di samping gue langsung pindah posisi ke depan gue, menempati posisi mbak-mbak berkerudung tadi, mendekati pintu. Kira-kira begini posisinya.

Mas-mas berjaket kulit hitam dan berkacamata itu pun berbicara agak keras, “Pak.. Pak..”, memanggil ke arah supir. Tapi supirnya gak denger.

Karena berpikir dia mau berhenti atau mau nanya jalan ke supir, gue pun ikut membantu mas-mas itu, “Paak…” ternyata bersamaan dengan mbak-mbak karyawati itu. Dia mau bantu manggil supirnya juga kayanya.

Kita mungkin berpikir biasa aja. Karena kadang gue di tengah jalan juga suka nanya ke supir memastikan angkot ini lewat di tempat yang gue tuju apa gak. Tapi ternyata….

Tiba-tiba mas-mas jaket kulit itu mengeluarkan pistol, sambil teriak,

“Pak, jalan terus jangan berhenti, ambil kiri, jangan sampe kena lampu merah”

Gue syok, astaghfirullah, pistol di depan gue. Angkot ini dibajak. Gue berharap itu cuma halusinasi gue. Ternyata enggak, perampok berteriak lagi.

“Serahkan semua barang berharga kalian, cepaat”

Saking kagetnya gue cuma terdiam, memperhatikan lekat-lekat garis wajah orang itu. Mengingat semua atribut yang bisa gue jadikan informasi kalo selamat dan bisa lapor polisi. Anak SMA di samping gue duduk merapat, menunduk takut. Gue berusaha tenang di tengah gejolak jantung gue yang rasanya mau copot.

Pistol mengarah ke mbak-mbak karyawati, “Minta handphone kamu, cepaaaaat” sambil teriak. Mbak-mbak itu memberikan handphone nokia seri lamanya, yang biasa aja.

“Saya gak mau yang ini, saya mau BB, tadi saya liat kamu pegang BB, kasih ke saya” sambil melempar handphone nokia itu.

“Gak ada mas, gak ada” mbak-mbak itu panik dan mengaduk-ngaduk tasnya.

“Jangan bohong kamu, saya pecahkan kepala kamu nanti”

Mendengar ancaman itu, mbak-mbaknya langsung ngeluarin BB nya. Gue gak sempat menangkap itu BB seri apa, tapi warnanya putih. Tadinya perampok itu tertarik dengan bungkusan amplop coklat sedang yang mbak itu bawa, seperti amplop berisi uang kalau habis ngambil dari bank. Tapi ternyata isinya kain (gue gak tau pasti itu apa), amplop coklat sedang itu pun diabaikan.  Gue tetap berusaha tenang dan tidak mengeluarkan gerakan mencurigakan.

Matanya mengarah ke anak SMA di samping gue, “Minta barang berharga!!”

“Gak ada mas,” kata anak cewek itu. Ngeliat penampilan anak berseragam, lelaki itu mungkin berpikir percuma nodong mereka. Lalu…

Pistol mengarah ke gue. Allahu Rabbi. Gue diam melihat ujung pistol yang mengarah ke gue, kaki gue lemas, tangan memeluk erat-erat tas di depan gue. Entahlah, gue berpikir kalaupun gue ditembak, tas ini mungkin bisa jadi penghambat (walaupun gue tau itu gak akan ngaruh ).

“Kamu keluarkan barang berharga kamu, mana handphone, dompet?” dia ngomong sambil mengarahkan pistolnya ke gue. Gue diam memandang lurus ke lelaki itu, menajamkan ingatan, gue harus ingat banyak hal tentang orang ini. Please, ayo otak bekerja lah dengan baik.

“Jangan diam aja, cepaaaaat. Mau saya tembak kamu?”

“Gak ada bang, saya dari kampus gak bawa apa-apa” Gue masih berpikir untuk mengulur waktu. Ya Allah tolong saya.

“Jangan bohong” dia mulai menarik-narik tas gue, dan tetap menodongkan pistolnya. Gue mulai panik. Apa yang harus gue kasih. Dompet? Gak, gak bisa. Dompet gue banyak kartu-kartu identitas dan lainnya. Kalau gue kasih itu artinya gue nanti harus bikin lagi dan ngurus ke kepolisian. Ribet dan lama. Demi apapun juga, gue bahkan hampir tidak percaya, di keadaan terdesak seperti ini, dalam waktu secepat itu, gue bahkan sempet berpikir sulitnya birokrasi yang akan gue lalui nantinya dalam mengurus surat-surat hilang, kalo dompet gue mesti diambil. Gilak.

Haruskah gue ngasih handphone? Gak, gak bisa. Gue gak hapal nomor orang-orang. Bisa terkatung-katung gue kalo diturunin di tengah jalan, gak tau harus menghubungi siapa.

Gue gak bawa barang berharga apa-apa lagi. Di tas cuma ada buku kecil catatan perkembangan skripsi (ini berharga buat gue, tapi jelas gak mungkin gue kasih ke perampok itu), pulpen, Alqur’an, parfum, minyak kayu putih, tisu, apa-apa? Gak ada apa-apa lagi. Gue gak bohong.

Di tengah kalutnya pikiran gue memikirkan apa yang harus gue kasih, lelaki itu tetap menodongkan pistolnya ke gue. Handphone. Gue memeluk tas dan menyentuh handphone gue. Gue berpikir, yaudahlah ambil aja itu handphone, dari pada gue mati konyol di angkot ini. Tiba-tiba perampok itu teriak,

“Heh supir jangan macem-macem kamu,  jangan masuk ke macet, ambil kiri, belok, cepat belok”

Ternyata angkot yang gue tumpangi ini lewat dekat polisi lalu lintas di Samsat, lagi ngatur jalan yang macet. Perampok itu mengalihkan pistolnya ke supir, dia panik kayanya pas ngeliat polisi. Alhamdulillah. Gue lega seketika karena tidak berhadapan dengan pistol itu lagi, tapi masih belum aman.

Fokus si perampok teralihkan ke jalanan, memastikan dia aman. Sepertinya dia mengurungkan niat untuk melanjutkan perampokan ke gue. Alhamdulillah, sementara lega.

“Kalian awas ya jangan ada yang macam-macam ke saya, saya gak segan-segan menghancurkan kepala kalian satu persatu” gue menangkap logat berbicaranya. Bukan orang Sunda. Bukan Jawa. Apa ini, logat apa? Gue mengingat-ngingat, logat ini pernah gue dengar. Hampir yakin itu logat Sumatra. Kalau gak Palembang, Riau. Bukan Batak.

Ini bukan maksud menjustifikasi suku tertentu. Tapi ini oknum yang gue temukan.

Perampok itu mengeluarkan handphone, menelpon rekannya yang akan menjemput. Dia menyebutkan patokan-patokan yang sudah kami lewati, Carefour, plang iklan, lampu merah, apotik, semua yang dia liat.

“Cepat, kamu sudah dimana? Angkot sudah jalan jauh ini.” Perampok itu keliatah lengah, gue mencoba merogoh-rogoh hape, mencari bantuan. Tapi sangat sulit karena gue tidak mau mengeluarkan gerakan mencurigakan yang membuat perampok itu marah dan menembak gue.

Selesai menelepon sesekali dia mengancam kami sambil mengeluarkan pistolnya. Gue mencoba mengingat setiap kata yang dia keluarkan. Dia mengancam semua orang yang duduk di belakang, tapi sama sekali tidak mengancam mas-mas kuli itu. Gue pun berspekulasi mungkin mas-mas kuli itu komplotannya. Berarti gue gak boleh melawan. Gue mencoba mencari jalan. Gue merapat ke anak SMA itu, mencoba menghadap ke jalan yang terlihat dari pintu masuk penumpang, ingin rasanya teriak atau memberi kode bahwa kami terancam.

“Jangan naf, jangan macem-macem” kata gue dalam hati. Perampok itu di depan lo dan paling deket sama lo. Kalo dia ngamuk, bisa dipastikan gue sasaran pertamanya.

Ketika dia mengeluarkan pistol gue mencoba mereka-reka, itu pistol asli atau mainan ya. Gue perhatikan, dengan pengetahuan awam mengenai senjata api, gue merasa itu palsu. Itu bukan asli. Gue pernah lihat yang asli pas pengamanan Sea Games lalu, sama di satu acara pameran senjata. Warnanya beda, hitam pudar, pemukaannya halus, mirip pistol mainan yang pernah om gue beliin untuk adik gue, Fadel. Atau gue cuma berharap itu palsu?

WTH naf, jangan berspekulasi. Mungkin aja itu pistol seri lain yang belum pernah lo liat sebelumnya.

Gue merapat mencoba mengumpulkan tenaga, barangkali gue bisa menendang perampok itu. Posisi si perampok itu benar-benar di pinggir pintu, mencoba menghalangi pengelihatan. Tapi entahlah, gue benar-benar merasa jadi seorang yang begitu pengecut, gak bisa membela diri. Gak bisa ngapa-ngapain.

“Apa kamu lihat-lihat, jangan macam-macam kamu yaa, saya bisa tembak kamu”

Angkot kami terjebak lampu merah, dan ada polisi lalu lintas di sana. Gue sangat sangat berharap itu polisi melihat ke arah kami. Nihil.

Perampok itu panik, “Belok kiri, belok kiri supir, jangan macam-macam kamu, itu ada polisi. Atau saya tembak salah satu penumpang di sini”.

“Itu bukan trayek saya, arah saya lurus” kata si sopir.

“Saya bilang belok, atau mau saya tembak kamu?”

Gue terus berzikir. Berharap polisi sadar dengan angkot Cicadas-Cibiru yang keluar jalur ini. Ya Allah, tolong Ya Allah. Dan tetap nihil. Polisi itu gak bereaksi apa-apa melihat angkot kami yang keluar jalur.

“Diam kamu ya diam, saya tau kamu orang baik-baik, jangan macam-macam, saya juga gak mau macam-macam sama kamu, jadi diam saja kamu, awas ya” dia  berbicara ke arah gue dengan nada rendah, menekan kan setiap kata-katanya, gue ingat betul ekspresi wajahnya yang menatap tajam ke arah gue.

Angkot kami memasuki daerah yang tidak gue kenali, seperti pasar, macet, becek, kumuh, gelap, gue belum pernah kesana. Ini dimana? Gue melihat-lihat papan reklame mencari-cari pengenal daerah, alamat atau apapun itu. Perampok itu kembali menelpon temannya.

“Dimana bego? Cepat ini sudah jauh, serobot jalannya. Jangan lelet”

Perampok itu mengawasi kami. Sepertinya ia sudah lupa untuk kembali melucuti barang-barang kami (Alhamdulillah), dia hanya fokus sama temannya yang lelet menjemputnya. Sesekali iya masukkan pistolnya, jika angkot kami terjebak keramaian. Khawatir terlihat orang di luar. Tak lama kemudian, sekitar 5 menitan, gue melihat kebelakang, dua motor mulai memepet angkot. Satu motor berboncengan, satunya tidak, mereka mengancam dari luar angkot sambil terus berjalan dengan motor.

“Apa kamu liat-liat, awas kalau melapor”

“Jangan teriak-teriak di jalan bego, nanti orang curiga,” kata perampok yang diangkot, sambil beranjak turun. Motor melarikan diri dengan ngebut. Gue langsung inget plat nomornya. D 8825 YA.

Seketika penumpang angkot mengelos. Setengah jam penuh kami beradu kecepatan degub jantung, rasanya benar-benar tertekan. Gue sering ngeliat adegan menegangkan ini di film-film atau novel-novel detektif. Gue bahkan pernah membayangkan berada di sebuah bus yang dibajak perampok, tapi kemudian ada Spiderman. Ada Spiderman yang menyelamatkan kami semua, menangkap perampok tersebut. Dan benar saja gue mengalaminya.

Bertemu perampok, diancam dengan pistol, tapi gak ada Spiderman. Mana Spidermannya? Demi apapun film-film superhero itu semuanya bohong. Gue gak percaya lagi sama Spiderman. Gak ada Superman, Batman,Ultraman, atau apapun itu. Gak lagi-lagi gue ngebayangin yang aneh-aneh.

“Pak saya turun disini saja,” kata mbak-mbak yang handphonenya diambil, terlihat panik. Gue ikutan turun, supir angkotnya bilang, “Gak papa neng, kita nanti muter lagi”

Menurut lo? Gak, gilak. Gue gak mau berspekulasi meneruskan perjalanan dengan angkot yang sama. Gue membayar dan mengeluarkan handphone, ingin menghubungi orang langsung. Tiba-tiba,

“Udah neng gak usah lapor-lapor lah, toh kita semua selamat ini. Udah biarin aja neng, dari pada ntar neng yang kenapa-kenapa” DEG. Seketika gue menyadari sesuatu. Jangan-jangan… Penumpang lelaki berjaket kulit yang duduk di samping supir itu sepertinya komplotan juga. Gue langsung menyebrang naik angkot sembarangan ke arah berlawanan. Kembali ke jalur tadi. Cuma gue dan mbak-mbak yang dirampok itu yang turun, yang lainnya meneruskan perjalanan dengan angkot sama yang berbalik arah.

Gue panik. Siapa yang harus gue hubungi. Gak mungkin orang rumah, mereka jauh. Posisi gue yang kalut ditambah kekhawatiran orang rumah cuma bikin kacau. Gue sms dua orang temen gue yang nomornya teratas di message dan gue anggap mungkin bisa sigap memberikan solusi. Salah satu dari mereka, sebut saja Iwang, kemudian menelpon gue dan menanyakan posisi.

Gue bener-bener blank dan menyebutkan apa aja yang gue liat di sekitar gue. Dia nyuruh gue masuk ke tempat ramai, ke kafe atau apapun itu, sementara dia jalan ngejemput.

Demi apapun kaki dan tangan gue bergetar hebat, gue nangis gak bersuara. Ini bener-bener di luar dugaan gue. Bener-bener syok, ngebayangin pistol yang mengarah ke gue. Astaghfirullah.  Lalu Kantry, teman gue yang lain, nelfon, dia nyoba menenangkan dan nanya pelan-pelan posisi gue. Gue melihat ke sekeliling dan menangkap papan reklame besar berlampu. Yogya, Lucky Square. Gue jalan mengarah kesana sambil telfonan dan nangis.

Antara sadar dan gak sadar gue terus berjalan di tengah jalan. Ya, di tengah jalan. Menghindari mobil-mobil yang ada, dan terus mengarah ke Yogya, Lucky Square. Gue gak mau menyingkir ke pinggir jalan, gelap. Gue nunggu sambil duduk di kafe, entah apa itu. Menenangkan diri. Gue sms adek gue yang nomor dua, Mila. Mengabarkan kondisi gue tapi berpesan jangan ngasih tau nyokap bokap dulu. Khawatir mereka panik.

MENCOBA LAPOR KE POLISI

Sekitar 15 menitan kemudian temen gue dateng. Kita ke kantor polisi. Nyari-nyari keliling dan gak nemu. Entah karena kita panik atau gimana. Sampelah kita di Polsek Cibeunying Kidul.

Polisi nanyain ada apa, gue certain kejadiannya. Belum tuntas gue cerita dia ngomong, “Neng ini karena kejadiannya gak disini, coba neng lapor ke polsek yang dekat dengan tempat kejadian, di Soekarno-Hatta ya?”

“Iya pak, polsek mana ya pak?” Gak ngerti wilayah-wilayah Bandung.

“Eh, ari Soekarno-Hatta teh masuk polsek mana nya?” Polisi yang menangani gue, bertanya ke polisi lain.

“Euh, mana ya? Teu terang abdi ogeh, poho yeuh” Kata polisi itu. Lah? Yakali pak, bapak nyuruh kita ke polisi yang nanganin daerah itu tapi gatau dimana-dimananya. Dia aja yang polisi gak tau pembagian daerah-daerah kerjanya, apa lagi gue?

“Aduh neng, gak tau saya juga daerah mana. Kalo gak polsek XX berarti polsek YY, apa ZZ ya?” Dia ngomong ke gue sambil nanya ke polisi lain.

“Gini aja neng, biar aman ke Polrestabes Bandung aja, mereka nanganin sebandung da, bisa disana mah, insya Allah. Cakupan mereka kan lebih luas ya. Da ini mah masalah ranah kerja dan wilayah kekuasaan neng, tempat kejadian ini bukan di wilayah kita. Neng ngerti lah ya” katanya menjelaskan.

“Oh yaudah pak” Berbasa-basi sebentar baru meluncur ke Jalan Jakarta. Polisi itu sempat meminjam KTP dan mencatat identitas gue. Gue paham sih kalo masalah perbedaan wilayah ini, yang bikin kesel adalah, mereka sendiri gak tau pembagian wilayah polsek-polsekan itu. Emang mereka gak ada koordinasi apa. Nggak ngerti. Gue sama sekali tidak tercerahkan.

Lalalalalaa,

Sampailah kita di Polrestabes Bandung. Tidak jauh berbeda, menyampaikan maksud kedatangan untuk laporan dan menceritakan kejadian. Polisi tersebut ngomong, “Begini dek, bukannya tidak mau bantu, tapi Polres di kantor ini hanya mengurusi bagian pengawalan, pariwisata dan lalalalalalaa (gue lupa dia ngomong apa), biar lebih maksimal coba adek melapor ke kantor yang di jalan Jawa, yang tempat bikin STNK, tau kan? Polwiltabes Bandung. Nah lapor kesana. Bukannya tidak mau bantu, tapi biar lebih maksimal ya”

“Apaah” kata gue, dalam hati. Baiklah.

“Ooh..” Gue cuma bisa ber-ooh saja. Sebagai warga yang awam masalah beginian, gue baru tau prosedur untuk melapor dan meminta perlindungan saja ribetnya kaya gini. Well, gue cuma mau bilang tadi gue ditodong pake pistol dan gue pengen kalian nangkep itu orang. Gue hapal mukanya, gue inget plat nomornya, gue bisa deskripsiin ciri-cirinya.

Sabar. Berpikir positif naf, kalo lo emang gak ngerti hukum, jalurnya emang begitu, lo aja yang gak paham. Baiklah. Gue meluncur ke jalan Jawa.

Di situ ada tiga orang polisi laki-laki dan seorang polisi perempuan. Gue melapor. Gue bilang kalo habis ditodong pake pistol di angkot lalalalalaaa..

“Barang adek apa yang hilang?”

“Gak ada pak, yang hilang itu handphone mbak-mbak yang satu angkot dengan saya”

“Oh kalo gitu adek gabisa bikin laporan, karena adek statusnya saksi”

“Tapi saya juga ditodong pak, cuma karena dia liat polisi lalu lintas terus dia panik jadi dia…”

“Tetep gak bisa dek,” Polisi itu bahkan memotong pembicaraan gue yang belum selesai.

“Sekarang adek bisa gak menghubungi orang yang kehilangan itu dan minta melapor kesini, adek sebagai saksi” kata polisi yang lainnya.

“Saya gak kenal pak, kita pisah di tengah jalan karena panik”

“Oh yasudah kalau begitu”

“Tapi saya inget wajah pelakunya pak, saya bisa deskripsiin, saya ingat plat nomor motor yang jemput dia”

D 8825 YA, gue sebutkan nomor itu.

“Wah ini palsu dek platnya, motor itu nomornya dari 2000 sampe 6999, di atas itu udah beda. Kalo awalnya 88 itu mobil buntung, semacam kolbak”

Gue mengelos. “Adek inget plat nomor angkotnya?” Tanya polisi itu lagi.

“Sayangnya gak pak, saya panik dan langsung lari begitu selamat”

“Padahal bisa aja itu kerja sama dengan supir, biasanya sih begitu” Gue diam.

Biasanya begitu? Oh my God. Jadi menurut lo ini hal biasa. Jadi lo udah tau ini biasa terjadi? Gak tau deh, udah gak ngerti lagi gue.

“Jadi saya gak bisa meneruskan laporan pak”

“Enggak bisa, pertama plat motor udah palsu, gak bisa dilacak. Terus adek juga gak ingat plat angkotnya, yasudah apa lagi?”

“Tapi saya ingat wajahnya pak, mereka bawa pistol, bahaya banget kalo mereka masih berkeliaran, jalanan itu sering saya lewatin dan mereka masih bebas pak, bisa aja nanti mereka beraksi lagi” Gue masih ngotot.

“Pistolnya asli apa gak?”

“Ya mana saya tau pak, tapi kalo menurut pengelihatan mata awam saya sepertinya palsu, tapi saya gak berani berspekulasi”

“Terus adek kenapa gak teriak aja?”

“Ya menurut bapak aja gimana? Saya hampir mati ditodong pistol dan bapak ngomong kaya gini aja?” Gue mulai emosi dan menahan diri supaya gak nangis lagi.

Ya menurut lo aja gue mau teriak dengan moncong pistol yang terarah ke gue. Gilak! Walopun gue juga sempat berpikir itu pistol palsu. Coba tolong jelasin gimana caranya gue bisa teriak minta tolong dengan baik dan benar.

“Jadi saya gak bisa meneruskan laporan ini pak?” Gue mengulang pertanyaan.

“Adek kan gak kehilangan apa-apa, adek cuma saksi”

“Pak saya cuma mau jadi warga Negara yang baik, melaporkan  bahwa saya baru aja berada di dalam kondisi yang tidak aman, saya cuma mau menyampaikan apa yang g saya alami, paling gak bapak jadi patroli disana kek, apa kek, kasih pengamanan atau apa kek, Ya Allah” Dia bahkan males meneruskan untuk mendengarkan laporan gue.

Baiklah.

Apa gue harus kehilangan duit dulu, kehilangan handphone atau kehilangan nyawa bahkan, baru bisa melapor. Astaghfirullah.

Temen gue mencoba menenangkan dan berpamitan.

“Yaudah fay, mungkin emang gitu prosedurnya, gue juga gak ngerti kenapa ribet kaya gini, mesti muter-muter ke beberapa kantor, ini jadi pelajaran buat kita, yang penting sekarang lo aman, tenangin diri dulu. Kita udah ikhtiar buat ngelapor, masalah tanggapan polisinya, yaudahlah. Mungkin dia baru sadar kalau anak perempuannya yang menghadapi kejadian yang sama kaya lo. Sabar ya”

Begitulah. Intinya gue mencoba melapor dan ternyata mereka memberikan tanggapan yang menurut gue tidak menggubris sama sekali. Entah karena gue yang gak paham posisi yang memang tidak bisa melapor, entah karena kejadian itu udah biasa, entahlah.

Malem ini gue seperti semakin diteguhkan untuk tidak bisa mempercayai polisi-polisi itu. Mereka bahkan tidak bisa bersandiwara, berbasa-basi menenangkan gue. Kalo pun gak niat untuk menindak, gue sarankan ada baiknya lo (polisi) buat pura-pura care aja, sok-sok nyatet apa kek gitu. Paling gak bikin korban merasa tenang, berpikir kalo kalian peduli. Ternyata tidak sama sekali.

Ya Allah.

Pantesan ya kejahatan tumbuh subur dan terpupuk dengan baik di Indonesia ini. Untuk sekedar melapor saja gue harus loncat pindah-pindah ke beberapa kantor. Dan akhirnya ditanggapi dingin. Karena gue dianggap tidak merugi apa-apa, tidak kehilangan apa-apa.

GUE KEHILANGAN RASA AMAN BUAT HIDUP DI BANDUNG DAN MENGGUNAKAN KENDARAAN UMUM. Terima kasih banyak.

Gue mencoba mengambil hikmah sedalam-dalamnya dan sebanyak-banyaknya. Mungkin ini teguran buat gue, peringatan buat orang-orang di sekitar gue buat lebih berhati-hati. Yaudahlah ya, jadi pengalaman aja.

SEBELUMNYA…

Jumat (24/2) seharusnya jadi hari yang selow-selow aja buat gue. Ada dua kabar bahagia bahkan yang gue dapet. Pertama, salah satu teman gue Asep Rovi, mantan Presiden Kema Unpad (sengaja gue tulis biar keren, ya nggak sep :D ) akan sidang kompre hari itu. Kedua, gue dapet telfon dari ITB yang minta gue mewakili adik yang menang lomba desain karena dia lagi di Korea (ciee, adeknya jagoo).

Setelah mengurusi lalalaa, hal yang berkaitan tentang desain Sasaki yang menang, jam 12.05 abis sholat zuhur langsung cabs ke Jatinangor. Jalanan hari itu membahagiakan, lancar jaya karna Jumatan. Sidang Asep juga lancar jaya, dia lulus. Horeee… Ini fotonya.

Lia, Asep, Kang Ala, gue @sidang kompre FTIP

Gue sama Lia balik, jalan berdua bentar, ngobrol. OMG. Udah sore banget, menjelang magrib. Karna takut kehabisan damri ke Bandung, gue langsung buru-buru balik. Nyetop damri di tengah jalan dan bye bye Lia, Altov (ketemu Altov pas lagi jalan).

Pas naik damri, lah kok sepi? Cuma ada abang supirnya doang. Pas gue tanya,

“Ini udah mau balik ke pul neng, neng mau kemana?” Kalo sore damri biasanya balik ke pul Gedebage.

“Ke Dago pak, ntar lewat Soekarno-Hatta kan? Saya turun pas sebelum muter balik ya Pak..”

“Iya neng..”

Yahh, ini sebenernya udah jadi rute biasa buat gue. Kalo damri udah abis biasanya gue naik ini sampe puteran Soekarno-Hatta, baru naik angkot apapun (bayar 1000) sampe arah Riung dan lanjut naik angkot Riung-Dago sampe depan gang kosan (bayar 3000). Atau gak naik Babon (bus Bandung-Cirebon) sampe Cicaheum, baru naik angkot Cicaheum-Ciroyom sampe Simpang Dago. Atau naik travel ke Bandung.

Tiga alternatif ini biasanya gue pilih random aja, mana yang paling cepet terjangkau saat itu. Gak ada pikiran macem-macem, karna sampe kemarin sore, gue merasa Bandung itu cukup surga buat pengguna angkutan umum kaya gue, relatif aman lah dari pada Jakarta (menurut gue).

Gue langsung ambil tempat duduk paling depan, ngobrol sama supir. Selain suka seru dapet cerita mereka yang macem-macem, ini gue pilih biar lebih aman. Biasanya gue nyatet nama dan nomor polisi damrinya (atau angkutan apapun itu) kalo ada “apa-apa” (naudzubillaah) paling gak gue ada pegangan data untuk ngelacak.

FYI, kalo naik taksi juga gitu, gue selalu nyatet nomor identitas supir, plat nomor dan apapun yang bisa gue catet. Catet di handphone atau buku kecil, atau sms random ke sapa aja (nyokap, bokap, adek ataupun temen deket gue). Biasanya mereka langsung bales,

“Sms apa sih lu, gak jelas beut” <— bukan emak babeh gue pasti yang sms kalo bahasanya beginian.

Gue cengar cengir aja sendiri, gak bales sms. Kalo udah ketemu dan ditanya baru gue jelasin.

Itu data woi, data gue.

Dan itu jadi kebiasaan baik (menurut gue) yang kadang temen gue yang naik taksi bareng suka mikir kalo gue ribet. Bodo dah.

Ini adalah buah protektif emak babeh gue yang suka rewel kadang, ke gue dan adek-adek,

“Hape itu bukan untuk ditaro di tas aja”

“Pulsa jangan sampe kosong, kamu itu jauh dari rumah”

“Kalo pergi kemana-mana kabarin kak, dek”

“Kalo udah nyampe Bandung sms, telfon, kabarin”

Kalo orang berpikir orang tua kaya gitu adalah orang yang ribet dan kolot, menurut gue enggak, enggak sama sekali. Gue malah seneng ditelfon mulu, ditanyain lagi dimana, itu tandanya mereka sayang sama kita. Mereka selalu percaya sama gue (sama semua anak-anaknya buat melakukan hal ini-itu, kesana kemari) asal ada jaminan kita aman dan laporan kemana pun itu. Cuma gue aja yang rada bandel kadang, males buat laporan.

Hingga kemaren gue merasa strong-strong aja. Pulang malem (dengan suatu alasan ya, bukan main doang, eh kadang main sih, maap), kemana-mana sendiri. Tapi gak buat jumat malem kemaren.

Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih memberikan keselamatan kepada saya malem kemarin sehingga saya tidak kurang satu apapun. Allah sayang banget banget banget sama saya. Alhamdulillaaaah.

—-Kembali ke damri—

Gue sms Lia, “Gue cuma berdua aja dong sama abangnya. Huooo. Damrinya mau balik ke kandang.” Sent.

Semoga gak ada apa-apa.

Kesannya emang sms biasa aja. Tapi itu sebenernya #kode (azegah, gue #kode banget anaknya). Maksudnya kalo ada apa-apa, paling gak ada yang tau posisi terakhir gue. Dan kali ini gue memilih Lia karna dia yang terakhir bareng sama gue sore ini (ciee Lia, selamat yaaa, uhuk).

Ngobrol-ngobrol sama supir, dan sampelah kita diputeran balik yang gue tuju itu,bayar, basa-basi dan turun.

“Makasih ya Pak, duluan, sampe ketemu lagi, assalamualaikum” keliatan sok akrab yeiy. Emang akrab kita karena obrolan sepanjang jalan tadi (cerita ini menyusul).

Gue turun, nyebrang dan memilih spot nunggu angkot yang terang. Buat yang belom tau jalan Soekarno-Hatta, gue jelasin. Itu jalannya gede banget, jalan raya. Satu jalur ada tiga ruas jalan (apa empat ya? Tiba-tiba lupa), karena dua jalur jadinya ada enam ruas jalan (atau delapan, begitulah). Jalannya panjang, sepanjang jalan kenangan dan relatif sepi, bukan daerah pejalan kaki.

Gue memilih spot bertemunya cahaya lampu-lampu mobil yang mau muter arah. Dan berdiri di sebrang tempat polisi pengatur lalu lintas berdiri. Maksudnya kalo ada apa-apa gue bisa langsung terlihat jelas sama polisi tersebut. Dan gue merasa sudah cukup aman dengan strategi-strategi yang gue bayangkan.

Ada sekitar lima angkot (trayek tujuan gue) yang lewat. Tapi gak gue naikin karena sepi. Cuma ada 1 orang penumpang atau 2 orang. Ada juga yang cuma supir aja. Gue menunggu angkot yang agak penuh dan menurut gue (lagi-lagi menurut gue) aman. Dan tadaaaa… angkot Cicadas-Cibiru lewat. Ada enam penumpang dibelakang dengan kombinasi usia dan gender, plus seorang supir di depan. Bangku depan kosong. Gue masuk dan duduk di belakang.

Hingga 5 menit kemudian terjadilah hal yang bikin gue trauma sampe hari ini.

Guys and girls, or whoever you are, hati-hati dan tetap waspada ya kalo pada naik angkutan umum. Well ini jadi pelajaran berharga banget buat gue. Buat kita semua Insya Allah. Bye.

Seketika Cinta Kyuhyun Dikarenakan FF -__-”

Seketika Cinta Kyuhyun Dikarenakan FF -__-”

Hayoo. Gak ada kerjaan ya? Pusing ini itu? Deadline yang menjepit? Ngejar orang gak dapet-dapet (baca: dosen)? Rusuh KRS online gak berhasil-berhasil? Galau seharian? Melakukan hal-hal gak jelas? Nulis feature gak beres-beres? Bawaannya laper mulu?

Ih kok sama sih kaya gue?

Mendingan berselancar di dunia maya, nyari yang seru-seru. Kalo gue biasanya, mentok-mentok nyari ff. “ff apaan tuh qaqaaa?”

Hah? Serius gak tau ff? Baiklah, karna gue keren dan baik hati, gue jelasin.

Ff itu singkatan dari fanfiction. Fan artinya penggemar, fiction itu cerita fiksi. Ff biasanya dibikin sama fan (yaiyalah) bisa anime, komik, tokoh tertentu, artis dan begitu-begituan.

Nah, kalo gue biasanya baca ff yang KPOP atau JPOP. Itu SERU karna ngebayanginnya kaya nonton drama.Yang bikin serunya juga, alur cerita ff bisa kita bikin suka-suka. Tokoh cowok lo jadiin cewek, atau cewek lo jadiin cowok, terserah lo. Mau bikin alur cerita Kim Hyun Joong terdampar di Indonesia dan jatuh cinta sama gue, terserah lo. Asik yey! Tapi sejauh ini gue belom pernah bikin ff sih, cuma jadi pembaca aja. Mikir-mikir agak serem juga kalo gue bikin ff, belom gue jadiin ff aja khayalan gue udah kemana-mana. *selalu memegang prinsip IMPOSSIBLE IS NOTHING* Gyahaha

Sampailah pada suatu masa (tsaaahh) gue menemukan blog yang isinya ff. Awalnya agak bosen liat ff-nya yang ribet, rusuh, kebanyakan tokoh, dan alurnya cepet banget. Gak bagus.

Tapi pas gue oprek-oprek lagi, gue nemu dan baca seonggok ff karya tuh orang. Bagus nih keknya. Tokohnya ngambil member-member Super Junior. Dengan jiwa-jiwa separuh ELF gue, gue baca tuh ff. Berharap ceritanya gak ngaco. Gak macem-macem, gak jelek. Karna gue berjiwa separuh ELF. Gue demen SUJU.

Ya, lo harus tau. Kadang baca ff gak selalu menghibur, kebanyakan geuleuh malah menurut gue (Apa gue nya aja yang jarang nemu ff bagus? Entahlah. Itu masih misteri). Kenapa? Gak ngerti geuleuh? Hem, itu tuh semacam suatu hal yang membuat lo menggelinjang enek. Enek ya bukan enak. Geli bacanya. Ini orang pada ngayal apa banget deh. Ngarep woi ngarep. (Namanya juga fanfic Fay, wajar kali, plis deh)

Pernah gue baca ff tentang Shinee dan Hello Baby. Ceritanya dia manusia dewasa yang terperangkap dalam tubuh bayi, dan dia jadi bayi di Hello Baby. Kebayang gak lo? Dia nyeritain gimana asiknya dipeluk Onew, dicium Key, digendong Jonghyun, tidur bareng Minho dan Taemin. HUH! Najong. Itu ff yang bikin geuleuuuh pisan (menurut gue) (lo geuleuh apa iri Fay?).

—–Eh sorry banget nih kalo itu ff lo, gak maksud gue. Cuma seriusan, serem gue bacanya. Maaf ya maaf—–

Tapi ff yang kemaren gue baca bener-bener panjang. 2 jam lah gue bacanya. Itu diselingin chat, update status, ke kamar mandi, ke dapur ambil minum la la la si emang. Tapi beneran panjang gila. Kisahnya berliku-liku, pasang surut, maju mundur. Tentang Kyuhyun yang ketemu cewek blasteran Korea-Indonesia (ngarep beut) dan tentang kisah pertemanan mereka lalu jadi cinta (Klasik, tapi ini klasik bagus). Ceritanya bagus dan “bersih” (You know what I mean, adegannya gak ada yang aneh-aneh).

Demi apapun juga ini ff terpanjang dan tersinetron dan ter-masuk di hati gue. Gue bacanya sampe nangis sebanjir-banjirnya (Iyaa iya tau, kali ini gue yang geuleuh).

Yang terpanjang yang pernah gue baca loh ya. Soalnya ff panjang parah yang berchapter-chapter itu malesin banget buat gue baca.

Yaiy, se-gakpenting-gakpentingnya hal yang pernah gue lakukan, gue pikir ini hal yang lebih gak penting, nangis banjir sesegukan baca ff. Asli lah. Ceritanya sedih bangeet. Tragis. Kisah mereka dihadapkan pada posisi beda negara, penyakit mematikan, fitnah yang kejam, perempuan ketiga yang gila harta. Aaaah gitu deh.

Begitulah teman-teman. Kalo kalian juga suka baca atau bikin ff, carilah yang berkualitas dan bikinlah yang mengguncang jiwa. Layaknya ff yang gue baca kemaren.

Demi selembar uang lima ribu rupiah yang tersisa di dompet gue, gue jadi tergila-gila sama Kyuhyun. (Dih murah banget gue dipengaruhin ff) Playlist gue langsung Kyuhyun semua, langsung donlot foto-foto Kyuhyun, senyum-senyum liatin Kyuhyun (Geuleuh banget lo Fay).

Oia, minggu lalu Kyuhyun oppa abis ulang tahun yang ke 24. Ucapin dulu bisa kali ya. Saengil chukhaeyoo oppaaa :)

Perlu diingat, gue ini ELF. Separuh ELF lebih tepatnya (Karna gue banyak suka macem-macem). Tapi gak pernah sespesifik ini ke Kyuhyun. Semua member SUJU gue suka secara merata. Tapi sekaraaaaaang, ommoooo.. Kyuhyun oppa!

Ini lagu favorite gue, udah lama gila. Tapi jadi cinta mati seketika..  Selain lagunya bagus, trus Kyuhyun yang nyanyi, trus liriknya daleeeeeeeeeeeeem banget. *Melting*

“Hope is a Dream that doesn’t Sleep”

Ini versi musik  box-nya. Keren juga :)

Oh iya, dengan sangat menyesal gue gak bisa (baca: gak mau) ngasih link blog itu ke kalian. Kalo penasaran cari aja sendiri ff tentang SUJU yang tokoh utamanya Kyuhyun dan ketemu cewek blasteran Korea-Indonesia (Noh! banyak kan gue kasih cluenya).

Dengan alasan gue ingin ngetes kegigihan kalian nyari blog itu. Enggak deng. Lebih tepatnya gue malu.  Ngebayangin kalian ngakak dan mencaci-maki gue yang amat meng-geuleuh-kan karna nangis baca ff yang ternyata menurut kalian gak sedih sama sekali. Yosh. Begitulah. Bye-bye ;)

Renungan Hujan, Untung Saja Bertekad

Renungan Hujan, Untung Saja Bertekad

Satu sore ditemani geli-geli rintik hujan yang mengguyur, gue duduk di halte damri. Pangdam Dipatiukur lebih tepatnya. Suasananya sama sekali gak romantis dan unyu-unyu, kaya video klip bersama bintangnya aurel. Padahal intinya mirip, kita sama-sama duduk di halte, berteduh dari hujan. Gue duduk di halte yang beberapa sisi atapnya udah bocor, ditemani bau got yang meluap, antara bau busuk dan pesing nyampur jadi satu. Hoks.

Padahal waktu hujan adalah salah satu moment favorit gue. Dimana gue bisa menikmati bau tanah basah yang syahdu, menenangkan. Hmmmm, bau yang khas..

Sendiri. Kadang kita memang butuh waktu sendiri untuk berpikir dari berbagai sisi, menangkap sinyal-sinyal bahasa Tuhan yang terabaikan, atau apapun itu. Melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Terus terang gue termasuk tipikal orang Indonesia kebanyakan yang suka berkelompok, asik dengan komunitasnya, nge-gank mungkin kasarnya. Bukan tidak mau peduli dengan orang lain, tapi lebih kepada memperoleh rasa nyaman dengan komunitas.

Tapi bukan berarti gue gak bisa mandiri. Gue tetep independen dan gak cuma terpaku pada ikatan tertentu. Ya kalo gue lagi sendiri gue tetep hidup dan senang-senang. Well yeah kita suka dong nemuin orang yang cuma rame kalo lagi sama temen se-ganknya, tapi kalo sendirian melempem aja, kaya makhluk asing dari planet lain, gak bisa ngapa-ngapain. Jago kandang.

Memperhatikan sekeliling, gerak-gerik orang, mimik wajah gusar, sekelompok anak SMA lagi pada gossip, angkot-angkot ngetem, asap rokok yang mengepul tebal, tukang batagor dan gorengan yang menepi berteduh, ibu-ibu paruh baya dengan bawaan kantong besar yang beratnya melebihi berat badannya, mahasiswa yang lagi pada kejebak ujan di tukang foto kopian, macam-macam.

Sekali-kali mata dan jari-jari gue beralih ke handphone. Main game, bosan, liat-liat lagi. Merenung.

Tunggu. Balik lagi ke pemandangan tadi,

… gerak-gerik orang, mimik wajah gusar, sekelompok anak SMA lagi pada gossip, angkot-angkot ngetem, asap rokok yang mengepul tebal, tukang batagor dan gorengan yang menepi berteduh, ibu-ibu paruh baya dengan bawaan kantong besar yang beratnya melebihi berat badannya, mahasiswa yang lagi pada kejebak ujan di tukang foto kopian, ….

Aah, yaa.

Tukang gorengan.

Tiba-tiba gue inget sesuatu, tukang gorengan.

Gue punya teman, teman dekat. Kita suka bercerita tentang banyak hal, apa pun, dari yang paling penting sampe gak penting. Dari masalah negara sampe cuma nanya “anti spy hape yang bagus, yang ini atau yang itu ya?”.

Dia pernah cerita ke gue, “Kamu liat tukang gorengan itu gak?”,  gue ngeliat ke arah yang dia tunjuk.

“Dia salah satu motivasi saya untuk kuliah loh,” katanya.

“Oh ya?” gue masih bingung, belum menangkap maksudnya.

“Ya, karena kalau saya hanya sekolah sampe SMA, saya pasti disuruh kerja biar langsung dapet duit. Jualan gorengan itu hal yang paling mungkin,” katanya lagi. Gue hanya mengangguk-nganguk, mendengarkan.

“Karena saya gak mau jadi penjual gorengan, makanya saya belajar yang rajin buat sekolah tinggi sampai kuliah kaya gini. Bukan maksudnya jual gorengan itu jelek ya, cuma saya punya cita-cita yang begitu tinggi dan ingin maju,” teman saya itu mulai menjelaskan panjang lebar.

Hemm, ok. Gue agak speechless karena itu gue denger langsung dari temen gue. Bukan di film-film laris yang mengangkat kisah pinggiran, atau novel-novel menggugah ataupun cerita dari orang-orang.

Di lain waktu dia juga pernah ngomong, “Kamu tahu laskar pelangi?”.

“Of course,” gue jawab mantap.

“Ya, orang-orang banyak nangis pas nonton karena terharu, kalau saya nonton juga nangis, tapi itu lebih seperti flashback tentang saya waktu SD,” katanya sambil tersenyum simpul. “Entahlah mungkin kebanyakan orang belum tau keadaan yang lebih nyata atau gimana, tapi banyak loh kisah yang kaya di film laskar pelangi itu, kaya saya, cuma bedanya saya gak dijadiin film aja ” katanya santai.

“Yaudah ntar gue aja yang bikinin filmnya,” kita sama-sama ketawa.

Dan teman gue ini emang jago loh. Serius. Dia suka ikutan kompetisi-kompetisi keilmuan, pernah menang kontes orang pintar di kampusnya, aktif dimana-mana, jadi pemateri ini itu, pernah jadi ketua perkumpulan orang muda berpengaruh di Indonesia dan banyak lagi.

Tekad coy. Itu kuncinya. Memang sih, ini belum menjadi fase klimaks dalam puncak karier temen gue itu, tapi ini bisa jadi motivasi buat kita. Minimalnya buat gue, yang suka layah leyeh seenak jidat.

Kebayang kan kalo temen gue ini gak punya tekad yang kuat, habis SMA dia mungkin pasrah, gak melanjutkan kuliah, jadi penjual gorengan. Pertemuan kita pun mungkin bukan sebagai temen masa kuliah, tapi pertemuan antara penjual dan pembeli. Gue lagi beli gorengan.

Begitulah.

Ahh, hujan reda. Saatnya melanjutkan perjalanan.

Kali Ini Tak Bisa Dibagi

Kali Ini Tak Bisa Dibagi

Pagi ini masih dengan rutinitas yang sama, seminggu ini benar-benar sama.

Bangun tidur dengan pengelihatan yang masih kabur, beranjak keluar dari gulungan selimut, meraba-raba sekitar langsung menyalakan laptop. Membuka file berjudul bab 4,  sudah begitu saja. Kemudian membiarkannya dan melakukan aktifitas lain, sholat, kembali guling-gulingan di kasur, mengaduk-aduk dapur kosan nyari yang bisa di makan. Menonton tv sebentar, melihat perkembangan dunia luar, sebentar saja, lalu kembali duduk di depan layar laptop yang kian hari kian membuat pusing mata. Ya, pusing mata.

Rutinitas baru, bangun tidur langsung buka laptop, sekedar memastikan apakah bab 4 gue ada kemajuan apa ga. Untungnya selalu ada perkembangan, meski hanya satu kalimat, yang beberapa waktu kemudian mungkin bakal gue hapus lagi.

Kali ini tidak bisa dibagi, rata-rata teman sekitar gue pun merasakan hal yang sama. Sibuk bergulat dengan tugas akhir yang belum juga berakhir. Untuk apa dibagi, toh  mereka pun sudah punya banyak yang sama dengan gue.

Dan hiburan gue adalah blog walking. Ketawa ketiwi baca ini itu, angguk-angguk pala kalo nemu yang baru, bosan dan mencaci maki ketika melihat sesuatu yang busuk. Kemudian, harus segera kembali pulang, pulang ke file word bab 4 gue.

Menulis hal-hal gak penting menjadi hal yang menarik saat ini, ngeblog, ngetwit, tidak di facebook. Facebook kian membosankan, bagi gue. Dan yang lebih memuakkan lagi, ternyata gue lebih banyak menelurkan tulisan busuk. Entahlah, gue tampak sulit menyampaikan dalam bahasa tersirat yang misterius, yang yoi, yang bikin orang kagum, yang multi tafsir, yang menggemparkan, amazing, belum pernah ada sebelumnya. Khas penulis oke versi gue, menyembunyikan perasaan dalam tulisan. Padahal tulisan itu sangatlah keren buat gue. Keren mamen! Tapi gue gak bisa -___-“

Sementara gue, mungkin terlalu jujur ketika meluapkan perasaan dalam tulisan blog gue, gampang ketebak banget, gak keren. Gue cuma berharap hukum alam itu benar adanya, bahwa orang keren memang tidak pernah merasa dirinya keren, malah merasa cupu. Dan itu gue, berarti gue yang sebenarnya tetaplah keren. Pret!

Dan beberapa waktu  lalu baca-baca postingan blog gue yang belakang-belakang,

OH MY GOD

Sungguh alay. Ya gue alay banget dalam menulis. Tak penting untuk dibagi. Come on!

Malu bacanya. Elo alay naf! Beneran.

*meremin mata, tutup telinga, geleng-geleng kepala*

Ya Tuhan Pemilik Seluruh Alam, gue suka ngatain orang alay, dengan tulisan gede kecil yang nyampur-nyampur sama angka, dengan nama facebook yang alay, dengan bahasa-bahasa planet mars, yang update status facebook beberapa detik sekali (mungkin itu orang belum kenal sama yang namanya twitter), dengan foto kamera pake angle dari atas (oke, gue juga ada sih foto hina kaya gini), dengan rambut alay yang nutupin setengah muka, dengan berbagai hal yang menurut pengelihatan mata kaki gue begitu alay,

Ternyata tulisan gue pun alay.

Ya Allah, dosa besar tipe apa yang pernah gue lakukan, sehingga gue ikutan kena kutukan alay. Mari istighfar bersama..

ASTAGHFIRULLAHALADZIIIM.

Gue harus tobat, walau mungkin sedikit agak susah.

Ya lebih baik balik lagi ke file word gue. Melanjutkan bab 4. Bye.

Selamat Ibong!

Selamat Ibong!

Selamat Ulang Tahun Ibong!

Untuk adik ketiga, anak keempat a.k.a Nihlah a.k.a Nicol a.k.a Anggi a.k.a Ibong..

Semoga makin sholehah, tambah rajin, jadi chef jago melebihi farah quiin, lulus SMA dengan nilai terbaik, masuk perguruan tinggi impian, sehat terus, gak sering jatuh dan keseleo, gak suka nabrak-nabrak orang, semoga terjadi perbaikan pronunciation dalam berbicara, suaranya makin seksi, bahagia dunia-akhirat, dan apa yang dicita-citakan bisa terkabuul.

Semoga makin murah senyum, makin modis dan pake jilbab unyu-unyu, makin me-wanita, segera dewasa, jarang ngambek, berkurang ngedumelnya, sayang sama adik-adik dan kakak-kakaknya yang lucu dan menggemaskan, suka nraktir cilok, rajin masakin mie buat aku.

Semoga makin pinter, rajin, bersih, rela menolong, suka membantu, riang gembira dan suka menabung. Biar banyak duit biar bisa bagi-bagi ke banyak orang, jalan-jalan dan traktir aku nonton konser.

Amin amin.

Bisa memberikan kerja dan dedikasi terbaik untuk agama, keluarga, nusa bangsa, tanah air, tumpah darah tercinta. Berguna untuk banyak orang.

18 tahun mamen.  You are not children anymore.. Uh huh?

Fighting!!

Tetap semangat dan jauhi narkoba!!

Love love youu sist’ <3

Ada yang Jualan MOOD Baik? Saya Beli Sekilo!

Ada yang Jualan MOOD Baik? Saya Beli Sekilo!

Kenapa oh kenapa malas tiada kiranya. Kenapa oh kenapa mood hilang sekejap mata. Dengan jalan sudah sejauh ini, dengan target yang semakin mendekati deadline, dan gue? Hilang mood. Kecurian mood baik menyalesaikan segala sesuatunya.

ASTAGHFIRULLAHALADZIM..

Bergulat dengan belasan buku, mantengin laptop saban hari, buka tutup-file, tapiiiiiii…….. Progres gak jelas. Ommooo!!! (۳˚Д˚)۳

Tolooong, ada yang jualan MOOD baik di Bandung, Nangor, Depok, Jakarta dan sekitarnya? Gue beli sini. Beneran. Lagi butuh pisan! Atulah.

Ini lagi pembahasan. Pembahasan yang kemudian gue mentok dengan bentuknya yang semakin abstrak. Nyoba fokus sama pikiran dan penelitian ala saya, tapi terganggu juga sama banyak hal.

Щ(ºДºщ)

Mana dari kemaren tiap mau ngerjain Mr S, selaluuuuu aja banyak godaan. Ngajak jalan ke Jogja lah, main ke dufan, backpackeran ke dieng, nonton film baru, jalan-jalan, belanjaa, aaaaaaaaa…. Semuanya menyenangkan. Kapan gue beres ngerjainnya kalo gitu???

Hilang mood tiba-tiba itu rasanya kaya pengen garuk-garuk aspal sambil gigitin pager tetangga. Grauk!