Category Archives: Communication

Bayang Hitam Dunia Jurnalistik Indonesia

Bayang Hitam Dunia Jurnalistik Indonesia

Dunia jurnalistik merupakan salah satu hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, khususnya pada era perkembangan teknologi informasi yang semakin meningkat ini. Hampir setiap hari orang-orang, baik sengaja ataupun tidak, terkena terpaan media. Informasi dari dunia jurnalistik sebagai salah satunya.

Di Indonesia sendiri saat ini mengalami perkembangan pesat dalam dunia jurnalistik. Semakin banyak media massa yang lahir untuk berperan dalam penyampaian dan penyebaran informasi di tengah masyarakat. Berita hadir di berbagai jenis media massa, mulai dari televisi, siaran berita di radio, koran, majalah, tabloid, maupun media konvergensi, internet, dan lain sebagainya. Masing-masing media, cetak maupun elektronik memiliki karakteristik tersendiri. Jika saya khususkan pada media elektronik, kecepatan informasi menjadi salah satu kelebihan dan perhatian khusus bagi para pekerja media jenis ini.

Aktualitas menjadi komoditas tersendiri dalam beberapa media. Setiap media selalu ingin menjadi yang pertama dalam menyampaikan informasi. Karena kecepatan tersebut akan membangun rasa percaya pemirsanya untuk terus mengakses media elektronik tersebut. Entah televisi, radio maupun internet.

Namun aktualitas yang dibangun tidak selalu beriringan dengan akurasi dalam penyampaian informasi. Ini menjadi salah satu bayang-bayang hitam dunia jurnalistik. Karena jika ini terus berulang, maka bisa jadi tingkat kepercayaan pemirsa tergerus dengan sendirinya.

Contohnya saja pada situs media internet, Detik.com, yang menghadirkan berita secara berseri. Misalnya pada kasus tabrakan pada suatu daerah, disampaikan ada 10 orang korban tewas dengan rincian namanya. Namun beberapa saat kemudian, muncul berita lagi di situs yang sama, yang mengatakan bahwa tidak ada korban tewas melainkan hanya luka berat.

Pemberitaan ini tentu bisa berakibat buruk, karena keluarga yang mencari informasi melalui media massa ini salah mendapatkan informasi. Namun, di lain pihak, Detik.com mengatakan inilah karakteristik pemberitaan mereka yang berseri, yang terus menghadirkan perkembangan kasus. Tapi bukan berarti ini menjadi tameng bagi mereka untuk menghadirkan berita berdasarkan kecepatan saja. Akurasi pemberitaan tetaplah menjadi hal yang nomor satu.

Sama halnya dengan bencana alam gempa bumi di Padang ataupun meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta. Baik tvOne maupun Metro tv mengklaim sebagai stasiun televisi pertama yang berhasil mengudara dari sana untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Sebegitu berharganya predikat pertama dan tercepat bagi media massa, padahal entah sengaja atau tidak, hal itu mengabaikan hak pemirsa dan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat.

Permasalahan utama tidak hanya pada kecepatan media massa yang kerap mengabaikan akurasi, ada juga permasalahan pemilihan narasumber, kebenaran suatu informasi, hingga tren baru untuk menghadirkan informasi yang sedang berproses secara langsung (live).

Misalnya kasus Eko Ramaditya Adikara, seorang bloger tunanetra yang mengaku menciptakan musik-musik game nitendo dari Jepang. Kehadirannya dalam diskusi mengundang banyak perhatian, sampai suatu saat sebuah stasiun radio mengundangnnya sebagai pembicara dalam sebuah dialog. Pada kesempatan itu Rama mengatakan suka musik game dan bahkan bisa menciptakannya. Dari situ Rama mengaku sebagai pencipta beberapa musik games buatan Nintendo, penghasil video game yang sudah terkenal.

Sejak itu Rama banyak diwawancarai oleh media cetak, diundang dalam acara-acara di media televisi dan radio, bahkan sempat mendapat penghargaan dari Kick Andy sebagai salah satu pemuda yang berprestasi. Sekian banyak media massa yang meliput, namun ternyata tidak ada yang menangkap keganjilan pengakuan Rama.

Kebohongan Rama malah terbuka oleh para bloger yang juga aktif dalam komunitas game. Bahkan tidak ada satu media pun yang berinisiatif mengkonfirmasi kepada pihak nitendo, padahal kalau ini berita benar, tentu merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Ini bukanlah suatu hal yang sederhana, karena melibatkan perusahaan besar Negara lain.

Media mentah-mentah percaya pada pernyataan seseorang yang menjadi aktor utama dalam kasus ini, tanpa mengkonfirmasi ke pihak lain yang bersangkutan. Padahal salah satu tugas media massa, khususnya dalam dunia jurnalistik adalah mengkonfirmasi ulang, melakukan cek dan ricek, sehingga berita tersebut benar-benar pasti kebenarannya. Tidak hanya mengandalkan satu sumber saja.

Walaupun kesalahan tidak seutuhnya dilakukan oleh media massa, melainkan oleh pernyataan Rama, namun tugas media massa dan para jurnalis lah dalam mencari kebenaran tersebut.

Bayangkan saja, berapa banyak masyarakat yang pada akhirnya mendapatkan berita tidak benar, mengenai kebolehan Rama dalam menciptakan musik-musik game nitendo. Ini merupakan gejala kerapuhan media massa yang terjadi secara massal. Kita tidak bisa menduga bagaimana jika hal tersebut bersangkutan pada informasi yang penting dan menyangkut pada keselamatan jiwa banyak orang.

Kemudian ada pula tren menghadirkan segala informasi secara langsung, tepat pada kejadian untuk mengejar eksklusifitas yang berujung pada tingginya rating sebuah media. Padahal pada pemberitaan yang dihadirkan secara langsung memiliki dampak-dampak tertentu. Media massa, besar maupun kecil, tentu harus bisa mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi dari penayangan informasi secara langsung.

Kasus penayangan langsung (live) persidangan kasus Antasari Azhar mengenai skandalnya pun menjadi sorotan dan hal yang penting untuk diperbaiki dalam dunia jurnalistik. Hal tersebut terjadi pada pemberitaan tvOne yang menayangkan langsung kasus persidangan Antasari Azhar.

Saat itu persidangan sedang memproses skandal seks Antasari dengan seorang perempuan yang disinyalir berujung pada pembunuhan. Pada sidang tersebut, tentu Antasari dihadirkan dengan berbagai pertanyaan dan penjelasan kasusnya.

Namun ternyata pada sidang tersebut terdapat hal-hal tabu yang tidak seharusnya diketahui banyak orang, mengenai rekonstruksi pertemuan Antasari dengan Rani Juliani, istri muda Nasrudin Zulkarnaen yang diduga tewas terbunuh oleh Antasari. Bahkan kronologis hal-hal yang dilakukan Antasari dan Rani yang dilakukan dalam sebuah kamar hotel.

Padahal berita tersebut mungkin ditonton oleh banyak masyarakat, karena besarnya kasus dan orang-orang penting yang terlibat. Bukan tidak mungkin anak kecil, remaja dan usia penonton yang belum dewasa turut menyaksikan persidangan tersebut.

Hal ini tentu harus menjadi perhatian media massa. Paling tidak ada tindakan antisipasi kemungkinan kasus dan apa yang akan terjadi dalam persidangan tersebut. Ini tentu berakibat tidak baik bagi penonton berita televisi di Indonesia.

Selain itu, ada pula kasus penggrebekan tersangka pelaku teroris, yang juga ditampilkan oleh tvOne. Bak drama action, detik demi detik penggrebekan dihadirkan dengan sangat detail. Bagaiman tim densus dan kepolisian menyusun strategi, menyebar massa untuk mengepung, melakukan aksi saling tembak hingga melempar bom untuk melumpuhkan tersangka yang menjadi incaran.

Paling tidak ada dua hal dampak negatif yang saya tangkap dari hal tersebut. Pertama, bisa jadi ini menjadi referensi dan informasi “emas” bagi rekan tersangka di luar sana yang menyaksikan televisi. Yang kemudian bisa jadi melakukan komunikasi dengan tersangka yang menjadi incaran, untuk menghindari tempat-tempat yang sudah dikepung polisi dan beralih ke tempat lain untuk melarikan diri. Itu jika benar bahwa terangka merupakan teroris yang diincar, bukan tidak mungkin tayangan tersebut justru memudahkan tersangka untuk lari dari kepungan polisi.

Di sisi lain, bagaimana dengan psikologis keluarga tersangka yang diincar. Mereka menyaksikan secara langsung drama penangkapan yang bisa jadi berujung pada kematian keluarga mereka. Bahkan drama tersebut dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang mengakses stasiun televise tvOne. Apakah pihak media mempertimbangkan hal-hal tersebut? Bagaimana kondisi psikologis keluarga yang mengalami trauma dan tekanan yang cukup berat. Dan bagaimana jika ternyata tersangka bukanlah orang yang dicari, alias salah sasaran?

Hal-hal seperti ini seyogyanya perlu menjadi perhatian bagi dunia jurnalistik, agar jangan sampai tugas mulia para jurnalis untuk mencerdaskan bangsa, salah satunya, menjadi boomerang tersendiri.

Beberapa pemaparan di atas hanya sebagian dari bayang hitam dunia jurnalistik di Indonesia. Meski begitu, kita tidak bisa menjustifikasi bahwa semua media melakukan hal yang sama. Dan tidak selamanya beberapa media yang saya sebutkan di atas selalu melakukan kesalahan.

Ada banyak hal positif juga yang bisa kita peroleh. Tapi kita tidak bisa menutup mata pada kekurangan yang perlu diperbaiki secara terus menerus, demi kebaikan kita bersama.

Fenomena ini diibaratkan sebagai segenggam pasir di tengah luasnya pesisir pantai. Artinya masih banyak hal yang terjadi dan berkembang dalam dunia jurnalistik selama ini, khususnya di Indonesia.

Referensi:

-    http://www.republika.co.id/berita/senggang/tokoh/10/08/20/131121-akhir-kebohongan-eko-ramaditya-adikara

-   http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/502/6/

 

Nafielah Mahmudah

Tugas Akhir Jurnalisme Kontemporer, Jurnalistik Unpad

Strategi Marketing #petimati, you rock guys \m/

Strategi Marketing #petimati, you rock guys \m/

Masih ingat dengan hebohnya kiriman peti mati ke beberapa orang dan media massa. Nama CEO Buzz & CO Sumardy mendadak tenar, karena ngirim peti mati itu. Senin pagi yang cerah, 6 Juni 2011, warga Jakarta heboh dengan pengiriman peti mati itu.

Awalnya banyak yang menduga ini jenis teror baru, yah you know lah ya kita emang suka bikin yang aneh-aneh. Bukan dia aja, bukan mereka, mungkin lo juga, gue juga. Mirip-mirip teror bom buku gitu?

Ada yang mengira ini bagian dari kondisi politik yang makin jumpalitan gak jelas, atau mungkin mengancam kebebasan pers? (Masalahnya beberapa media gede kaya The Jakarta Post, Metro TV, RCTI, Kompas.com, Okezone.com, Tempo, ANTV, dan Detik.com dapet kiriman paket peti mati itu)

Masing-masing peti mati itu ada nomer urutnya lagi, jir, ketir aing ogeh mun dapet kiriman (WOI KASAR PARAH OMONGAN LO!!) Hehe. Berasa mati diurutin gitu gak sih lo?

Dan beberapa waktu lalu juga gue nge-twit tentang peti mati. Ini ga penting sih, cuma gue pengen copas aja ke blog gue. Ihiw.

:: Mnrt gue strategi marketing peti mati itu keren. Cuma berada pada waktu dn tempat yg salah #petimati #strategimarketing

:: Sebelumnya jga udah ada beberapa produk yg bikin #strategimarketing mirip2. Inget Bu Dona? Guru privat yg cantik dn seksi?

:: #eh Bu Dona bukan ya namanya? Yg pasti itu #strategimarketinguntuk produk cowok. Sabun muka atau gel rambut ya? *ingatanjangkapendek*

:: Satu lagi! Video Ririn Dumin. Salah satu #strategimarketing yang menyedot perhatian masyarakat. Yang ternyata iklan obat sakit kepala.

:: #eh bukan Bu Dona ya? Sarah Aprilia. Guru les privat panggilan yg cantik dn seksi, #strategimarketing cologne khusus pria merk Bask cologne.

:: Untuk #strategimarketing, ririn dumin, sarah aprilia dan peti mati, jelas berhasil menarik perhatian. Ini baru iklan dan promo yg niat.

:: Bedanya, #petimati ini agak horor emang. Di tengah teror bom buku dan teror aneh lainnya, #petimati jelas bikin ketir.

Eeeh…………………………………………………………………………………………….

Ternyata itu cuma promo launching buku berjudul “Rest In Peace Advertising” yang ditulis Sumardy, sang CEO perusahaan marketing Buzz & Co.

 

Yaa! Gue kagum sama caranya untuk bikin iklan.

Strategi Marketing? Yah menurut gue ga mudah untuk nemuin formula yang pas biar iklan kita meledak, semua orang tau. Dan ini gebrakan cin! Oke punya.

Nah buat insan-insan periklanan, mungkin bisa jadi bahan nih untuk bikin sesuatu yang ruaar binasa. Tapi ya diperhitungkan juga, kalo bikin ketir berlebihan dan jatuhnya membuat resah mesti hati-hati juga. Kalo dipidana kan berabe.

Mungkin bisa bikin yang lebih soft dan asik-asik kaya Sarah Aprilia yang cantik dan (katanya) seksi, bikin penasaran (apalagi cowok-cowok), atau yang sedikit alay kaya Ririn Dumin. Sorry banget, walaupun ini untuk promosi tapi gue tetep nganggep lo alay. #eaa.

Tapi tetep oke cara promosiin dan idenya d^^b

Begitulah,

Sebagai orang komunikasi, eh, maksudnya orang yang lagi belajar tentang komunikasi dan belom beres-beres sampe sekarang (eaa), gue kagum sama pak Sumardy. Di tengah geliat periklanan yang membosankan dan gitu-gitu aja, dia bikin yang orang belum pernah mikir sebelumnya.

You rock guys \m/

Menyesuaikan Diri, WHY NOT?

Menyesuaikan Diri, WHY NOT?

Satu hari, hari itu hari Jumat (26/11). Gw berangkat dari kosan, tujuan kali ini ke sebuah rumah sakit di Bandung. Tap tap tap, jalan kaki dan nyampe di tempat perlintasan angkot Cicaheum-Ciroyom.

Beberapa angkot lewat, tapi gw ga naikin. Soalnya mau nyari tempat duduk di depan. Duduk di samping pak supir yang sedang bekerja. Mengendarai angkot yang gw naikin. Hehe. Duduk di depan atau belakang sebenernya sih sama aja. Masing-masing ada keistimewaannya (menurut gw). Kalo duduk di belakang, lebih berbaur dengan pengguna angkot lainnya. Memperhatikan aktivitas orang-orang, ada yang smsan, diem dan bengong, tidur, ngobrol rame. Macem-macem. Dari obrolan rame orang-orang juga kita bisa banyak belajar loh. Banyaaak hal. Gw sering dapet hal-hal baru yang waw.

Tapi awas, jangan keasikan liat kanan-kiri merhatiin orang sampe ga kedip. Bisa-bisa disangka mau nyopet atau ga sopan. Nei nei nei, jangan sampe.

Kalo duduk di depan, kita bisa liat pemandangan jalanan lebih puas. Ngeliat aktivitas masyarakat lebih dekat. Hey, this is Indonesia! Kalau lo mau tau lebih dalam tentang Indonesia, salah satunya bisa lewat naik kendaraan umum. Berbagai reaksi dan aktivitas kita bisa tangkep secara natural.

Itu juga kenapa salah satu dosen gw lebih milih naik kendaraan umum dari pada mobil atau motor pribadi. “Kalau naik kendaraan umum, kita bisa tau realitas sosial lebih dalam,” kata Pak Sahala, dosen gw.

Mungkin ini bisa jadi SALAH SATU masukan buat petinggi-petinggi negara yang katanya mau tau permasalahan masyarakatnya, yang sebener-benernya. NAIK ANGKOT. Bisa ngurangin polusi juga loh bapak-bapak dan ibu-ibu.

Teng teng, beberapa menit kemudian dateng angkot Cicaheum-Ciroyom yang bangku depannya kosong. Lambai-lambaiin tangan ke depan (nyetop angkot maksudnya). Angkot pun berhenti..

Buka pintu-masuk-duduk-tutup pintu. Bersiap untuk perjalanan kali ini, hehe. Sebenernya gw selalu eksitit (kenapa tulisannya jadi begini?) dalam setiap perjalanan. Memperhatikan banyak orang. Yeaah.

Si abang-tukang-angkot tiba-tiba ngomong, “Memang kau mau kemana nya?” dengan logat batak kental.

Gw sempet kaget, ini abang-tukang-angkot kenal gw apa emang pengen ngobrol aja. Tapi belum sempet gw ngeh dan menjawab pertanyaannya,

“Belanja lah aku, mau pulang kampung pun ke medan,” seorang ibu-ibu dengan paras khas orang batak menjawab cepat.

Beuuh, untung aja gw belom jawab. Padahal gw beneran udah mau buka mulut jawab pertanyaannya. Kalo udah, bisa kicep dah eike. Hahaha, hampir-hampir. Harga diri mau dimasukin kantong kresek dah kalo tadi kejadian (haha, lebay!)

Ga banyak yang gw lakukan saat itu, bales sms sebentar, cek-cek isi tas, mastiin ga ada yang ketinggalan, dan fokus pada perjalanan. Abang-tukang-angkot tadi masih asik ngobrol sama ibu itu, pake bahasa batak full, ternyata mereka temenan.

Kami ngelewatin angkot lain yang lagi ngetem. Tau ngetem kan? Berentinya sebuah angkot atau angkutan umum apa pun, di tengah perjalanan, atas dasar kekuasaan sepihak abang-tukang-angkot untuk mengejar setoran, yang kadang semena-mena ngebiarin penumpangnya kesel setengah idup karena kelamaan nunggu. “Woi abang-tukang-angkot, saya buru-buru nih. Telat!!”

Disindir-sindir pake batuk-batuk, ketuk-ketuk kaki ke lantai angkot, teriak ngamuk-ngamuk (dalem hati), sampe ngomong langsung, abang-tukang-angkot tetep aja selow.

Oke, balik lagi. Kita ngelewatin angkot lain yang ngetem tadi. Abang-tukang-angkot yang gw naikin (angkotnya) teriak, “Woi, batur. Kemana aja nya kau. Lama kali tak jumpa sama batur aku yang satu ini,” katanya, khas dengan logat batak dan bersuara nyaring.

Uw, merhatiin ga lo ada yang ganjil? Yoi, penggunaan kata Batur dengan logat batak. Batur itu bahasa sunda artinya Teman.

Waw, ini keren menurut gw. Proses akulturasi ya namanya? Budaya satu sama budaya lain bergabung dan jadi budaya baru, tanpa merusak dua budaya yang sebelumnya. Kalo kata om Wiki (Wikipedia),

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

Masih inget sama salah satu pepatah kita kan,

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Inilah yang dilakukan sama abang-tukang-angkot dan teman-temannya. Orang batak yang pake bahasa sunda dikit-dikit. Gimana caranya kita menyesuaikan diri di tempat orang :D

Pelajaran baru lagi buat gw. Kalo di komunikasi itu ada yang namanya komunikasi lintas budaya.

Komunikasi Lintas Budaya adalah proses komunikasi (pertukaran pesan antara komunikator dengan komunikan dengan tujuan tertentu) yang dilakukan oleh orang yang berbeda budaya (bisa suku, negara ataupun yang lainnya)

Dalam komunikasi kita ga boleh memaksakan rekan komunikasi kita secara egois untuk ngikutin maksud kita. See? Bahkan seorang abang-tukang-angkot pun menerapkannya.

Oke. Bukan maksud gw mendiskreditkan atau bahkan merendahkan pekerjaan tertentu (bukan sama sekali), tapi ini lebih kepada bagaimana kita mendapatkan pelajaran dari mana saja.

Kalau mau dibahas lebih luas dan jauh, uuhh, malu banget kalo mempertahankan ego kita. (Ini keluasan ya sama tulisan gw yang di atas) Hehe, biarin lah.

Waah, kalau semua orang bisa menyesuaikan diri seperti ini, pasti keren banget jadinya. Ga ada lagi gontok-gontokan (pada permasalahan yang lebih kompleks) karena ga ada yang mau menyesuaikan diri.

End, thank you for reading, Haha, cups :*

abang-tukang-angkot

Komunikasi Massa

Komunikasi Massa

Komunikasi massa? Komunikasi yang melibatkan orang banyak. Berbicara di depan massa? Apa sebenarnya makna komunikasi massa?

Ada beberapa definisi yang bisa menjelaskan makna dari komunikasi massa.

Definisi Komunikasi Massa

proaudiosuperstore.com

Di antaranya definisi, menurut:

1. Bittner: Pesan yang disampaikan melalui media massa sejumlah besar orang.

2. Gerbner: Produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri.

3. Wright: Bentuk baru ini dapat dibedakan dari bentuk lainnya yang terdahulu, dengan karakteristik utama: Ditujukan pada khalayak yang relatif besar, Heterogen dan anonim, Pesan disampaikan secara terbuka, Seringkali menjangkau audiens secara acak, Sekilas, Komunikator berada dalam organisasi yang kompleks yang melibatkan biaya besar.

4. Severin dan Tankard: Komunikasi massa adalah sebagian keterampilan, sebagian seni dan sebagian ilmu.

Artinya, komunikasi massa harus dikelola oleh orang-orang yang mempunyai keterampilan-keterampilan khusus, tanpa ilmu tidak bisa menjalani komunikasi massa. Orang tersebut harus punya seni yang tinggi, agar komunikasi massa yang ditampilkan menarik.

5. Jalaludin Rakhmat: Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.

Elemen-elemen Komunikasi Massa

1. Komunikator, penyampai pesan. Diperngaruhi oleh budaya, persaingan, kompleksitas, biaya.

2. Pesan. Terdiri dari: Kode (Kata-kata tertulis, kata-kata terucap, foto, suara musik), Konten (Isi program acara, berita/ informasi media).

3. Komunikan/ khalayak. Karakteristiknya: Berjumlah besar dan banyak, heterogen, anonim, terpisah secara fisik.

4. Media. Tujuh media lembaga, yaitu buku, surat kabar, majala, radio, televisi, rekaman dan komputer.

5. Gatekeeper, demi pers yang bertanggung jawab. Fungsinya berwenang menghilangkan pesan, meningkatkan jumlah dan pentingnya sebuah pesan, mengurangi jumlah dan pentingnya pesan.

6. Regulator. Fungsinya mengatur dan mengontrol media yang keberadaannya di luar media. Seperti pemerintah yang menyensor, pemasang iklan yang kecewa, dan khalayak yang resah.

7. Feedback. Jenisnya: Representative feedback, Cumulative feedback, Quantitative feedback, Institutionalized feedback, Indirect feedback, Delayed feedback.

8. Filter. Berupa filter fisik, non fisik dan budaya yang ada.

Karakteristik Komunikasi Massa

* Komunikator melembaga
Komunikator tidak berbicara atas nama dirinya sendiri, tapi atas nama lembaga yang menyiarkan. Komunikator dalam komunikasi massa dinamakan komunikator kolektif. Karena segala sesuatu yang dikomunikasikannya adalah hasil kerja sama berbagai kerabat kerja.

* Pesan bersifat umum

Pesan yang disampaikan adalah mengenai kepentingan umum dan untuk umum. Tidak untuk segelintir atau sekelompok orang tertentu. Lain halnya dengan media nirmassa (media massa yang harus diakses terlebih dahulu. Contoh: Internet).

* Komunikan anonim dan heterogen

Komunikator tidak mengenal komunikan (anonim), karena menggunakan media. Komunikan terdiri dari berbagai lapisan masyarakat  berbeda usia, kelamin, agama, pekerjaan, pendidikan, dll.

* Berlangsung satu arah

Diantara komunikator dan komunikan tidak terjadi dialog. Sehingga tidak terjadi pengendalian arus informasi.

* Menimbulkan kesempatan

Pesan yang disampaikan dapat diterima oleh khalayak dalam waktu yang sama (serempak).

* Feedback tertunda

Hal ini disebabkan oleh sifatnya yang satu arah. Sehingga feedback (umpan balik) menjadi tidak langsung dan segera.

* Mengutamakan isi daripada hubungan

Dalam komunikasi massa, isi pesan yang sistematis dan disesuaikan dengan karakteristik media yang digunakan lebih penting dibandingkan dengan unsur hubungan yang harus ada dalam komunikasi antar personal.

* Terbatasnya stimulasi alat indera

Stimulasi alat indera yang bergantung pada jenis media yang digunakan. Misal, media radio, khalayak hanya menggunakan telinga, televisi menggunakan mata dan telinga, majalah mengandalkan mata dan seterusnya.

Sumber: Materi perkuliahan Komunikasi Massa, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Ciamis, I’m coming

Ciamis, I’m coming

Memilih tempat KKN (kuliah kerja nyata loh cing) rempong ternyata. Janjian bareng ini dan itu, nyatanya kita harus bergelut dengan waktu. Doweeew.. Gw barengan sama Yani. Pertama kita nentuin kriteria dulu. Mau gunung atau pantai? Berfikir kemudian. Lalu diam, bermain dengan bayangan masing-masing, menentukan pilihan.

Pantai.

Kayanya oke tuh. Berhubung kehidupan saban hari di Bandung, mirip-mirip gunung lah yaa dinginnya. (Walaupun julukan Bandung Lautan Api, akhir-akhir ini muncul lagi. Bandung panas gilaaaa..) Kita milih pantai. Asik kali yaa, jadi berasa liburan gitu. Hoho.

Oke. Kita pilih Garut yaa. Pameungpeuk. Kita klik. Yaaahh, ternyata penuh. Mulai bingung lah kita. Kota mana yaa? Tasik, Subang, Cirebon, Garut, Ciamis atau mana nih? Beberapa kali nentuin tempat. Tapi pas dicek udah pada penuh dong. Ck ck ck. Harus dulu-duluan gitu. Siapa cepat dia dapat. Lalu..

Subang yok. Kayanya ga asing tuh. Tapi kecamatan yang kita tuju penuh. Waah, bagaimana ini? Dan seseorang mengirimkan sms ke gw, pas gw minta pendapat tentang tempat KKN.

“Di Subang katanya banyak TKW, jadi mahal-mahal gitu katanya..” (Hah? Masa sih?) Yaaahh, mikir deh gw. Kalo mahal-mahal alamat merana kehidupan kita di sana. Tapi itu baru kabar burung sih. Kemudian ber-SMS-an dengan yani, telfonan. Kemudian YM-an. Berikut perbincangan kami..

N: mau kelurahan mana yan?
Y: nafilah
Y has unloaded the IMVironment.
Y: gman nii?
N: subang katanya gunun ternyata yan
N: gw barusan nanya temen gw
Y: gimana dong
Y: apa ciamis?
N: ciamis yok
N: pantai gunung?
Y: pantai ada
Y: gnugn gtw dah
N: ayo sama-sama klik ciamis yang
N: yan
Y: tar tar
Y: gw ud klik ciamis ni
Y: kecamatan apa?
Y: dewei padaherang
N: oke
N: gatau gw soalnya
N: haha
Y: hahha
Y: ngocol bgt si kitaaa
N: yoiii
N: mantap yaaa
Y: br jg hari pertama dibuka uddah keabisan gini
N:
N: iyaa parah gini yaa
N: 4000an mahasiswa soalnya
N: kelurahan apa yan?
Y: kecamatan apa dulu ni?
N: katanya padaherang? iya ga?
Y: padaherang aja?
N: dewi disitu?
Y: iya disana dia
N: yaudah
Y: jadi padherang?
Y: klik yookk
N: kliiik
Y: tinggal kelurahan niii
N: sindangwangi tempatnya harum kali yaa?
N:
N: ga ngerti gw nama2 desa ituu
N: paraaaah
Y: hahaha
Y: apa siii looooo
Y:
Y:
Y: gw mulai stres
Y: haha
N: apa nih? padaherang? karangpawtan
N: sindangwangi atau ciganyong?
N: antara 4 itu
Y: ciganyong, ada inyong tar
Y: hahah
N: wakakakakakaa
N: karangpawitan banyak karang kali yaa
N: kalo lo feeling nya dimana yan?
Y: kelapa sawit uga kayanya
N:
Y: aduh aduh
Y: eh kelurahannya da padaherag juga ya?
N: ayo yan
N: iyaa
Y: gw nanya dewi dia padaherang..
Y: dia padaherang smua
N: mau disitu? apa yang lain?
Y: gimana
N: terserah
Y: mau ngikut ato beda ni

(SKIP)
N: mau dimana?
Y: ayokk
N: gw kalo ga sindangwangi karang pawitan
N: lo?
Y: slh satu pilihan gw ya sindangwangi juga
Y: ato padaherang
N: kalo menurut gw sindangwangi kayanya tempatnya harum, karangpawitan banyak karang berarti pantai
N: jadi?
Y: si reiza mau liat peta ciamis dulu dia, ngeliat deket pantai ato ga
N: ooh oke
N: tinggal kelurahan ya kita
Y: tarik nafas dulu nyookk
N:
N: kasih tau aja yan, kalo ada berita ttg ciamis itu

(SKIP)
Y: mau yg deket pantai ato bebas ni?
Y: yg deket pantai parigi cimerak
N: bebas gw mah
Y: deket pantai aja yuk naf
N: ayok
N: parigi atau cimerak?
Y: parigi kelurahannya tgl 1 lagi nih
Y: berarti laku juga ya
N: iyaa
Y: parigi aja apa?
N: yodah
Y: klik ya
N: klik
N: kelurahan cibenda berarti?
Y: iya mau ga mau
Y: klik juga?
N: oke
N: kliik
N: kirim formulir pendaftaran?
N: klik??
Y: bntar2
Y: oke klik ya
N: oke klik

(Kemudian kami terdaftar, dan melihat nama teman-teman satu desa)
N: kita barenh indah dan jeany
Y: iya ternyata
Y: hahahahha
Y: ga nyangka
N: wkakakaka
N: iyaaa
Y: baguslahh
N: okee
N: menyesal ga?
N: ga kan?
Y: tidak
N: siiiipppp
Y: gw lega bgt naff
Y: ]senyum lebar gw skrg
N: akhirrnyaaaa
N: gw jugaaa
Y: hooaaaammmm
N: hehehe
Y: KKN menyusull
Y: capek otak gw naf
Y: hahaha
N:
N: siipppo
Y: bisa tidur nyenyak dehh
Y: hahahaa
Y: org2 yg lain tinggal sisa

(Oke. Perbincangan mulai membelot dari seputar KKN. :D )

Y: ngeceng2 anak geologi w
Y: hahaha
Y: eg itu adinda maharani yg bem bukan si?
N: iyaa
N: dinda
N: anak geologi ada yang lo kecengin?
N: wah wah
N: hahaha
Y: kaga,,
Y: judulnya aja, kan byk yg cinlok
Y: hahaha
Y: asik lah kalo gt,,
Y: bisa lgsg nyambung kita semua
N: sip sip
N: mudah2an yaa
N: amiiin
N:
Y: amin
Y has signed out. (22/04/2010 21:15)

Last message received on 22/04 at 21:00

Begitulaah, hingga akhirnya kami memilih Ciamis. Go Go Ciamis!!

Sebenernya apapun desanya, yang penting bagaimana kinerja kita nantinya. Gimana kita bisa berkontribusi untuk kemajuan desa. Kemajuan bangsa. Kemajuan Indonesia!!

Yeaaahhh…

(Euforia KKN)

9 Elements of Journalism

9 Elements of Journalism

Menjadi jurnalis profesional, salah satunya harus memahami teori jurnalistik. Jurnalis tidak hanya bertugas mencari dan melaporkan berita, tetapi juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial.

Bill Kovach dan Tom Rosensteil merumuskan 9 elemen jurnalisme.

1. Journalism First Obligation is to The Truth

Kewajiban utama dalam kegiatan jurnalistik adalah kebenaran. Tidak boleh asal dan sembarangan. Tidak ditambah ataupun dikurangi. Bukan Gosip dan kabar burung.

2. Its First Loyality is to Citizens

Jurnalisme loyal kepada publik. Mengutamakan kebutuhan masyarakat luas. Bukan kebutuhan pribadi atau kepentingan media belaka.

3. Its Essence is a Discipline of Verification

Jurnalisme berarti disiplin verifikasi. Segala bentuk fakta dan data yang kita peroleh, harus diverifikasi ulang. Tidak boleh langsung percaya begitu saja. Cek ulang itu harus dilakukan terlebih dahulu.

4. Its Practitioners must Maintain an Independence from Those They Cover

Para praktisinya harus menjaga independensi terhadap sumber berita. Privasi sumber berita harus tetap dijaga. Masih inget kasus Kick Andy yang mewawancarai Mayor Alfredo kan?

Andy F. Noya tidak bisa memberitahukan keberadaan Mayor Alfredo, walaupun saat itu Alfredo menjadi buronan yang paling dicari. Baca disini.

5. It must Serve as an Independent Monitor of Powers

Selalu bersikap sebagai pemantau kekuasaan. Sebagai kontrol pemerintah dan sebagainya.
6. It must Provide a Forum for Public Criticm and Compromise

Menyediakan ruang pubik untuk mengkritik maupun mendukung masyarakat. Untuk menampung aspirasi warga masyarakat. Kalau di koran, bentuknya bisa seperti Surat Pembaca, Opini, dan lain-lain.

7. It must  Strive to make Significant Interesting and Relevan

Berupaya membuat hal yang penting, menarik dan relevan. Agar apa yang disampaikan bisa dimengerti oleh masyarakat. Tidak bertele-tele, langsung ke poin yang dimaksudkan. Menarik, sehingga masyarakat mau membacanya.

8. It must Keep The News Comprehensive and Proportional

Menjaga agar berita selalu komprehensif dan proporsional. Tidak hanya melihat dari satu sisi saja, tapi ke semua pihak yang terlibat. Jika ada korban dan pelaku, maka tanya keduanya. Ditambah juga dari praktisi dan pihak terkait.
9. Its Pratitioners must be Allowed to Exercise Their Personal Consciense

Para praktisinya, alias para jurnalis, bekerja menggunakan hati nurani. Penyampaian berita, pada dasarnya juga ditentukan oleh hati nuraninya.

(sumber: Kompetensi Wartawan, Dewan Pers.

Dengan penambahan penjelasan dari gw ^^)

Produksi Jurnalisme TV Tim Kami, Tim Hebaat..!!

Produksi Jurnalisme TV Tim Kami, Tim Hebaat..!!

Hari ini di Lab TV, tim kami tim hebat, menyelesaikan proses syuting anchor.. Gradak gruduk-grasak grusuk, heboh sendiri ngerjainnya. Pertama gw rapihin dulu skripnya, Chaca bantuin ngetik, Aglar beli kaset, sementara Medi, Nuga dan yang Bonte pasang alat-alat. Arni berdandan, ada Tomo yang beberapa saat hadir membantu kami. Hehe.

Bla, bla, bla..

Akhirnya kita syuting deh. Kita bikin program berita 30 menit, tapi syutingnya dari jam 6an sampe setengah 10 malem. Haha, ga kebayang kalo live gimana. Banyak take ulang, banyak foto-foto ga jelas, beberapa kali ketawa-ketawa, mulai kelaperan, pergi berguguran dalam pertempuran karna urusan lain, dan dan dan dan, tapi keseluruhan Alhamdulillaaaah, lancaaaar. Tinggal besok nih digeber buat editing.

Pagi-pagi rencananya mau mangkal di rumah Medi. Sampe beres, dan harus beres bo!

Masih setengah jalan nih,

Ini sebagian dari aktivitas kita, pas syuting tadi sore. Gada Bonte karna dia balik duluan.

*Arni siap di posisi*

*Nuga kamera kiri*

*Medi kamera kanan*

*Gw memantau dari tengah*

*Lagi-lagi gw, hehe piiss*

*Chaca nyelip di bawah sebagai operator dan make up anchor, =)*

*Chaca Arni*

*Program director dadakan*

*Bareng calon anchor TVOne, lol*

Semoga dengan proses berdarah-darah kita ini,  hasilnya bisa maksimal. Amiiiiiiiiiinn..

Pray for us ^^

Selangkah lagi beres dan berlanjut ke produksi cetak, dan setelah ituuu… Juntai juntai.. I’m comiiiing!!! Yes yes!! Hwaitiing!!

Veronica Guerin

Veronica Guerin

(sumber: google.com)

Sebelumnya, silahkan liat dulu cuplikan film ini. Gw unduh dari youtube.

Ini diangkat dari kisah nyata seorang jurnalis asal Irlandia, Veronica Guerin (1959-1996). Dia dengan idealismenya berusaha membongkar sindikat narkoba, yang sebenernya membahayakan dirinya. Berbagai cara dilakukannya untuk melakukan penyelidikan dan mendapatkan fakta yang sebenarnya.

Masalah bukan tidak pernah ada, Veronica bahkan sempat hampir dibunuh oleh orang-orang yang merasa terancam dengan tulisannya. Veronica tidak jera, malah semakin giat dalam melakukan investigasi. Tentu aja ini membuat Ibu dan suami Veronica merasa khawatir.

Veronica pun akhirnya dibunuh dalam sebuah perjalanannya. Dia ditembak dengan tragisnya.

Bagaimana letak permasalahan yang sebenarnya? Apa yang terjadi selanjutnya? Dan apakah usaha Veronica selama ini berhasil?

Itu semua bakal lo dapetin, setelah menonton film ini. Veronica Guerin.

Cate Blanchett membawakan perannya dengan apik. Apalagi wajahnya disetting benar-benar  mirip dengan Veronica.

Ini wajah asli Veronica Guerin (sumber: google.com)

***

Film ini gw tonton waktu gw di tingkat 1, di Jurnalistik Fikom Unpad. Yaah, setiap anak tingkat 1 pasti nonton ini. Film wajib kita. Hehe.

Dosen Pengantar Ilmu Jurnalistik, Pak Dandi, mutarin film ini untuk kita apresiasi. Saat itu gw merasa, Waaawww, Jurnalis itu KEREN banget.  Memacu gw untuk “gila-gilaan” di jurusan ini. Yaaahh, tanggung jawabnya besar banget, dan ada pertaruhan antara kebenaran dan kebohongan, fakta dan data, bahkan hidup dan mati.

Film ini bener-bener menjadi inspirasi buat kami anak Jurnalistik. Tapi buat lo yang bukan anak Jurnal, film ini tetap gw rekomendasikan. Baguus dan menggugah. Membuat lo merenungkan, apa aja yang udah kita lakukan untuk mengungkapkan kebenaran. Pernahkah?

Atau jangan-jangan kita malah tidak peduli dan menutupinya? Cuma pribadi kita saja yang tahu.

Ada banyak hikmah dan pelajaran buat gw secara pribadi setelah menonton film ini. Wartawan bukan pekerjaan ecek-ecek. Yang cuma dengan modal pulpen, notes dan kartu press ga jelas, lo berusaha memberondong narasumber dengan pertanyaan ga mutu lo.

Yaa, ini membuat gw jadi pengen terus buat belajar dan semakin rajin. Semangat!!!

Satu lagi yang menjadi rekomendasi!! ^^